
Jati mengangkat bibirnya sebelah, ketika mendengar ucapan Qara. " Kamu bilang melayani? Kalau mau melayani suami bukan kaya gini Qara, tapi seperti ini." Jati pun langsung beraksi, menarik tubuh Wara yang duduk di sampingnya dan mencuri ciuman dari bibir istrinya yang masih sangat polos.
"Jati! Apa yang kalian lakukan ....!" Suara yang sangat dikenal membuat ciuman Jati terpaksa dihentikan. Sedangkan Wara dari tadi hanya bisa diam, kaget. Dan bingung ini adalah ciuman pertamanya.
Jati pun melepaskan ciuman pada bibir Qara. Ketika suara papahnya langsung menggelegar. Qara pun langsung mengusap bibirnya dan menunduk, wanita itu pun langsung pergi ke kamar mandi. Ia duduk di atas closed, dan memejamkan matanya bersiap akan menghadapi masalah yang sangat besar. Qara tidak berani keluar ia takut kalau Jati akan bertengkar dengan Thomy. Dan Thomy akan melukai keluarganya seperti yang pernah Thomy katakan.
Dari nada bicaranya Qara sudah sangat tahu kalau Thomy itu sedang dilanda kemarahan. Itu sebabnya ia didalam kamar mandi langsung ketakutan. Telinga Qara pasang untuk mendengarkan apa yang kiranya terjadi di luar sana.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Thomy.
Qara yang ada di dalam kamar mandi tahu betul dari nada bicara Thomy kalau laki-laki paruh baya itu sedang marah besar gara-gara memergoki anaknya berciuman.
Jati bukanya takut mendengar dana bicara Thomy justru laki-laki berparas tampan itu pun mengulas senyum dengan sangat manis. "Papah pasti tahu apa yang sedang Jati lakukan, ciuman. Wajar kan?" jawab Jati dengan nada mengejek.
__ADS_1
"Pasti Qara yang menggoda kamu," balas Thomy dengan sorot mata yang makin menunjukan kemarahannya.
"Kenapa harus marah, Qara istri Jati, dan Jati yang mengajaknya duluan. Bukanya sudah sangat wajar sepasang suami istri melakukan ciuman, bahkan berhubungan badan sangat wajar. Itu juga salah satu tujuan pernikahan kan. Lalu apa yang membuat Papah marah?" Jati kembali membuat Thomy, seperti mendidih darahnya.
Sedangkan Jati semakin yakin kalau ada yang tidak beres diantara papahnya dan juga Qara. "Aku sepertinya harus sering-sering pancing Papah, dan aku harus cari tahu sendiri apa yang sebenarnya terjadi antara Papah dan juga Qara. Yah, tidak mungkin Qara langsung pergi begitu Papah datang dan memergoki kita sedang ciuman. Aku tahu Qara juga menginginkan hal itu," gumam Jati dalam hatinya.
"Udah lah Pah, benar apa yang dikatakan oleh Jati. Sekarang kita siap-siap pulang saja yah Sayang." Iren mencoba melerai Thomy dan Jati. Memang sudah tidak aneh ketika dua laki-laki itu saling bersitegang. Iren adalah orang yang selalu datang untuk menjadi penengahnya.
"Mamah akan panggil dokter untuk periksa kamu dan kita pulang sekarang." Iren segera mengayunkan kakinya untuk memanggil dokter. "Oh, iya kamu panggil Qara Sayang. Dia jangan di kamar mandi terus. Bantu kamu bersiap." Iren kembali membalikan badanya dan meminta Jati memanggil Qara.
Sedangkan Thomy pun memilih duduk di sofa melihat kesibukan asisten rumah tangga merapihkan barang-barang Jati.
"Bi, tolong panggilkan Qara di dalam kamar mandi yah," ucap Jati, sengaja laki-laki itu meminta asisten rumah tangga memanggil Qara dengan suara yang kencang, tujuannya tentu agar Thomy mendengarnya. Yah, Jati memang ingin memancing kalau Thomy akan mengatakan apa yang seharusnya ia ketahui. Menjadi anak dari Thomy sudah hampir dua puluh tahun tentu Jati sangat paham dengan sifat papahnya.
__ADS_1
"Sayang kamu kok lama banget di dalam kamar mandi ngapain aja," tanya Noah, sengaja banget malah panggil Sayang. Qara pun hanya bisa menghirup nafas dalam, wanita itu sudah membayangkan kemarahan dari Thomy.
"Tadi tiba-tiba mules A," jawab Qara sembari membantu Bibi beres-beres perabotan yang akan di bawa pulang.
"Sayang, udah sini tangan bantu kerjaan seperti itu. Kamu itu istri aku bukan pembantu jadi duduk dan temani aku ngobrol." Jati mengulas senyum ketika melihat reaksi papahnya yang tidak suka mendengar ucapan Jati yang cukup mesra pada istrinya.
Karena tidak ingin membuat masalah lagi, Qara pun nurut dengan ucapan Jati. Qara juga merasa kalau Jati sudah curiga sesuatu buktinya nada dan cara berbicaranya Jati sudah sangat berbeda.
Qara bisa bernafas lega karena baru juga duduk dokter dan perawat sudah datang, mereka siap membuka selang infus di tangan Jati.
Sehingga ia tidak harus berada di situasi yang sulit. Apalagi Wara tahu kalau Thomy dari tadi memperhatikannya terus.
...****************...
__ADS_1