
Episode 75 : Nadine tidak mau bertemu Aron
***
Kejadian sebelum Nadine pergi ke luar negeri,
Nadine selama satu minggu penuh berada di kediaman ayah dan ibu mertuanya, dia dirawat dengan baik dan penuh kasih sayang, dia sudah sedikit tenang tetapi hatinya tidak akan pernah melupakan ketakutan hebat saat ia diculik.
Sebelum dia pergi ke luar negeri dan memulai lembaran hidup baru, Nadine memutuskan untuk berkunjung ke desa nya, ke makam neneknya dan juga ayah dan ibunya.
Dia ingin mengucapkan salam perpisahan, selama tiga tahun ini dia mungkin tidak akan kembali untuk membekali dan menenangkan dirinya yang menerima beberapa rasa sakit di hatinya setelah menikah dengan pernikahan menyakitkan dengan Aron.
Setelah itu dia kembali lagi ke kediaman orang tua Aron.
Sebelum dia pergi besok, dan tidak akan lagi menemui Aron, Nadine menuliskan sebuah surat perpisahan juga sekalian mengembalikan cincin pernikahan yang entah mengapa selalu melekat di jari manisnya.
Dia melihat cincin pernikahan di jarinya, dia kemudian mengingat bagaimana posesif nya Aron dan sensitif nya Aron saat ia ingin melepas kan cincin pernikahan mereka, akan tetapi Aron sendiri tidak mengenakan cincin pernikahan mereka.
"Egois! kau hanya menyakiti hatiku, setiap kali ucapan mu menghancurkan aku berkeping keping, tetapi kau adalah lelaki pertama ku, malam itu kenapa kau mencari ku? kenapa kau menangis karena aku? apakah kau iba kepada ku?"
Nadine berbicara sendiri, sembari melepaskan cincin pernikahan nya, air matanya jatuh, saat ia pingsan samar samar dia merasakan bagaimana takut nya Aron dan bagaimana tetesan air matanya menyentuh wajahnya.
Setelah menghina nya dengan egoisnya Aron menyelamatkan nya, dua tindakan berlawanan yang membingungkan Nadine.
Tetapi keputusan nya sudah bulat, Nadine hanyalah penghalang hubungan antara Dara dan Aron, dia akan pergi, kesempatan yang diberikan orangtua Aron tidak akan ia lepaskan begitu saja.
Dia sudah tidak mau menjadi pelampiasan dan yang kedua, dia tidak mau menerima ucapan kasar yang menusuk hati yang jelas tidak pantas ia terima.
Pernikahan singkat nya dengan Aron akan ia simpan dalam dalam.
Nadine memasukkan cincin itu kedalam sebuah kotak beserta surat nya.
"Dengan begini, aku akan bebas, walau hatiku berat tetapi sejak awal tidak seharusnya kita bertemu dan menikah, hubungan kita sudah salah sejak awal," Nadine menutup kotak itu, melegakan hatinya dan hendak menitipkan nya ke ibu Aron sebelum ia pergi.
***
__ADS_1
"Nak, apakah kau tidak mau berbicara dengan Aron dulu, jika kau pergi tiba-tiba mungkin dia akan marah sekali, hanya untuk mengatakan salam perpisahan,"
Dahlia mencoba membujuk Nadine lagi, untuk menemui putranya sekali saja sebelum Nadine pergi.
Saat mendengar itu Nadine menunduk dan tidak tahu harus menjawab apa lagi.
Dahlia segera mengusap rambut Nadine lembut sekali, "Tidak apa jika kau tidak mau, mungkin hatimu memang membutuhkan waktu untuk bisa melihat nya lagi," ucap Dahlia lagi memahami sekali mengapa Nadine tidak mau berjumpa dengan Aron bahkan untuk terakhir kalinya.
Mungkin hati Nadine sungguh telah terluka dibuat putranya.
"Ibu, ini adalah surat dan cincin pernikahan kami, tolong kembalikan kepada Mas Aron ya Bu," ucap Nadine menyerahkan kotak itu.
Mengetahui jika Nadine sudah benar benar akan pergi, Dahlia langsung memeluk Nadine.
