
Episode 114 : Aron bekerja terlalu cepat.
***
Di kediaman ibu Aron,
Dahlia menerima kedatangan menantu kesayangannya ini, wajahnya sudah sedikit khawatir mengenai berita yang telah beredar dimana mana itu, dia takut Nadine akan terpengaruh karena berita itu, Dahlia sangat yakin dengan keputusan putranya dan bahwa anak yang diklaim Dara itu pasti bukan anak dari putranya.
Entah kenapa firasatnya sebagai ibu merasakan jika yang di gendong dara di pemberitaan itu pasti bukan cucunya.
“Ibu, sudah makan pagi belum?”
Saat Nadine datang dia memeluk Dahlia dan langsung menanyakan apakah dahlia sudah makan atau belum.
“Be … Belum Nak,” dengan heran dan sedikit mengernyit Dahlia mencoba memahami apa yang sedang terjadi, diluar dugaannya Nadine sama sekali tidak marah ataupun bersedih, malah dia kelihatan tersenyum dan memeluknya dengan sangat lembut.
Nadine yang mendengar hal itu tersenyum, “Baiklah, kali ini aku akan memasak untuk mu Bu,” seru Nadine begitu bersemangat.
Melihat sikap Nadine yang terlihat menutupi perasaannya membuat Dahlia mengerti, mungkin Nadine memang hanya tidak ingin membicarakan hal itu saja.
***
Sedangkan sekarang ini Aron sedang melakukan meeting dadakan, dimana akhirnya mereka putuskan agar Aron melakukan konferensi pers yang pertama, lalu setelah itu saat keadaan sudah mendingin Aron akan memperkenalkan istrinya ke khalayak ramai agar tidak ada satupun lagi yang bisa memfitnah apalagi melukai istrinya.
"Pak, saya sudah menghubungi wartawan dan mereka sudah menunggu di aula bawah," Liam datang memberikan kabar mengenai perintah dan hasil meeting dadakan yang mereka lakukan.
"Baiklah aku akan segera datang, jangan lupa persiapkan apa yang aku katakan saat aku melakukan konferensi pers!" seru Aron saat ini sudah menghubungi istrinya lagi.
"Baik Pak," balas Liam menyanggupi perintah atasannya ini.
"Tring ... Tring ... Tring!"
Nadine dan juga Dahlia yang tengah menghabiskan waktu bersama terganggu oleh telepon dari Aron, tadi Nadine sudah memasak sarapan untuk Dahlia dan Dahlia sangat suka masakan menantunya.
"Siapa itu sayang?" tanya Dahlia saat wajah masam Nadine melihat layar ponsel yang sedari tadi bergetar.
__ADS_1
"Ah, ini putramu Ibu, dia menelepon aku sekarang, sebentar ya Bu, aku mau mengangkat nya dulu," balas Nadine malah senyum manis ke arah Ibu mertuanya.
Dahlia yang melihat sikap Nadine tersenyum penuh arti, seorang wanita yang kesal karena cemburu memang akan seperti Nadine, terlihat kesal namun sebenarnya suka di kejar.
"Ckck, jadi muda memang menyenangkan, jadi rindu suamiku," seru Dahlia merasa merindukan suaminya lagi, tetapi rindu dalam batasan yang wajar karena ia tahu suatu hari nanti mereka akan kembali bertemu saat waktu nya tiba.
"Halo?" suara Nadine terdengar kesal, dia pergi sedikit jauh dari jarak Dahlia agar Dahlia tidak mendengar ucapan nya.
"Sayang, supir ku akan membawamu kesini, kau mau berbicara dengan Dara kan?" Aron melakukan semuanya sungguh dalam waktu yang singkat.
Sepertinya apapun yang tidak mungkin bisa dilakukan oleh Aron dengan cepat seperti ini.
Nadine sampai kebingungan mendengar itu, dia memang mengatakan hal itu akan tetapi tidak secepat ini.
"Oke ...." ketus Nadine cuek dan langsung mematikan panggilan nya lebih dulu.
Mata Aron melebar saat mendapati istrinya langsung mematikan panggilan nya.
