Berandalan Vs Gadis Berhijab

Berandalan Vs Gadis Berhijab
Adik Yang Manis


__ADS_3

Setelah dokter memastikan kalau kondisi Jati bisa pulang dan semua peralatan medis sudah dilepas dari tubuh Jati. Mereka pun langsung melakukan perjalanan pulang.


Bahagia itu yang pastinya Jati rasakan.


"Selamat datang Abang." Noah dan Nara pun menyambut Jati di depan pintu dengan berjingkrak bahagia karena  selama satu minggu dirawat di rumah sakit, dan mereka hanya melakukan komunikasi lewat sambungan telepon.


Noah mengembangkan senyum bahagia ketika dua adiknya yang biasanya nyebelin kali ini sedikit hangat bahkan menyambut dirinya pulang dari rumah sakit.


"Qara kamu bawa Jati masuk ke kamarnya yah." Iren mengusap pundak Qara dengan lembut. Memang sejak ia menikah dengan Jati. Qara pun melihat kalau Iren jauh lebih hangat. Hanya Thomy yang tidak ada perubahannya malah Qara melihat kalau Thomy semakin tidak suka dengan dirinya. Entahlah padahal Qara sudah berusaha bersikap baik dengan papah mertuanya. Namun laki-laki paruh baya itu rupanya tidak menghargai sedikit pun usaha Qara.


"Sayang, untuk sementara waktu selama kamu masih sakit, Mamah pindahkan kamu di kamar tamu. Tidak-apa-apa yah. Nanti  kalau sudah sembuh kamu bisa kembali ke kamar kamu." Kali ini Iren gantian mengusap Jati dengan lembut.


"Nara, bantu Kak Qara merawat Abang yah. Noah kamu juga jangan ajak Abang kamu berantem terus. Abang butuh bantuan dukungan dari kalian agar Abang cepat sembuh." Iren gantian kali ini menatap Nara dan Noah.


"Iya Mah."


"Siap Mah."


Nara dan Noah pun menjawab dengan bersamaan.


Tittttt... Tiittt...


Klakson dibunyikan oleh Thomy. Iren menatap suaminya yang masih di atas mobil.

__ADS_1


"Kalau gitu Mamah kerja dulu yah. Kalian jaga diri di rumah. Untuk kamu Qara kalau butuh sesuatu bisa tanya pada Nara, Noah, Jati atau asisten rumah tangga jangan malu dan sungkan mereka baik kok."


Tanpa menunggu lama Iren pun melanjutkan untuk kerja padahal Qara belum menjawab ucapan mamah mertuanya. Qara pun bersiap untuk mendorong kursi roda Jati, tetapi Nara langsung menahannya.


"Bira yang dong Nara aja Kak." Nara langsung menggantikan posisi Qara, dengan semangat gadis berusia tiga belas tahun itu pun langsung mendorong kursi roda Jati menuju kamar tamu yang untuk sementara menjadi kamar untuk Jati dan juga Qara. Sedangkan Qara berjalan di samping Nara.


"Tumben kamu baik Dek," ledek Jati noel tangan Nara. Biasanya anak kelas tujuh itu sangat manja dan bawel. Maklum anak bungsu dan cewek satu-satunya.


"Ya harus dong Bang, kasihan Kak Qara pasti cape banget ngurus abang yang bawel," ledek Nara dengan berkelakar dengan renyah.


"Yeh, mana ada Abang bawel, di rumah ini ratunya bawel cuma kamu, dan tidak ada tandingannya."


Kini mereka sudah sampai di kamar tamu. Tiga orang itu pun masuk ke kamar tamu di susul oleh Noah di barisan paling belakang. Anak usia enam belas tahun itu langsung duduk di sofa kamar yang sangat luas.


"Kak Qara, kenapa mau menikah sama Abang sih dia kan lagi sakit?" tanya Noah dengan nada yang cukup dingin.


"Yeh suka-suka lah. Bukanya tadi Mamah bilang agar gue juga bantu jaga loe," balas Noah tidak mau kalah dengan Jati.


"Loe di sini bukan bantuin malah berisik. Balik kamar kih berisik gue mau istirahat." Jati pun kembali mengusir Noah.


"Gak mau, gue juga mau numpang istirahat di sini." Noah malah merebahkan tubuhnya di atas sofa yang empuk.


Jati yang kesal pun langsung melempar bantal pada adik nomor duanya tetapi nggak kena.

__ADS_1


"Udah ah A, jangan berantem lagi. Biarin Noah mau tidur di sini. Toh tidak ganggu." Qara pun mencoba menenangkan suami dan adik iparnya yang baru ketemu pun langsung berantem.


"Kata siapa dia tidak ganggu, jelas sangat ganggu."


"A Jati mau duduk di sini aja atau pindah ke tempat tidur?" Qara mengalihkan obrolan agar Noah dan Jati tidak berantem terus.


"Tempat tidur aja. kelamaan duduk sakit banget punggungnya."


"Nara, Kakak mita tolong tumpuk bantal sampai tiga susun yah," titah Qara pada adik iparnya, tanpa menunggu lama Nara pun langsung mengikuti apa kata Qara. Menumpuk bantal sampai tiga susun.


"Qara berdiri di hadapan Jati tubuhnya mengangkat tubuh jati dari depan. Kedua tangannya siap memapah Jati dengan masuk ke bawah ketiak dan bersiap mengangkat Jati dengan kuat.


"Udah siap?" tanya Qara, dan dengan pelan Jati mengangguk.


"Apa Nara bisa bantu Kak?" tanya Nara yang melihat kalau Jati berapa saat meringis.


"Tidak usah Dek, kakak udah biasa melakukanya," balas Qara, dan benar saja dengan perlahan tubuh Jati sudah berpindah dari kursi Roda ke atas ranjang yang cukup tinggi.


"Noah, harusnya loe yang angkat Abang, badan loe kan besar, dan loe cowok. Kasih Kak Qara dia badannya kecil dan tenaga cewek nggak sebesar cowok," protes Nara menatap Noah yang malah hanya melihat aja.


"Tanya ada sama abang loe, dia mau nggak gue bantu," balas Noah yang memang selalu berantem terus.


"Tanya sama abang loe juga, dia ikhlas nggak bantu abangnya," balas Jati berbicara pada Nara, tapi ditunjukan untuk Noah.

__ADS_1


"Udah sih, kalian itu berantem terus, denger kan tadi kata Mamah apa, jangan kebiasaan berantem lagi." Nara yang jadi penengahnya sekarang. Gadis tiga belas tahun itu sudah jauh lebih bijaksana sekarang.


#Denger tuh Jat, Noah jangan berantem terus...


__ADS_2