Berandalan Vs Gadis Berhijab

Berandalan Vs Gadis Berhijab
Syarat dari Qara untuk Jati


__ADS_3

Qara menyenderkan tubuhnya di dinding, membuang rasa kesal dan dongkol pada kedua calon mertuanya. Ia hanya manusia biasa yang diperlakukan seperti itu juga bisa marah juga. Mentang-mentang punya uang dan segalanya dengan mudahnya mengukur semuanya hanya dengan materi. Bukan Qara tidak butuh uang tapi juga tidak seperti itu cara memelelakuknya.


"Ya Tuhan, kenapa memperjuangkan cinta yang halal sangat sulit, ketika sudah dapat restu itu, pernikahan kami hanya sandiwara, mau dibawa ke mana jalan hidupku ini?" batin Qara, dia sendiri masih bingung dengan keputusanya. Satu sisi dia tidak bisa meninggalkan Jati yang sedang sakit, satu sisi dia juga tidak bisa mengorbankan keluarganya. Qara sendiri tidak yakin apakah dia bisa menahan seorang suami yang ingin melakukan hubungan suami istri, menolak dengan alasan-alasan setiap saat suaminya meminta.


Cukup lama Qara menenangkan pikiranya sebelum ia masuk ke ruangan Jati lagi. Setelah perasaanya cukup tenang Qara pun langsung masuk kembali ke ruangan tentu dengan wajah seperti biasanya, senyum tipis terlihat dari wajah Qara begitu ia masuk ke ruangan Jati.


"Ngomong-ngomong kamu dari mana? Kan di dalam ada toilet," tanya Jati, begitu Qara masuk sembari pandanganya dialihkan ke toilet yang ada di ruangan rawatnya.


Deg!! Qara lupa kalau alasanya tadi ke toilet. Qara tidak langsung menjawab pertanyaan Jati ia justru kembali mengambil makanan yang tadi sempat di simpan di atas nakas. Ia bukan tidak mau menjawab, tetapi Qara sedang mencari jawaban yang tepat, kenapa dia tidak ke tolet yang ada di dalam ruangan.


"Tadi Qara beli pem-balut dulu, karena Qara pikir datang bulan, sejak tadi perutnya melilit, tenyata bukan datang bulan," balas Qara dengan menyuapkan makanan Jati kembali.


"Kamu tidak sedang berbohong kan?" Tanya Jati dengan tatapan penuh selidik.


Qara hanya mengulas senyum tipis."Menurut A Jati, apa untungnya kalau Qara berbohong, tidak ada untungnya bukan? Qara tidak memiliki untung apa-apa. Udah yah, jangan berpikir yang macam-macam lagi. Percayalah Qara tidak akan berselingkuh dengan pejaga kantin," kelakar Qara, agar Jati tidak marah lagi dan memberikan tatapan yang mengancam.


"Awas saja kalau tukang penjaga kantinya genit, aku patahkan tulangnya," jawab Jati tetap dengan mode sok jago.


Qara pun terkekeh mendengar ucapan Jati.


"Apa Qara tidak salah dengar, badan A Jati aja penuh perban kaya gini, mana bisa mau matain tulang orang."

__ADS_1


Mereka pun terus terlibat obrolan yang santai, dengan sesekali tertawa dengan renyah ketika ada cerita yang lucu. Namun tawanya nampaknya tidak berpengaruh dengan Dewa yang masih pulas merangkai mimpi.


"A Jati, kalau kita nikah apa A Jati siap?" tanya Qara tiba-tiba.


Uhukkk ... Uhukkk .... sontak saja Jati langsung tersedak kaget mendengar ucapan Qara.


"Apa aku tidak salah dengar?" tanya Jati dengan antusias, dan senyum bahagia terlihat di wajah Jati. Ya celas Jati mau nikah dengan Qara emang itu yang Jati inginkan dari awal juga.


Qara memberikan anggukan. "Qara serius dengan apa yang Qara katakan, Qara tidak berbohong. Izinkan Qara merawat A Jati, mungkin ini yang Qara bisa lakukan untuk membuktikan cinta kita. Lagi pula mana Qara tega dan ikhlas, kalau ada wanita lain yang merawat A Jati, meskipun A Jati tidak menyukainya, atau bahkan wanita itu adalah wanita yang sudah tua, tapi Qara tetap tidak ridho."


Mendengar ucapan Qara, Jati justru semakin terharu dengan ucapan sang kekasih. "Kamu serius mau merawat aku, aku ini bahkan untuk jalan harus dengan kursi roda, nanti kamu malah cape?" tanya Jati yang tidak tega dan merasa bersalah, karena kecerobohanya ia justru dihadapkan dengan kehidupan yang seperti ini. Menjadi pesakitan yang entah kapan sembuhnya.


"Jadi kamu tidak menyesal kalau menikah dengan aku, dalam kondisi fisik aku yang seperti ini?" tanya Jati sekali lagi.


Qara membalas dengan gelengan kepala. "Tidak, Qara jauh lebih senang kalau Qara yang merawat A Jati, izinkan Qara untuk menjaga dan merawat A Jati untuk membuktikan cinta Qara," balas Qara dengan tatapan yang serius.


"Kalau gitu, aku akan bilang pada Mamah, dan Papah, kamu bilanglah pada Abah, tapi ingat kamu jangan menyesal yah, menikah dengan laki-laki cacat," ucap Jati sekali lagi, dan lagi-lagi Qara menjawab dengan yakin.


"Sebelumnya Qara sudah bertanya pada Alloh, dan Qara yakin A Jati adalah jodoh Qara, jangan kecewakan Qara yang ingin memperjuangkan cinta kita."


Jati pun langsung mengembangkan senyumnya. Dari sekian hari mungkin ini adalah hari yang paling bahagia tidak ada sekalipun dalam hidup Jati, kalau dengan kejadian kecelakaan ini justru Qara mau menikah dengan dirinya.

__ADS_1


"Terima kasih Qara, aku nggak tahu harus mengucapkan rasa terima kasih pada kamu dengan cara apa? Aku sangat terharu dengan perjuangan kamu. Aku janji tidak akan mengecewakan perjuangan kamu. Aku pun akan sama-sama berjuang untuk restu yang akan kami kantongi."


Qara kembali mengagguk dan tersenyum getir, karena ia sudah tahu untuk mengantongi restu itu tidak mungkin.


"Qara percaya dengan A Jati, Qara sangat percaya kalau A Jati adalah laki-laki yang baik. Tapi apa Qara boleh minta syarat pada A Jati?" tanya Qara dengan hati-hari. Mumpung Dewa belum bangun, Qara pun harus segera menyampaikan syaratnya.


Jati mengernyitkan keningnya, bingung mungkin dengan apa yang Qara ucapkan.


"Syarat? Kalau boleh tahu syaratnya apa? Mungkin saja aku bisa mempertimbangkanya?" tanya Jati dengan serius.


"Qara ingin selama kita belum mendapatkan restu terutama dari orang tua A Jati, Qara ingin kalau A Jati dan Qara tidak melakukan hubungan suami istri."


Deg!! Jati nampak tidak setuju. "Kenapa kaya gitu?" tanya Jati heran dong, masa sudah menikah tidak bisa nunu nana apa tidak pusing.


"Qara ingin semua yang kita jalani atas ridho dari orang tua agar semuanya berkah dan barokan," balas Qara dengan yakin.


#Nah loh Jati sanggup gak?


Bersambung....


...****************...

__ADS_1


__ADS_2