Tetapi bukannya marah, Aron malah tersenyum malu malu, pipinya bahkan memerah karena itu, dia merasa Nadine sungguh masih cemburu
Sesaat setelah itu, Nadine meminta ijin pada ibu mertuanya untuk kembali, walau Nadine tidak menceritakan masalahmu, Dahlia susah senang sekali mendapati jika menantunya mendatangi dirimu saat hatinya gundah yang artinya Nadine sudah semakin dewasa sekarang.
Tidak seperti dulu yang ingin langsung melarikan diri tanpa menyelesaikan masalahnya.
***
Suara flash kamera langsung menyorot Aron yang sudah datang di kawal oleh keamanan ketat, Aron langsung duduk di sebuah meja konferensi yang sudah disiapkan.
Aron terdiam sebentar menatap kearah wartawan yang sudah berisik entah dengan pertanyaan atau suara kamera yang menganggu.
Aron mengangkat tangannya, dan melempar tatapan tajam yang membuat semuanya langsung terdiam tertib.
"Pak Aron akan memberikan kesempatan sebanyak 3 pertanyaan untuk semuanya, jadi bijaklah dalam bertanya, di mulai dari sekarang!"
Liam yang berperan mengatur konferensi ini sampai selesai mengerahkan para wartawan agar bertanya hal yang penting saja.
__ADS_1
Kerumunan langsung berisik seolah tidak terima jika pertanyaan yang boleh diajukan hanya 3 saja.
"Kalau tidak suka kalian bisa keluar dari sini, dan jika kalian masih berisik, aku jamin kalian akan dipecat keesokan hari!" ucapan tegas Aron langsung membuat semuanya tertib tak berkutik, sungguh wibawa yang kuat tetapi juga ucapan mengerikan.
Sesuai dengan citra Aron yang memang mengerikan, semuanya langsung menurut hanya karena Aron mengatakan hal tersebut.
"Ehem, ba ... baik Pak,
"Saya dari media A, mau mengajukan pertanyaan apakah anda sungguh berselingkuh dengan seorang wanita di duga bernama Nadine dan meninggalkan mantan istri anda Dara saat dia tengah hamil?"
Pertanyaan itu langsung ditanyakan oleh seorang wartawan wanita dengan sangat sopan, agar ia tidak membuat Aron marah karena dirinya.
"Perlu diketahui jika pernikahan ku dengan Dara berakhir bukan karena orang lain melainkan karena kesalahannya sendiri, saya tidak berselingkuh dan mencoba menjaganya dengan baik, dan untuk jawaban selanjutnya Dara tidak pernah mau memiliki anak denganku, jadi bisa dipastikan dia melakukan penipuan!"
"Juga jangan sembarang membuat Nadine sebagai headline berita palsu kalian, jika aku menemukan ada namanya di berita dan memberitakan hal buruk, aku akan menuntut kalian!"
Jawaban Aron yang tegas dan penuh ancaman sudah cukup membuat wartawan itu terdiam dan tersenyum kaku mencoba menenangkan dirinya sendiri.
***
Disaat yang sama,
Nadine sudah sampai di kantor Aron, dan karyawan Aron mengarahkan Nadine menuju sebuah ruangan disana sudah ada Dara.
Sebelum semuanya ini Aron telah memerintahkan Liam untuk menangkap Dara secepat mungkin, agar berita buruk dan bohong tidak meluas lagi.
Karyawan Aron menunduk sembari membuka pintu untuk Nadine yang ingin menemui Dara, dan saat pintu terbuka, Nadine sudah bertemu pandang dengan Dara disana.
"NADINE! WANITA YANG MENGHANCURKAN HIDUPKU!" wajah penuh kemarahan dan emosi meluap-luap Dara langsung menyambut Nadine.
Sedangkan Nadine masuk dengan santainya, karena memang dia lah yang ingin menjumpai Dara.
Nadine melangkah dan duduk di hadapan Nadine sembari memperhatikan anak kecil yang masih berusia 2 tahun lebih terlihat pucat di tangannya, tidak bersuara sama sekali.
Sedangkan Dara yang menatap tajam kearah Nadine melihat Nadine dengan mata penuh kebencian dan dia bahkan menggertakkan gigi karena emosinya yang meluap-luap itu.
__ADS_1
***