"Semoga hidupmu akan semakin baik ya sayang, maafkan jika pernikahan mu tidak seindah yang kau inginkan, kejarlah mimpi mu dan lupakan lah apa yang membuat mu sakit disini,"
Dahlia akan kehilangan sosok menantu yang ia inginkan, wanita baik baik, pandai bersikap dan jujur seperti Nadine.
"Terimakasih Ibu, aku akan rutin memberikan kabar kepada Ibu dan Ayah mertua," balas Nadine memeluk ibu mertuanya juga.
***
Kembali ke masa sekarang,
***
Seperti hilang di telan bumi, Aron sama sekali tidak bisa mendeteksi keberadaan Nadine, hari ini dia akan ke rumah orang tuanya mencoba menanyakan sebenarnya dimanakah istrinya itu.
Aron tidak menerima perceraian mereka, sampai kapan pun dia tidak akan terima, karena dia juga tidak menyetujui perceraian dirinya dan Nadine.
Sesampainya di kediaman orang tuanya, Aron sudah duduk di kursi sofa dimana ayah dan ibunya juga duduk disana.
"Ayah, dimana Nadine sebenarnya? kemana Ayah menyembunyikan dia? aku berjanji akan berubah dan tidak akan menyakiti nya lagi, katakan lah dimana dia Ayah." dengan wajahnya yang sudah terlihat tidak sabaran, matanya yang dalam namun kemarahan yang ia pendam.
Dia tidak ingin marah dan melampiaskan ketidak sabaran nya di hadapan orang tuanya jadi dia akan mencoba berbicara baik-baik.
__ADS_1
"Aron, Ayah sudah katakan sejak awal bahwa kau harus menjaganya, akan tetapi yang kau berikan kepada nya hanya luka dan kekecewaan, sudahlah Aron, lupakan saja Nadine, dia tidak ingin kembali kepada mu dan bertemu lagi dengan mu,"
"Lagian Ayah tidak menyembunyikan dia, dia lah yang ingin pergi dan menghilang darimu, kami mungkin ayah dan ibumu akan tetapi kau pantas mendapatkan hukuman ini, luka yang kau berikan kepada kepadanya akan memberikan dia traumatis, jadi dia ingin melupakan mu dan semuanya!" seru Alred Charlos yang masih kecewa sekali dengan putranya ini.
Dia langsung meminta kepada suster yang sudah rutin menjaganya agar membawa dia kembali ke ruangannya, bahkan Alfred sendiri masih membutuhkan waktu untuk memaafkan putranya ini.
Bagi seorang orang tua mengetahui putranya melakukan hal gila seperti ini tentu saja membuat Alfred merasa seperti ayah yang gagal.
Setelah ayahnya pergi, Aron mengepal tangannya kuat sekali, dia menggeram dan nafasnya sudah berat sekali.
"Aron, walau bagaimanapun aku ini ibumu, aku memang tidak bisa memaafkan kesalahan mu kepada Nadine, akan tetapi Nadine sungguh tidak ingin lagi bersama mu, dia ingin melupakan mu karena mungkin hatinya sudah hancur karena mu,"
"Menurut lah pada Ayahmu, dan berhenti mencari Nadine, biarkan dia mencari kebahagiaan nya di luaran sana," Dahlia juga sudah berdiri dan hendak pergi akan tetapi dia menyerahkan kotak yang di titipkan oleh Nadine kepadanya.
"Ini adalah pesan yang dia titipkan kepadamu, Ibu harap kau bisa merenungi kesalahan mu di kemudian hari,"
Dahlia menyerahkan kotak itu, dan dia kembali ke ruangan suaminya.
Aron yang mendengar perkataan ayah dan ibunya yang mengatakan jika Nadine begitu terluka karena dirinya dan tidak mau kembali bahkan tidak mau melihat nya lagi tidak tahu harus berbuat apa.
Satu hal yang pasti, kemarahan dan kekecewaan memenuhi hatinya.
***
Novel ini akan update setiap hari yaa, jadi mohon di tunggu, berikan komentar membangunnya biar aku makin bagus dalam menulis.
Btw aku tahu banyak kekurangan dalam novel ini, jika kalian menemukan ada salah ketik, tinggalkan komentar saja ya, biar ;langsung aku perbaiki hehe.
Makasih ya semuanya, lope you.
***
Jangan lupa follow ig author : @nitanaiibaho
Kalian bisa DM dan tanya2 disana
__ADS_1