Berandalan Vs Gadis Berhijab

Berandalan Vs Gadis Berhijab
Firasat Buruk Qara


__ADS_3

"Astaghfirullahhaladzim..." Qara tiba-tiba terbangun dengan perasaan yang tidak tenang.


Gadis usia dua puluh lima tahun itu pun duduk menatap bilik rumahnya. Jam di bilik rumah menunjukan pukul empat. Tidak biasanya ia tidur sangat tidak tenang, dari semalam Qara merasa kalau dirinya selalu gelisah dan juga tidurnya beberapa kali terbangun dan ia selalu memimpikan Jati.


Tangan Qara mengambil ponsel yang ia letakan di meja samping tempat tidurnya. Kening wanita cantik itu menggerut hebat ketika dalam ponselnya ada banyak panggilan dari Jati. Memang akhir-akhir ini ia sengaja menghindar dari Jati. Seperti yang dikatakan oleh Thomy ia memang meminta Qara agar meninggalkan anaknya, dan Qara yang memang dari awal merasa kalau dirinya tidak pantas dengan Jati pun menuruti apa kata Thomy, perlahan Qara menghindar dengan halus agar Jati tidak curiga dengan ia yang akhir-akhir ini sedang sibuk.


Dengan perasaan yang tidak karuan dan juga tangan yang bergetar Qara pun membuka pesan yang Jati kirimkan. Belum juga ia membaca pesan-pesan dari Jati, tetapi hati Qara sudah sakit, ia sangat yakin kalau Jati tahu dengan apa yang dia lakukan akhir-akhir ini. Pasti Jati merasa kalau Qara memang menghindar.


Mata Qara yang awalnya terpejam karena tidak kuasa membaca pesan dari Jati pun perlahan dibuka. Dan dengan perasaan yang sudah sedikit tenang Qara membaca pesan-pesan dari laki-laki yang tengah memperjuangkannya.


[Aku sudah tahu apa yang papahku lakukan pada kamu, aku minta tetaplah bertahan. Jangan pernah menyerah meskipun Papah meminta kamu menyerah.]


[Qara, aku sangat mencintai kamu. Tetaplah bertahan untuk aku membuktikan bahwa kamu adalah wanita yang terbaik untuk aku]


[Pertama melihat kamu, aku sudah yakin kalau kamu adalah jodoh aku. Aku di sini sedang berjuang untuk restu itu. Tolong jangan menyerah. Tunggu aku mendapatkan restu itu. Qara tunggu aku, dan kamu jangan menyerah gara-gara ucapan Papah.]

__ADS_1


[Aku marah dengan takdir yang sangat jahat.]


[Aku benci hidup di dunia ini, kalau aku tidak hidup bersama dengan kamu.]


[Kamu adalah pelangi untuk hidupku yang sudah lama tidak berwarna.]


[Kata orang Tuhan itu maha adil. Ia menciptakan segala sesuatu dengan menjadikan pasangan yang indah. Ada siang, dan malam. Rimbun berpasangan dengan gersang. Ada suka ada juga duka. Hati ku justru berontak, menghadapi kenyataan yang tidak sesuai dengan harapan.Tafakur ini teramat dangkal, menjegal kedalam kalbuku. Maafkan aku Tuhan, aku terlalu lemah menghadapi hidup ini. Aku terlalu menginginkanya hingga aku tidak bisa hidup tanpa bersanding denganya. Tuhan maafkan aku...]


Itu adalah serangkaian pesan yang dikirimkan oleh Jati. Tanpa terasa air mata Qara pun jatuh menetes ketika ia membaca pesan-pesan dari Jati. Hatinya dirundung penyesalan. Harusnya ia tetap bertahan dan tidak menghidar dari Jati, harusnya tidak mengikuti apa kata Thomy. Harus nya tetap percaya dan menunggu hingga Jati datang untuk membuktikan perjuanganya.


"Ya Tuhan, apa yang terjadi dengan A Jati. Lindungi A Jati Tuhan." Qara pun langsung beranjak dari duduknya untuk segera ke kamar mandi dan melanjutkan menjalankan kewajibanya, dan melangitkan doa untuk Jati dan dirinya.


*****


Mendengar benturan yang sangat keras Dewa pun langsung lari. Entahlah, ia sangat yakin kalau ada sesuatu terjadi dengan temanya. Tubuh Dewa langsung kaku seolah kehilangan tenaga ketika melihat motor Jati sudah hancur menabrak pembatas jalan.

__ADS_1


"Jat, loe nggak apa-apa kan?" gumam Dewa dengan sekuat tenaga ia berjalan menghampiri tubuh yang tergeletak di atas aspal.


Mobil yang memang disediakan untuk berjaga takut kalau terjadi apa-apa pun langsung menghampiri kerumunan orang-orang yang  melihat dan membiarkan tubuh Jati di atas aspan tanpa pertolongan.


"Tolong bantu angkat ke mobil," jerit Dewa ketika melihat Jati tidak dalam keadaan baik-baik saja, bahkan motor yang digunakan untuk berlomba pun hancur. Begitupun tubuh Jati tidak bisa dikatakan baik-baik saja.


Dewa membuka helm full face, di mana Jati masih sadar dan meringis kesakitan, tetapi ia juga tidak bisa dikatakan sepenuhnya sadar. Setelah Dewa meminta bantuan berbondong-bondong mengangkat tubuh Jati ke dalam mobil dan langsung melaju dengan kecepatan tinggi.


"Jat, loe harus kuat, loe harus buktikan kalau nama Jati itu kuat. Jangan bikin malu nama kamu." Dewa mengusap tangan Jati yang penuh darah. Ingin marah, ingin memaki, dan meluapkan kekecewaan, tetapi Dewa tahu ini bukan waktu yang tepat. Ia marah juga dengan anggota yang lain yang seperti menghindar ketika kejadian seperti ini. Hanya Dewa yang mengurus Jati ke rumah sakit. Meskipun Dewa tahu teman-temanya di lokasi balapan juga sedang berusaha menyembunyikan laka yang Jati alami.


Ini adalah balap ilegal sehingga semua yang terjadi dengan Jati diusahakan tidak bocor sampai polisi.


"Dok, tolong teman saya Dok..." Dewa langsung berlari meminta dokter yang tengah berjaga dengan perawat membantu Jati untuk mendapatkan pertolongan pertama.


Selama Jati mendapatkan penanganan, Dewa pun hanya bisa bolak balik dengan pikiran yang kalut. Ia bingung apakah harus menghubungi ke dua orang tua Jati atau tidak, tetapi kalau tidak, apabila terjadi apa-apa dengan Jati pasti kedua orang tua Jati akan menyalahkannya. Tetapi kalau mengabari ke dua orang tua Jati, itu tandanya ia juga harus siap menerima kemarahan orang tua Jati karena dirinya yang gagal menahan Jati untuk tidak ikut balapan liar saat pikiranya sedang banyak masalah.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2