
Episode 118 : Kesabaran yang telah habis!
***
Di dalam mobil Aron,
"Kau harus baik-baik saja! sebentar lagi aku datang!" geramnya mengemudi dalam kecepatan penuh, tidak peduli apapun yang terjadi kepadanya, yang ia inginkan hanyalah cepat bertemu istrinya.
Saat lalu pamannya memang menceritakan mengenai Nadine dan dirinya saat lalu, tetapi tidak ada yang tahu jika mereka bergerak secara mendadak, makanya Aron meletakkan beberapa anggota untuk menjaga Nadine.
Akan tetapi siapa yang akan mengira jika Baron mempertaruhkan segalanya, bahkan mengirimkan hampir semua anak buahnya hanya untuk membajak rumah sakit dan menculik satu orang wanita.
Sepertinya hanya itu satu-satunya cara agar dia bisa lepas dari kejaran Desmon.
Aron terus melakukan mobilnya dimana dia mempertaruhkan nyawanya dalam hal ini, tetapi ia tidak peduli yang penting keselamatan Nadine lah yang paling penting sekarang ini.
Disaat yang sama,
Penyelidikan Desmon yang berjalan sudah lebih dari sebulan itu selalu tertunda karena banyak sekali dokumen yang telah dimusnahkan mengenai banyak kasus yang sebenarnya ditimbulkan oleh Baron, akan tetapi ditutupi oleh oknum berpangkat tinggi di kepolisian.
"Tring ... Tring ... Tring!"
Desmon melihat jika assisten Aron, Liam sedang menghubungi dirinya.
"Halo?" sahutnya dengan suaranya yang berat itu.
"Halo, saya adalah assiten Pak Aron, kata Pak Aron mereka sudah bergerak dan sepertinya sekarang istri Pak Aron tengah diculik,"
"Dan menurut informasi Ibu Aron yang ada di rumah sakit yang sama tadi dengan Nona Nadine, sepertinya ada pembajakan besar-besaran di rumah sakit,"
Liam segera memberitahukan perintah atasannya dan hal itu membuat Desmon semakin murka.
"Brak!"
__ADS_1
Dia memukul mejanya sangat kuat, dia sedang ada di kantor kepolisian pusat, dan mengetahui tidak ada kabar atau pun pemberitaan sampai sekarang mengenai pembajakan rumah sakit membuat nya mengambil pistol di laci nya dan melangkah dengan murka ke ruangan dimana pimpinan wilayah pusat sedang bekerja sekarang.
"KALIAN MAIN-MAIN DENGANKU!" geramnya membuat seisi kantor panik saat Desmon membawa sebuah pistol di tangannya dan memasuki ruangan kepala kepolisian di gedung itu dengan sangat kasar.
"Brak!"
Suara hentakan itu terlalu keras membuat semua orang bertanya-tanya apa yang sedang terjadi sekarang.
Tanpa aba-aba Desmon langsung menodongkan pistol itu ke kepala pimpinan yang masih merupakan bawahan nya itu.
Terdengar bunyi satu klik dari pistol yang menandakan jika satu peluru sudah siap untuk di tembakkan.
Pimpinan yang memang sedang bertugas itu sekarang ketakutan dan pucat pasi, dia melihat dengan mata penuh ketakutan kepada Desmon yang sudah kehilangan kesabaran nya, pistol itu sudah siap dia tembakkan ke kepala pimpinan ini jika saja ucapannya tidak dijawab dengan benar.
"DIMANA DIA?" geram Desmon sudah yakin dengan teka teki yang selama ini ia pecahkan.
Walau belum ada bukti konkrit karena semua bukti lenyap tak berbekas, dia yakin jika Bajingan yang mengatakan dirinya pihak keamanan ini pasti bekerjasama dengan penjahat itu.
Dia menelan salivanya, tetapi dia masih mencoba pura-pura tidak tahu apa yang ditanyakan oleh Desmon.
"Ma ... maksud anda apa Pak?" serunya gemetaran dan semua anak buahnya yang hanya bisa melihat dari luar keheranan, baru pertamakali mereka melihat pimpinan mereka
pucat pasi, ketakutan seperti itu.
"Dor!"
Satu tembakan menembus tangannya, para anak buah dari pimpinan itu hendak melerai dan menghentikan tetapi anak buah dan ajudan Desmon mengehentikan mereka hanya dengan sebuah hentakan suara yang nyaring.
Semuanya tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi sekarang ini.
"Ahh, sakit!" teriaknya meringis dan segera terperanjat saat menemukan Desmon menyeringai mengerikan.
"Bukan hanya tangan mu saja nanti yang akan tembus bajingan, perutmu, otakmu bahkan matamu pun akan ku congkel jika kau tidak mengatakan jawaban yang benar!" geram Desmon sudah tidak bisa memberikan kelonggaran lagi.
__ADS_1
"Sa ... saya tidak mengerti Pak, saya sungguh-sungguh tidak tahu apa yang anda tanyakan!" masih mencoba menutupi, karena ia tahu jika dia jujur maka tamatlah karirnya saat ini juga.
Desmon langsung memanggil ajudannya mendekat.
"Kemari!" perintahnya dengan tegas.
"Iya Pak?" dengan hormat dan tegas pula ajudannya segera datang menunduk.
"Kirimkan semua personil kepolisian ke rumah sakit X sekarang juga, disana sedang ada pembajakan dan rupanya pimpinan disini sedang bekerja sama dengan bandit itu untuk memblokir komunikasi dan dengan sengaja mempermulus tindakan bandit yang sedang kita buron!" ucap Desmon langsung membuai pimpinan itu gemetaran ketakutan.
Mengapa Desmon bisa mendapatkan informasi mengenai rumah sakit itu?"
Bukankah komunikasi sudah diputuskan?
Pertanyaan itu tidak sempat berputar di kepalanya karena satu tembakan sudah menembus lengannya yang satu lagi.
"Aahhh ...." dia hanya bisa menjerit kesakitan.
Disaat ajudannya mengirimkan beberapa anggota ke rumah sakit, disini Desmon mencoba menginterogasi personal pimpinan kepolisian ini.
"Aku hitung sampai tiga, jika belum kau kasih tahu lokasi nya bukan hanya tanganmu saja tetapi selanjutnya kepalamu juga ...."
"Satu ...."
"Dua ...."
"Ti ...." sambil menarik pelatuk, Nyawanya sekarang sudah ada di ambang batas.
"Tolong ... Tolong ampuni saya, akan saya kirimkan lokasinya sekarang juga, dia gemetaran dan tidak bisa lagi mengelak.
Desmon segera mengambil lokasi yang diberikan dan anggota nya segera mengamankan pimpinan itu dan membuat nya lumpuh agar tidak bisa melarikan diri.
***
__ADS_1