Berbagi Cinta : Sebenarnya Istri Ke-2

Berbagi Cinta : Sebenarnya Istri Ke-2
Pesona nya membuat aku ketagihan!


__ADS_3

***


Mobil melaju dengan cepat, membawa keduanya sampai di kediaman orangtua Aron yang tidak kalah mewah dan besar dari rumah Aron, dari dalam mobil sebelum mereka turun. Nadine sudah melihat wajah ibu Aron, Dahlia dan ayah Aron, Alfred Charlos menunggu mereka dengan senyuman merekah.


“Nadine, menantu Ibu yang paling cantik,” Dahlia segera memeluk Nadine yang baru keluar dari mobil, Alfred hanya bisa melihat dengan tersenyum karena saat ini dia masih duduk diatas kursi roda.


“Ibu, Ayah, Nadine merindukan kalian,” seru Nadine tersenyum begitu tulus dan merekah.


Aron bisa melihatnya, wajah cantik yang tersenyum itu tidak membuatnya senang melainkan merasa aneh, karena pasti senyuman itu hanya sandiwara sesuai dengan perintahnya.


Seperti berada di rumah mertua pada umumnya, mereka makan bersama, tertawa bersama dan seperti keluarga bahagia yang diinginkan semua orang, sejak tadi Aron memperhatikan Nadine yang terkadang melucu untuk membuat ayah dan ibunya tertawa.


Sikap ramah dan manis ini tidak ia temukan di Dara, menurut Aron jika saja Dara sedikit lebih manis dan ramah seperti Nadine maka mungkin orangtuanya akan menerimanya.


Saat mereka berbincang bincang, Alfred membahas mengenai bagaimana dia ingin sekali mendapatkan cucu dalam waktu dekat, Nadine langsung canggung dan menunduk, tidak mampu menjawab hal itu, saat ayah mertuanya ini menanyakan cucu, hati Nadine segera terasa ngilu dan sakit.


Nadine tidak bisa menjawab dan tidak bisa berpura pura tersenyum lagi, pertanyaan itu mengingatkan Nadine akan pelik dan pedihnya pernikahannya, bagaimana dia akan segera bercerai segera setelah mendapatkan anak.


Aron menyadari sikap istri keduanya ini langsung terdiam, dia meraih tangan Nadine dan meremasnya sedikit kuat, “Tenang saja Ayah, aku akan berusaha keras memberikan cucu kepada Ayah segera,” sahut Aron tersenyum tetapi hal itu memberikan tekanan kepada Nadine.


Aron sedikit menyenggol bahunya seperti kode agar Nadine segera tersenyum dan tidak murung lagi.


“Iya Ayah, Nadine juga akan berusaha,” seru Nadine tersenyum lagi, berpura pura lagi dan menahan rasa sakit lagi.


Pertemuan keluarga itu begitu berarti bagi Dahlia dan Alfred, mereka bahagia melihat Aron dan Nadine ternyata memiliki hubungan yang harmonis.

__ADS_1


Ternyata benar kata Aron, jika foto yang lalu saat Alfred menerima kabar jika putranya sedang bersama Dara hanyalah foto lama yang diungkit kembali, buktinya Nadine dan Aron terlihat begitu mesra bak pengantin baru sekarang ini.


Waktu akhirnya berlalu, sudah pukul 9 malam, “Ayah, kami harus segera pulang, istriku ini tidak bisa berjaga terlalu malam,” seru Aron sedikit menempel kepada Nadine untuk menunjukkan kemesraan mereka.


“Haha, benarkah?” balas Alfred tertawa bahagia sekali.


“Kenapa kalian tidak menginap di rumah ini saja?” tanya Dahlia begitu bersemangat ingin menantunya menginap di rumahnya.


“Mah, mereka pengantin baru, kau seperti tidak ingat bagaimana rasanya menjadi pengantin baru,” celetuk Alfred pada istrinya membuat mereka semua tertawa.


“Hahaa, iya nih Pah, Mamah lupa,” seru nya juga terlihat bahagia melihat menantunya yang begitu baik dan anggun ini terlihat nyaman bersama putranya.


***


“Kami pergi dulu ya Ibu,” seru Nadine memeluk ibu mertuanya dan meminta ijin untuk pulang.


Akhirnya keduanya masuk kedalam mobil dan seketika senyuman palsu itu langsung lenyap begitu saja.


Wajah Nadine kembali layu dan tangannya ia lepaskan dari genggaman tangan Aron.


Nadine duduk sedikit menjauh dan berjarak, matanya kembali menjelajahi jalanan yang sudah gelap.


Sejak tadi tidak seorangpun diantara mereka membuka suara sejak mereka kembali dari kediaman orangtua Aron.


***

__ADS_1


Dalam beberapa saat kesunyian di dalam mobil, akhirnya gerbang besar rumah Aron sudah terlihat, mereka sampai dan hendak kembali ke kamar pribadi masing-masing.


Aron bisa melihat langkah terburu buru Nadine dan bagaimana Nadine sejak tadi menghindari tatapan mata darinya.


“Wanita pembangkang tetapi juga penurut, pesona nya membuat aku ketagihan!” gumamnya segera menarik tangan Nadine segera setelah Nadine hendak masuk kedalam kamarnya.


Dia mendekap tubuh Nadine dan dengan sekali hentakan, sudah masuk kedalam kamar pribadi Nadine, salah satu tangannya segera mengunci pintu kamar itu.


“Mas, tolong lepaskan aku, aku lelah,” Nadine masih mencoba menolak sebisa nya, dia mendorong dan menggelengkan kepalanya untuk memberontak.


Tetapi semakin Nadine memberontak semakin bersemangat Aron untuk menundukkan nya.


"Sayang, kau sudah setuju memberikan ayahku cucu, berhenti berlagak menolak dan lakukan keinginan mu itu," bisik Aron sedikit menekan, suaranya berat dan dia telah menggendong Nadine dan menjatuhkan nya ke kasur.


Akhirnya setelah tadi sore menahan gairahnya, dia akan bisa memuaskan dahaganya yang tidak bisa ia jelaskan.


Belum pernah ia merasakan hal ini sebelumnya.


***


Guys jangan lupa ya di like dan komen, terlepas dari lomba aku akan mencoba membuat novel ini berbeda dari yang lain ya, soalnya inti ceritanya sudah banyak sebenarnya ditulis oleh orang lain, semoga aku bisa membuat nya jadi berbeda ya.


Dukung aku terus ya dan jangan lelah memberikan saran agar aku bisa semakin bagus membuat novel nya.


Terimakasih semuanya, lope you

__ADS_1


__ADS_2