
Hari terus berganti, Qara benar-benar membuktikan ucapanya. Ia merawat Jati dengan sangat baik, bahkan benar-benar sudah sangat mirip dengan seorang perawat. Jadwal terapi yang Jati jalani pun berjalan dengan lancar. Jati benar-benar dilayani dengan sangat baik oleh Qara.
Pasangan pengantin baru itu justru tidak terlihat seperti pasangan yang sudah menikah. Tidak ada keromantisan yang terjadi di antara mereka. Qara pun setiap terjadi kontak fisik misalkan membersihkan tubuh suaminya selalu menunduk atau bahkan memejamkan matanya. Ia selalu menghindar kalau Jati ingin melakukan kiss atau justru sekedar pelukan.
Alasan demi alasan Qara berikan agar Jati tidak memaksanya untuk melakukan kontak fisik yang mungkin bisa membuat iman mereka goyah. Qara tahu namanya pasangan lawan jenis apalagi sudah sah menjadi pasangan suami istri pastinya akan ada rasa untuk memiliki seutuhnya. Dia juga tidak bisa munafik. Qara juga dalam hati kecilnya ingin merasakan hubungan layaknya pasangan suami istri saling romantis berbagi pelukan dan hal-hal romantis lainya, tetapi wanita berhijab itu memegang teguh janjinya.
Ke dua orang tua Jati juga hampir setiap hari datang untuk menemui Jati, tetapi tidak akan lama, karena mereka akan kembali ke kantor. Datang hanya untuk mengantarkan makanan untuk Qara dan mengecek perkembangan Jati.
"A Jati, tadi dokter bilang kalau A Jati sudah boleh pulang besok." Qara yang baru dari ruang dokter membawa kertas hasil pemeriksaan Jati terakhir dan semuanya sudah ok, hingga Jati keesokan harinya sudah boleh pulang, dan akan dilanjutkan dengan rawat jalan.
__ADS_1
Jati pun mengulas senyum bahagia. Tentu ia sangat senang karena hampir satu minggu di rumah sakit sangat membuat ia sangat suntuk. Ia hanya ke luar kamar di pagi hari untuk berlatih berjalan, dan juga berjemur, selebihnya hanya di dalam kamar. Qara sendiri lebih banyak membaca novel online, dan membaca al-quran.
"Kamu serius?" tanya Jati memastikan kalau ucapan Qara tidak bohong.
"Ya masa Qara bohong. Lagian Qara seneng banget akhirnya bisa pulang juga A Jati dari rumah sakit ini. Bosan kelamaan di rumah sakit," bisik Qara.
"Iya lah sama, aku juga bosan banget kelamaan di rumah sakit. Terima kasih yah itu semua karena kamu yang sudah merawat aku dengan baik jadi aku cepat sembuh," ucap Jati dengan pandangan mata saling bertemu dengan Qara.
"Qara ...." Jati yang semakin hari semakin heran dengan gerak gerik Qara pun akhirnya memberanikan diri untuk mencoba ia mencari tahu dengan apa yang sebenarnya terjadi.
__ADS_1
"Iya, apa ada yang bisa dibantu A?" tanya Qara dengan serius.
"Kamu itu kenapa sih seperti menghindar? Apa ada yang aku tidak tahu?" tanya Jati dengan suara yang serius dan berharap Qara bisa terbuka dengan apa yang sebenarnya terjadi.
"Menghindar kenapa?" tanya Qara dengan suara lirih. Meskipun Qara tentu tidak terlalu bodoh hingga tidak tahu maksud arti dari ucapan suaminya itu. Qara tentu juga melakukan itu semua sadar.
"Pernikahan kita aneh Qara? Masa dari sejak kita nikah aku pegang tangan kamu dan menatap kamu dengan tatapan yang serius pun kamu langsung menghidar. Bahakn sekedar ciuman kita tidak pernah. Pernikahan apa ini?" tanya Jati dengan menjabarkan apa yang ia maksud.
Qara menunduk sangat merasa bersalah. Ia tahu bahwa ia sudah sangat berdosa, tetapi ia juga takut kalau melanggar perjanjian selain dosa, adik dan orang tuanya dalam bahaya tentunya. Sehingga Qara memilih berdosa pada Jati saja dari pada mengorbankan keluarganya.
__ADS_1
Bersambung....
...****************...