Berbagi Cinta : Sebenarnya Istri Ke-2

Berbagi Cinta : Sebenarnya Istri Ke-2
Pastinya akan lebih memuaskan!


__ADS_3

Episode 35 : Pastinya akan lebih memuaskan!


***


Tidak banyak pelayan yang ada di villa ini, entah memang disengaja oleh Aron, yang jelas pelayan yang ada di villa ini bahkan lebih sedikit dibandingkan yang ada di rumah Aron.


Keduanya sedang makan berdua, ini adalah kali ketiga Aron dan Nadine makan bersama diatas meja dengan tenang, seperti keluarga sungguhan keduanya makan dengan tenang dan tidak ada tekanan.


“Sayang, kau harus banyak makan, tubuhmu masih terlalu kurus, jika kau lebih berisi sedikit akan lebih baik, dan pastinya akan lebih memuaskan,” seru Aron memberikan lauk ke piring Nadine.


“Uhuk … uhuk!” Nadine seketika terbatuk mendengar ucapan suaminya, tidak dia sangka lelaki ini bahkan ingin tubuhnya agar lebih berisi.


Melihat istrinya terbatuk dan seperti tersedak makanannya sendiri Aron langsung mengambil air minum dan memberikannya kepada Nadine, “Kadang aku berpikir kenapa kau begitu ceroboh sih? Makan saja bisa keselek, kau seperti anak kecil yang harus di urus!” ketus Aron menepuk nepuk pundak Nadine disaat Nadine minum.


“Sial, kau yang pertama mengomentari tubuhku, kenapa sih disaat makan pun kau tetap membahas masalah bentuk tubuh, apakah di otakmu hanya ada hal mesum dan nakal! Biarkan aku makan dengan tenang dulu!” Nadine keceplosan dan mengatakan semua unek uneknya.

__ADS_1


Dia kesal bagaimana lelaki ini selalu saja membahas mengenai tubuh dan hal hal nakal yang lainnya.


Aron dan semua pelayan yang sedang melayani mereka syok bersama, mata mereka membelalak dan mulut mereka mengaga, selama mereka bekerja kepada Tuan Aron baru ini pertama kalinya ada yang membentak Aron.


Aron yang tidak menyangka jika Nadine sebenarnya tidak selembut dan sependiam biasanya sangat terkejut, dia sampai berhenti makan sejenak dan hanya memandangi wajah Nadine yang masih kelihatan kesal.


“Ck, aku kesal sekali, berani beraninya dia mengonetari tubuhku, tubuhku memang tidak sebagus model model atau artis yang mungkin sering melayaninya, tapi tidak seharusnya dia membahas itu saat makan begini! Ahh, kenapa darahku mendidih sejak tadi, arggghhh!” Nadine masih terbakar amarahnya.


Sejak tadi pagi dia menyadari suaminya ini kelihatan memiliki banyak sekali pengalaman sudah membuat Nadine dalam mood yang kurang bagus.


Apalagi dipancing Aron dengan membahas mengenai tubuhnya.


Nadine belum juga sadar jika situasi sudah tegang karena keceplosan dengan dirinya yang asli, Nadine sebenarnya bukan seorang pendiam dan penurut seperti yang diketahui Aron, Nadine pendiam akhir akhir ini karena memang masih merasa berkabung atas meninggalnya neneknya.


Barulah selang beberapa saat, ketika Nadine menyadari suansa hening dan yang terdengar hanya kunyahan mulutnya saja, dia melihat kearah Aron yang nampak masih terkejut dengan perubahan sikapnya.

__ADS_1


“Mampus! Nadine, apa yang telah kau lakukan? Kau berani membentak serigala seperti lelaki ini, habislah kau, bagaimana ini?” Nadine langsung panik, matanya berkedip kedip dan dia menelan salivanya, dia ketakutan sekali apa yang akan dilakukan oleh suaminya ini.


“Kau …” Aron mencengkeram bahu Nadine dengan matanya yang terlihat serius, dia menghadapkan tubuh Nadine agar berhadapan kearahnya, sedangkan kursinya sudah ia seret agar menempel dengan kursinya.


“Tuh kan, tamatlah riwayatku, apanya yang bahagia selama satu bulan, hanya satu hari aku sudah akan dimusnahkan karena mulutku ini, huhu,” Nadine sudah pasrah, dia melihat kearah Aron dengan mata yang memelas mencoba memohon ampun atas dirinya yang lancang secara kodean mata.


***


Novel ini akan update setiap hari yaa, jadi mohon di tunggu, berikan komentar membangunnya biar aku makin bagus dalam menulis.


Btw aku tahu banyak kekurangan dalam novel ini, jika kalian menemukan ada salah ketik, tinggalkan komentar saja ya, biar ;langsung aku perbaiki hehe.


Makasih ya semuanya, lope you.


***

__ADS_1


Jangan lupa follow ig author : @nitanaiibaho


Kalian bisa DM dan tanya2 disana


__ADS_2