
Iren dan Thomy yang merasa dipanggil pun langsung menghentikan langkahnya, seperti biasa Thomy akan memberikan tatapan sinis.
"Ada apa Qara?" tanya Iren, dari nada bicaranya sangat lembut, tetapi kadang hatinya tidak sama dengan nada bicaranya.
"Ada yang ingin Qara bicarakan penting," balas Qara dengan setengah tersengal karena sempat berlari untuk cepat menghampiri pasangan suami istri itu.
"Katanlah cepat! Aku sudah telat kerja," balas Thomy dengan ketus.
"Om, Tante izinkan saya yang merawat A Jati, saya akan merawat dengan baik," ucap Qara dengan suara yang lirih.
"Kamu serius Qara, kamu mau menjadi perawat untuk anak saya?" tanya Iren dengan sangat antusias.
"Serius Tante, tapi ...." Qara tidak melanjutkan ucapanya karena wanita itu masih ragu.
"Tapi apa Qara katakanlah. Kamu minta gajih berapa? Asal kamu merawat anak saya dengan baik, saya akan memberikanya berapapun gajih yang kamu minta." Iren langsung mencecar pertanyaan pada Qara yang nampak masih bingung.
"Ini bukan soal gaji Tante, gajih berapun dari Anda akan saya terima dengan ikhlas, tapi saya ingin mengajukan satu syarat agar Anda mengizinkan kami menikah ...."
__ADS_1
"Hahahah ... sudah aku duga orang licik pasti akan memanfaatkan kesempatan ini. Kamu hanya berpura-pura merawat Jati, padahal dalam otak kamu sedang berusaha memeras kami." Kali ini Thomy langsung angkat bicara, bahkan memotong ucapan Qara yang belum selesai.
Mendengar jawaban Thomy, Qara hanya mengulas senyum tipis. "Demi Tuhan Qara tulus merawat A Jati, bahkan kalau tidak dibayar pun Qara akan ikhlas, Qara hanya ingin merawat A Jati dengan baik," jawab Qara dengan suara yang tetap tenang tanpa terprovokasi ucapan Thomy.
"Udah Pah, biarkan kan hanya nikah kita tetap bisa menggaji Qara seperti perawat biasa, dari pada cari orang lagi bisa-bisa Jati tidak cocok, kalau Qara Jati sudah pasti cocok. Papah tahu kan sifat Jati seperti apa, dia kalau tidak cocok tidak akan mau untuk disentuh apalagi sampai dirawat." Iren tentu sangat berbeda dengan Thomy wanita itu justru langsung setuju dengan usulan Qara.
"Ok, tapi aku pun harus mengajukan syarat agar kami percaya kalau kamu menikah dengan Jati bukan karena uang."
"Syaratnya apa Om? Kalau tidak memberatkan Qara, insyaAlloh Qara akan setuju," jawab Qara dengan yakin.
Glek!! Qara menelan salivanya. Berat itu yang Qara rasakan karena di mana-mana orang menikah ya berhubungan intim.
"Bagaimana kalau Jati yang meminta agar saya melayaninya?" tanya Qara dengan nada bicar yang sebisa mungkin tetap tenang meskipun dalam hatinya ia tidak bisa mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja.
"Tolak!! Kamu berhak menolak apa pun alasanya, kamu cari alasan yang membuat Jati tidak akan melakukan hubungan suami istri, jangan bodoh karena kalau kamu melanggar jaminanya keluarga kamu, aku orang yang paling tidak suka dipermainkan, aku bisa melakukan apapun itu yang mengganggu rencanaku jadi kamu jangan main-main." Thomy memberikan ucapan mengandung ancaman dan tatapan yang tajam.
Mendengar semua ucapan Thomy, Qara pun hanya diam mencoba berpikir. Qara mencoba berpikir dengan sangat baik, agar kedepanya tidak menyesal. Satu sisi ia ingin menjadi perawat untuk Jati agar bisa membuktikan keseriusanya, satu sisi juga dia takut apa yang ia janjikan ternyata melanggar taruhanya adalah keluarganya. Qara tidak mau keluarganya terbawa-bawa dalam masalahnya.
__ADS_1
"Bagaimana apakah kamu menyerah? Atau mau tetap maju dengan konsekuensi kalau kamu melanggar salah satu perjanjian kita, maka jaminanya adalah keluarga kamu. Kalau kamu menyerah kami tidak akan memaksa karena masih banyak yang mau menjadi pengasuh untuk Gala." Dari nada bicara yang Thomy katakan, Qara tahu betul kalau laki-laki itu sedang mencoba meremehkan Qara, dan persayaratan itu sebenarnya sengaja dibuat berat untuk Qara jalani, semuanya bertujuan agar Qara menyerah.
Bagaimanapun Qara sudah berjanji pada Jati akan sama-sama berjuang. Dengan yakin Qara menatap laki-laki dan wanita paruh baya yang ada di hadapanya.
"Qara setuju dengan perjanjian yang Om Thomy katakan. Qara tidak akan melakukan hubungan suami istri dengan putra Anda. Pernikahan kita hanya sampai A Jati sembuh, dan kalau sampai saya melakukan hubungan suami istri apalagi sampai hamil, saat itu juga kontrak pernikahan kami berakhir, dan itu tandanya saya akan mengajukan cerai." Qara dengan tenang menjawab ucapan Thomy dan kembali menjabarkan apa yang diajukan syaratnya oleh laki-laki paruh baya itu.
Thomy mengulas senyum. "Aku suka perjuangan kamu untuk anak saya, semoga setelah jadi janda kamu dapatkan suami yang jauh lebih baik dari Jati. Surat kontrak akan segera jadi dan kamu tinggal tanda tangani, atur pernikahan kalian, aku akan hadir untuk menjadi saksi untuk pernikahan kalian." Thomy pun langsung meninggalkan Qara, dan juga Iren yang langsung meninggalkan Qara seorang diri.
"Oh iya." Thomy kembali menghentikan langkahnya. Qara yang awalnya terpejam, karena mempersiapkan hari yang mungkin saja jauh lebih buruk pun langsung membuka mata kembali.
"Soal gaji, kami akan memberi upah untuk kamu lima juta uang pokok, dan apabila kontrak kerja kamu sudah berakhir alias anak aku sudah sembuh dan kamu menepati janji kamu, aku akan menambahkan bonus lima ratus juta, bisa kamu gunakan untuk mulai kehidupan baru dengan keluarga kamu."
Qara mengangguk dengan hormat. "Terima kasih Tuan, saya sangat tersanjung dengan kebaikan Anda, semoga selalu diberikan kelancaran rezeki, dan kesehatan selalu," balas Qara dengan badan setengah dibungkukan. Setelahnya ia langsung mengayunkan kakinya meninggalkan pasangan suami istri itu, dan kembali ke ruangan calon suaminya.
Bersambung....
...****************...
__ADS_1