
Episode 88 : Dia hanya luka, tapi ....
***
“Aku sudah bebas, tidak ada dia lagi di hatiku, aku sudah bisa melupakannya,”
“Dia hanya luka yang membuat hatiku sakit dan hidupku menderita,”
“Tidak ada kenangan indah yang bisa aku ingat darinya, hari ini aku sudah bebas dari belenggu masa laluku,”
Itulah ucapan yang ia ucapkan dalam hatinya, sembari tersenyum begitu bebas sampai saat lelaki tinggi yang memiliki mata tajam dan raut wajah dingin yang ia sembunyikan jauh sekali dalam hatinya terlihat lagi di hadapannya.
Keributan orang-orang yang begitu riuh tidak terdengar, lalu lalang orang-orang terlihat cepat dan bahkan tidak terlihat, waktu seolah berjalan melambat dan semakin melambat, saat mata mereka bertemu saat itulah baik Nadine maupun Aron tahu ada sesuatu yang menarik mereka berdua, hanya dari tatapan semata.
“Aku sudah lupa!”
“Tidak ada dia di hatiku!”
“TIDAK!”
Semua kebohongan dan kepalsuan senyuman dan ucapan yang dipasang oleh Nadine sendiri, kebohongan yang ingin ia percaya, kebohongan bahwa tidak ada Aron dalam hatinya.
Tetapi tembok yang ia buat untuk membohongi dirinya sendiri hancur bagaikan debu.
***
“Aku merindukan mu!”
“Kembalilah padaku,”
__ADS_1
“Aku tidak akan melepaskan mu lagi!”
Itulah ucapan yang setiap hari diucapkan oleh Aron, setiap hari merindukan orang yang sama, saat melihatnya datang sendiri dan ada di hadapannya membuat Aron diam membeku.
Waktu yang berjalan melambat dalam pandangannya, jantungnya yang seperti tersengat dan detakannya tak karuan, langkah kakinya yang mulai melangkah pelan lalu cepat sampai berlari.
“Nadine ….” Setiap hembusan nafanya mengucapkan namanya berkali-kali dan kakinya mengejar wanita yang diam mebeku di tempatnya seolah terhipnotis.
“Aku harus kabur, aku harus pergi!”
Nadine yang diam membeku dan mematung tak tahu mengapa mencoba sekuat tenaga menggerakkan kakinya, membalikkan tubuhnya saat Aron berusaha mengejarnya, lalu ia berlari sekuat tenaga melarikan diri.
“Srek!”
Tetapi langkah kaki Nadine kalah dari kaki jenjang Aron, Aron memeluk Nadine dari belakang kuat sekali, nafasnya terdengar berat, dan tangan hangat yang ingin dilupakan oleh Nadine menyeruak lagi dan membuat Nadine sadar jika sebenarnya tidak sedikitpun ia lupa dengan Aron.
“Tidak mau! dia melukai aku, melukai ku seolah aku tidak berharga! aku tidak mau!” Nadine terus menguatkan dan mengeraskan hatinya, tidak mau luluh dengan lelaki yang hanya menorehkan luka di hatinya.
Nadine melepaskan tangan Aron dan tanpa membalikkan tubuhnya untuk melihat Aron, Nadine tetap melanjutkan langkahnya.
“Nadine ….” Aron memanggil Nadien lagi, tetapi sebelum Aron melanjutkan ucapannya Nadine langsung menghentikan Aron.
“Jangan panggil aku, Nadine yang kau kenal itu sudah lama hilang, aku bukan Nadine yang bisa kau miliki lagi sesukamu, jadi berhenti dan jangan datang lagi! biarkan aku pergi!” teriak Nadine mengejutkan banyak orang, wajahnya yang menahan tangis dan tangannya yang ia kepal.
Dia hendak berlari pergi menjauh lagi, pundaknya yang terlihat oleh Aron semakin jauh tetapi Aron segera menarik dan menahan tangan Nadine.
Lalu Nadine segera menatap tajam kearah Aron.
“APA? Kau mau menarikku lagi? memaksa kehendakmu kepadaku lagi? menarik ku dan membawaku ke rumah mu? kau berencana mengikatku? mengambil kebebasan ku? kau mau menyiksa ku lagi?”
__ADS_1
“ARON! Aku sudah tidak mau berjumpa dengan mu lagi! bukankah aku sudah katakan di suratku? Kau membuatku menderita! Kau membuatku bermimpi buruk selama tiga tahun!"
"JANGAN MENGULANGI PENDERITAAN KU!” teriak Nadine menangis dengan hebat, tidak bisa lagi menahan hatinya dan suaranya yang terdiam selama tiga tahun.
***
“Saat aku berjumpa dengannya, saat aku bertemu dengannya aku tidak akan melepaskannya lagi,”
“Saat dia ada di hadapanku, aku akan membawanya kabur dan menjadikannya milikku lagi!”
Itulah yang selama ini di ucapkan oleh Aron, tetapi dalam kenyataan nya tidak seperti itu, wajah Aron yang selama ini tegas dan tajam menunduk, melihat tangisan Nadine, akhirnya Aron mendengar sendiri dari Nadine jika yang ia berikan hanyalah penderitaan.
“Yang aku berikan hanyalah penderitaan, kenangan buruk,”
Ucapan menyakitkan membuat Aron terdiam, semua kepercayaan dirinya runtuh seperti debu yang dihebuskan angin, tangannya mulai melonggar dan melepaskan Nadine.
***
Novel ini akan update setiap hari yaa, jadi mohon di tunggu, berikan komentar membangunnya biar aku makin bagus dalam menulis.
Btw aku tahu banyak kekurangan dalam novel ini, jika kalian menemukan ada salah ketik, tinggalkan komentar saja ya, biar ;langsung aku perbaiki hehe.
Makasih ya semuanya, lope you.
***
Jangan lupa follow ig author : @nitanaiibaho
Kalian bisa DM dan tanya2 disana
__ADS_1