
Episode 123 : Jangan tinggalkan aku ya ....
***
“Cklek!”
Dengan pelan sekali, Aron membuka pintu, walaupun pelan karena pintunya pintu besi membuat pintu itu tetap menimbulkan suara.
“Sssttt ….” Aron berbisik pelan sekali melihat kearah belakangnya, dimana Nadine hanya bisa menempel di pundak Aron, memejamkan matanya dan menggenggam kuat sekali tangan Aron.
Lelaki itu amat menyeramkan membuat Nadine tidak berani membuka matanya.
Mereka melangkah pelan sekali, karena markas ini tertutup dan tidak terlalu besar membuat keduanya sudah hampir bisa melarikan diri.
Akan tetapi ponsel lelaki itu segera berdering membuat penjahat itu terbangun, dia melihat ponselnya tetapi sebelum ia mengangkat panggilan yang datang dari Bos nya, penglihatannya langsung tertuju ke arah depan dimana kedua anak kecil yang seharusnya ia jaga sudah hendak kabur.
Dia tentu saja langsung panik dan memutuskan tidak akan mengangkat panggilan di ponselnya, dia mengejar Aron dan Nadine, dimana saat dia terbangun dan bertatap muka dengan kedua anak tahanan, keduanya sudah berlari sekencang mungkin memasuki hutan.
Tentu saja kaki Aron lebih jenjang dari Nadine, jadi saat Aron menarik tangan Nadine, Nadine tidak bisa mengimbangi lari kencang Aron dan segera membuat Nadine tersungkur.
Penjahat itu sudah ada di belakang mereka, “Berhenti, kalian sialan! Jika aku menangkap kalian akan kupatahkan tangan dan kaki kalian! BERHENTI!” teriakannya sangat menggema dan menekan, membuat Aron dan Nadine terkejut, apalagi Nadine yang langsung ketakutan.
Aron tidak memiliki pilihan lain, dia segera berjongkok, nafasnya sudah terengah engah, hanya satu caranya agar mereka bisa kabur dengan cepat, dia harus menggendong Nadine, walau dia sedang lemah dan kelaparan, dia tetap harus membuat mereka berdua selamat dan bisa keluar setidaknya ke tepi hutan, agar keluarganya bisa menemukan mereka.
Aron segera berjongkok, “Naiklah cepat!” seru Aron membuat Nadine segera naik ke pundak Aron.
Setelah itu Aron berlari sekencang mungkin, dan saat menemukan pohon pohon besar dengan akar yang bisa menutupi tubuh mereka membuat Aron memutuskan untuk bersembunyi disana.
Untung saja ada akar pohon besar yang memiliki rongga besar disana.
“Dimana mereka!’
“Sialan! Akan dihabisi Bos aku ini!”
“Brengsek! Harusnya ku ikat saja mereka!’
__ADS_1
“Argghh!”
Terdengar suara kesal dan ketakutan anggota Baron di belakang mereka dimana Aron dan Nadine sedang bersembunyi.
Nadine menutupi mulutnya dengan sangat kuat agar dia tidak mengeluarkan suara, dia ketakutan sekali, apalagi sekarang kepalanya sangat sakit, kepalanya berdenyut dan menimbulkan rasa sakit yang sangat hebat.
Sepertinya Aron merasakan hal yang sama, tetapi keduanya menahan dengan saling berpegangan erat satu sama lain, agar penjahat itu tidak menemukan mereka.
“Tring … Tring … Tring!”
Ponsel penjahat itu berdering lagi, membuatnya memutuskan segera mengangkat panggilan itu.
“Ha … Halo Bos?” dia gemetaran karena Bosnya sedang menghubungi dirinya sekarang ini.
“Kau menjaga anak-anak itu dengan baik kan? Sebelum kita mengetahui informasi selanjutnya jangan biarkan mereka kabur, malam ini aku akan kesana memeriksa apakah obat yang disuntikkan dokter itu berfungsi atau tidak!” perintah Baron membuatnya ketakutan, tetapi demi keselamatan hidupnya, dia harus berbohong sementara waktu.
“Ba … baik Bos, mereka ada kok di kurungan,” balasnya akan berusaha menemukan kedua anak itu sebelum Bosnya datang.
Lalu setelah itu dia mematikan panggilan itu, dia tahu jika dia akan mati jika saja kedua anak kecil yang melarikan diri tidak ia temukan.
Sedangkan Aron yang sudah menyadari lelaki penjahat yang membuat mereka ketakutan pergi sudah bisa bernafas lega.
Yang harus ia lakukan hanyalah mengambil arah berlawanan dari lari penjahat dan menemukan sungai, dia akan membawa Nadine dan perbekalan mereka hanyalah satu roti dan setengah botol kecil air minum.
Tetapi tidak apa yang penting mereka sudah memiliki kesempatan untuk kabur.
"Nadine, ayo pegang tangan ku, kau masih bisa berjalan kan?" ucap Aron pada Nadine yang sekarang sudah bisa bernafas lega.
Nadine kecil yang biasanya hanya menangis seolah dipaksa menjadi dewasa dalam waktu singkat.
Dia mengepal tangannya dan menguatkan tekad nya.
Dia meraih tangan Aron dan berdiri, "Aku bisa Kak," balas Nadine dengan semangat nya.
Anak kecil berusia enam tahun itu seolah tidak ingin membuat Aron yang selalu melindungi nya terluka oleh karena dirinya.
__ADS_1
Setelah itu mereka menyusuri hutan, malam telah tiba, karena bekal dari kakek Aron yang selalu menghajar nya menjadikan Aron sedikit mengerti cara membaca arah yang ditunjukkan bintang di malam hari.
Dia mengikuti arah yang ia tahu dengan cara melihat kearah langit, dan benar saja dia akhirnya menemukan aliran sungai.
"Haahh!"
Dia menghela nafasnya panjang.
"Kita istirahat sebentar dulu disini ya," ucap Aron tersenyum begitu lebar saat ia berhasil menemukan aliran sungai itu.
Nadine yang sebenarnya sudah kelelahan sekali mengangguk begitu bersemangat, mereka memutuskan duduk dan bersandar di bawah pohon dekat sungai.
Saat mereka duduk, perut Nadine keroncong dia langsung memegangi perutnya.
"Kau lapar?" tanya Aron yang sudah tidak makan selama dua hari dan masih mencoba tetap kuat.
"Umm, iya Kak," balas Nadine melihat kearah Aron dengan wajahnya yang sudah kotor, tetapi matanya sangat bersih dan bersinar.
Aron segera mengambil roti kecil yang tinggal satu biji dari kantongnya, dia menyerahkan nya kepada Nadine.
"Makanlah," seru Aron memberikan roti itu sembari dia sendiri menelan salivanya karena dia juga sangat lapar.
"Glek!"
Nadine menelan salivanya juga, dia hendak mengambil roti itu tetapi dia melihat kearah Aron dengan mata yang tidak enak dan sedih.
"Kita bagi dua saja Kak, aku tidak mau makan sendiri," Nadine menolak pemberian Aron, dia ingin membagi roti itu saja, dia tidak ingin makan sendirian.
"Tak!"
Aron langsung memukul jidat Nadine menggunakan telunjuk jarinya.
"Dasar bodoh, aku itu kuat tidak lemah seperti mu! diam lah dan makan, aku tidak ingin kau menyusahkan aku besok!" ketus Aron langsung menarik tangan Nadine dan memberikan roti kecil itu.
Nadine mengusap jidat nya yang sudah kemarahan, begitulah selalu Aron saat menjahili Nadine, selalu saja jidatnya yang kena pukul.
__ADS_1
***