
"A Jati_" Deva memekik bahagia ketika melihat Jati datang, tetapi Deva langsung menutup mulutnya ketika Jati meletakan telunjuknya di depan bibirnya. Yah, Deva yang tahu kode itu pun langsung menutup mulutnya dengan telapak tangan. Agar tidak berisik.
"Teteh ke mana?" tanya Jati pada adik iparnya dengan suara setengah berbisik
"Ada di dapur ... " jawab Deva, ia pun ikut bisik-bisik.
Jati memberikan kode jempol dua pada adik iparnya. "Bilang sama teteh dicari seseorang. Aa akan tunggu di kamar."
"Ok." Deva dengan sigap membantu mendorong kursi roda Jati hingga ke kamar kakaknya, dan setelah itu adik ipar Jati pun langsung meninggalkan Jati untuk mengabarkan pada kakaknya kalau ada yang mencari di kamarnya. Yah, Deva pun sangat kompak dengan kakak iparnya. Berkat kakak perempuannya menikah dengan Jati perekonomian keluarganya pun berubah menjadi jauh lebih baik. Belum juga Jati yang sangat baik dengan kakaknya sehingga semuanya sangat setuju dengan Jati dan Qara.
"Teh, ada yang cariin ..." Deva berbisik pada Qara sembari bibirnya mengulum senyum.
Mendengar ucapan Deva, Qara pun langsung menatap tajam pada adik bungsunya. "Tamu siapa?" tanya Qara, karena hampir selama ia tinggal di rumah ini tidak ada tamu khusus apalagi sampai ingin bertemu secara langsung dengan dirinya.
Deva yang sudah diwanti-wanti agar tidak mengatakan dengan jujur siapa tamu itu pun menggelengkan kepala, tetapi dengan bibir bawah yang digigit seolah adik bungsunya itu sedang menahan agar tidak tertawa.
__ADS_1
Qara yang tahu maksud dari adik iparnya pun langsung memberikan tugas pada karyawannya. Wanita cantik itu segera mungkin membersihkan tangannya dan pakaiannya.
"Di mana tamu itu?" tanya Qara, yang tahu kalau yang cariin dirinya sudah pasti orang yang setiap malam bertukar kabar melalui telepon. Dan bahkan sering tidur bersama untuk melepaskan rasa kangennya.
"Ada di dalam kamar," balas Deva dengan menunjuk kamar kakaknya. Tanpa menunggu lama Qara pun langsung mengayunkan kakinya untuk menuju ke kamarnya. Rasanya rindunya yang sudah sangat menggunung seperti akan pecah.
Brukkk... pintu kamar di dorong dengan kuat oleh Qara. Jati yang sudah duduk dengan kaki lurus dan tubuh bersandar ke dalam dasboard ranjang dan tangan memainkan ponsel pun langsung mengalihkan pandangan mata menatap ke Qara.
Qara sendiri langsung berlari dan menghambur memeluk Jati yang tersenyum manis dengan merentangkan tangannya. Wanita cantik itu pun langsung memeluk dengan mesra sang suami. Cukup lama Qara terisak bahagia karena akhirnya bisa bertemu lagi dengan sang suami.
"Kenapa tidak bilang kalau mau datang?" tanya Qara dengan suara serak dan tubuh masih dibenamkan di balik dada bidang sang suami.
"Jahat, aku sampai nangis," balas Qara lagi, dengan nada bicara yang merajuk.
"Nangis aja cantik banget apalagi kalau tidak nangis," balas Jati dengan mengecup kening sang istri.
__ADS_1
Mendengar gombalan sang suami. Qara pun mencubit pinggang Jati.
"Awww... sakit Sayang," pekik JatiĀ dengan tangan mengusap-usap bekas cubitan sang istri yang mungil, tapi sangat panas.
"Abis sekarang pintar gombal." Qara pun melepaskan pelukannya setelah puas melepaskan rasa rindunya.
"A, Qara mau mandi yah. Badannya bau." Qara menutup hidungnya seolah memang badanya bau. Namun justru Jati mengendus tubuh sang istri.
"Apanya yang bau, kamu wangi kok. Kita olahraga dulu. Baru mandi," rayu Jati. Namun, Qara menolak, karena tidak percaya diri karena takut bau setelah sehari bekerja.
"Tidak ah, nanti Qara mandi dulu tubuh Qara sangat lengket karena seharian kerja dan belum mandi A Jati tunggu paling setengah jam," balas Qara dengan tubuh yang beranjak bangun. Namun lagi-lagi ditahan oleh Jati.
"Aku juga seharian kerja dan sepertinya tubuhku bau. Bagaimana kalau kita mandi bareng," balas Jati dengan mengedipkan matanya sebelah.
#Nah loh Jati sepertinya bekerja dengan sangat handal. Ia sudah harus bekerja dengan kuat mana yakin!! Jati junior harus segera hadir.
__ADS_1
Bersambung....
...****************...