Berandalan Vs Gadis Berhijab

Berandalan Vs Gadis Berhijab
Kemarahan Qara


__ADS_3

Pandangan Qara terus menatap ke dalam ruangan Icu, tak henti-hentinya wanita berhijab itu melangitkan doa. Ia pun terus bersolawat berharap agar Jati segera sadar.


"Kamu tenang saja, Jati pasti akan baik-baik saja," bisik Dewa yang tiba-tiba berdiri di samping Qara.


"Amin." Qara tidak menanggapi lebih ucapan Dewa, dalam hatinya tidak ada henti-hentinya berdoa agar Jati tidak kenapa-kenapa sehingga tidak fokus dengan ucapan Dewa.


Tidak lama berselang dokter pun ke luar. Qara dan Dewa berjalan dengan tergesa menghampiri dokter.


"Dok, apa yang terjadi dengan Jati?"


"Dok, pasien baik-baik saja kan?"


Qara dan Dewa meleparkan pertanyaan yang hampir bersamaan.


"Kalian tenang saja. Pasen sudah melewati masa kritisnya, dan sekarang sudah sadar ...."


"Alhamdulillah." Qara langsung mengucapkan hamdalah dengan suara yang keras. Laki-laki yang berpakaian jas putih pun sampai tersenyum dan mengeleng-gelengkan kepalanya melihat reaksi Qara. Begitupun dengan Dewa yang terlihat sangat bahagia dengan reaksi Qara yang tidak semenyedihkan tadi.


"Ngomong-ngomong apa di sini ada yang bernama Qara?" tanya Dokter.


"Saya." Lagi, Qara nampak sangat antusias mengangkat jari telunjuk dan menjawab dengan semangat.


Kembali dokter mengulas senyum. "Anda dicari oleh pasien. Silahkan masuk dan berikan dukungan yang positif untuk pasien." Dokter pun mengizinkan Qara masuk ini adalah kali pertama ada keluarga pasien yang diizinkan masuk setelah masa kritis Jati terlewati.

__ADS_1


"Anda serius Dok?" tanya Qara dengan berkaca-kaca.


"Yah, silahkan masuk. Mungkin pasien menunggu Anda."


Qara pun langsung menatap ke arah Dewa, dan Dewa pun tidak kalah memberikan anggukan kepala, menandakan ia juga memberi izin agar Qara masuk terlebih dahulu.


"Masuklah Qara, Jati butuh dukungan dari kamu." Dewa pun memberikan jawaban yang sama dengan dokter. Setelah itu Qara pun langsung masuk untuk menemui Jati.


"As'salamuaalaikum ...." sapa Qara dengan suara yang lembut, dan tentunya senyum terbaik.


"Wa'alaikummussalam ...." balas Jati tidak terlalu terdengar suaranya, karena kondisi Jati yang masih lemah dan juga mulut yang tertutup selang oksigen membuat Qara hanya bisa tahu dari gerakan mulut saja.


Qara pun mengambil duduk di samping Jati. Ia langsung menggenggam tangan calon suaminya yang masih banyak alat medis di tubuhnya.


"Qara senang A Jati bisa bertahan. Kenapa A Jati kaya gini sih. Qara kaget banget pas dengar A Jati kecelakaan. Apa A Jati tega tingalin Qara sendirian?" cecar Qara dengan pandangan terus menatap Jati.


"Stop, A Jati jangan ngomong dulu. Biarkan Qara yang ngomong. A Jati cukup dengarkan, Qara mau marah!"


Mendengar ucapan Qara, Jati pun mengembangkan senyumnya dengan samar. Dan laki-laki itu pun mengembangkan senyumnya dengan manis. Meskipun wajahnya tertutup alat medis tapi Qara masih bisa melihat senyuman Jati.


"Qara, ingin marah sama A Jati. Kenapa A Jati bisa kecelakaan. Bikin Qara deg-degan. Qara hampir jantungan saat dengar A Jati kecelakaan. Apa A Jati sengaja ingin membiarka Qara menunggu tanpa kepastian," cerocos Qara, dengan tingkahnya yang sangat menggemaskan.


"Musibah Qara." Jati menjawab ucapan Qara dengan lemah.

__ADS_1


"Hust..." Qara meletakan jari telunjuknya di depan bibirnya.


"A Jati jangan jawab apa pun, tunggu Qara belum selesai marah."


Jati pun hanya mengulas senyum dengan tatapan terus menatap Qara. Dia dimarahi Qara, tetapi dalam hatinya justru sangat senang.


Jati menggenggam tangan Qara meskipun genggamapan tanganya belum terlalu kuat. "Qara, aku cinta kamu. Kamu tidak akan tinggalin aku kan?" tanya Jati mengabaikan perintah Qara yang menginginkanya untuk dia.


Wanita berhijab itu justru tidak membalas ucapan Jati. Ia justru terisak mendengar pertanyaan Jati. Sehingga Jati pun hanya bisa mendiamkannya, membiarkan Qara meluapkan kesedihanya.


"Qara benci sama A Jati, kenapa punya pikiran seperti itu," gumam Qara dengan sesekali terisak.


"Aku takut kamu mengikuti apa kemauan Papah. Aku tidak akan berhenti berjuang, sebelum Tuhan yang memisahkan kita."


"Stop!! A Jati jangan bicara macam-macam lagi, jangan pernah bicara yang tidak-tidak. Qara mohon tetaplah berjuang bersama-sama, Qara janji akan terus berjuang untuk hubungan kita. A Jati jangan berbicara yang tidak-tidak." Qara menggenggam tangan Jati dengan kuat.


"Aku senang dengar ucapan kamu." Kedua mata Jati nampak memerah, mungkin laki-laki itu juga ingin menangis seperti yang Qara lakukan.


"Ngomong-ngomong Papah dan Mamah apa tidak ada di sini?" tanya Jati dengan mengedarkan pandanganya menatap ke luar jendela, di mana laki-laki itu hanya menatap Dewa yang sedang berdiri di balik jendela dengan senyum yang menandakan sahabatnya senang karena Jati telah sadar. Jati pun membalas senyum itu meskipun Jati tahu kalau Dewa tidak akan tahu dirinya membalas senyumnya.


"Om Thomy dan Tante Iren pulang, beliau butuh istirahat. Karena adik-adik A Jati juga butuh perhatian. Sebenarnya Om Thomy tadinya ingin menjaga A Jati, tapi  A Dewa yang meminta agar orang tua A Jati pulang, karena takut nanti malah sakit. A Jati tidak marah kan sama A Dewa. Dia teman yang baik. Bahkan Qara di beritahu dan di jemput oleh A Dewa. Kalau tidak ada A Dewa mungkin Qara tidak akan ada di sini, dan tidak akan tahu kalau A Jati sakit," ucap Qara. Dan Jati pun hanya membalas dengan seulas senyum penyesalan.


Laki-laki itu menyesal karena tidak mendengarkan apa kata Dewa, mungkin andai Jati mendengarkan nasihat dari Dewa ia tidak akan sampai terbaring di rumah sakit seperti sekarang ini.

__ADS_1


Bersambung....


...****************...


__ADS_2