
Episode 50: Peringatan keras!
***
Aron melangkah dengan mantap sampai kehadapan Dara, kemarahannya dan kekecewaan nya yang besar belum juga sirna dan dia ingin memberikan beberapa peringatan kepada Dara.
"Ayo kita bicara!" geram Aron hendak menarik tangan Dara, akan tetapi Dara segera menghempaskan tangan Aron.
Tom dan Dean Benson yang melihat itu segera berlalu untuk memberikan ruangan kepada keduanya untuk membicarakan masalah mereka.
"Mas, apakah kau sudah mencintai nya? kenapa kau kelihatan sekali membela nya? hanya beberapa saat kau sudah luluh kepadanya? apakah kau lupa janjimu?" teriak Dara yang menangis dengan hebat.
Air matanya sudah berurai, hanya membayangkan Aron memilih wanita lain saja sudah membuat nya hampir gila.
"Aku tidak pernah lupa dengan janjiku! janjiku akan terus aku ingat, memangnya menurut mu kenapa aku mempertahankan mu sampai sekarang ini? dengar ya Dara, ini bukan masalah aku sudah mencintai Nadine atau tidak, ini masalah ke teledoran mu! apa yang ada di pikiran mu saat mengundang banyak sekali orang!"
"Jika sekali lagi kau melakukan kesalahan yang sama, aku tidak akan memberikan kesempatan kedua untuk mu, dan masalah perasaan ku kepada Nadine, aku akan jujur dia memang berbeda dan aku merasakan sesuatu yang aneh dengannya! tapi tenang saja jika kau tidak melakukan kesalahan lagi aku tidak akan mencampakkan mu!"
Ancam Aron benar benar serius kali ini, dia sungguh kecewa sekali dengan tindakan Dara kali ini, yang dengan teledor nya mengundang banyak orang disaat pernikahan mereka saja hanyalah pernikahan rahasia.
__ADS_1
Kali ini Aron benar-benar serius dan akan sungguh sungguh melakukan apa yang ia katakan jika saja Dara tidak mengindahkan peringatannya.
Setelah Aron memberikan peringatan itu, Aron segera beranjak pergi, dia akan menghubungi asistennya untuk membereskan masalah yang tidak ia sangka sangka malam ini.
Pastinya akan membutuhkan dana fantastis untuk menutup mulut mereka agar informasi tidak sampai bocor.
Setelah Aron pergi,
Dara langsung melempar gelas Sampanye yang ada di tangannya sampai berserakan di lantai.
Dan seperti wanita yang buta akan kecemburuan dia mencengkeram tangannya dan matanya tajam sekali.
"Wanita kampungan sialan itu! Hanya sebentar dia datang ke kehidupan ku dan Aron akan tetapi dia sudah bisa membuat Aron mengancam dan membentak aku! Akan ku habisi kau sialan! Rasa sakit hati dan malu ku hari ini akan aku balas ratusan kali lipat!" geram Dara mengibarkan bendera perangnya kepada Nadine.
Bagaimanapun Dara merasa kesialan dan penghinaan ini tidak akan ia rasakan jika wanita perebut suaminya itu tidak ada.
Jadi bagi Dara, Nadine harus membayar mahal atas semua ini.
Waktu akhirnya berlalu, walaupun Aron sedikit mabuk akan tetapi dia masih memiliki kesadaran untuk memberikan perintah kepada asisten nya.
__ADS_1
Minuman beralamat bukan lah hal mengejutkan bagi tubuhnya jadi dia sudah bisa menoleransi rasa mabuk nya.
Setelah berbicara dengan asisten nya, Aron menghela nafasnya panjang dan empat mengapa kakinya melangkah sendiri ke ruangan dimana istrinya berada.
Dia membuka pintu yang tadi ia kunci dan menemukan jika Nadine sudah tertidur lelap di atas kasur, masih menggunakan pakaian cantik Nadine benar benar terlelap seperti bayi.
Aron perlahan duduk di sisinya, mengusap rambut panjang Nadine dan mengecup keningnya.
"Padahal kau sudah berdandan untuk ku," Serunya pelan sampai saat ia ingat ucapan Nadine yang berani mengatai nya murahan saat lalu.
"Gerrr!!" Seperti monster wajah Aron segera berubah seolah hendak melahap Nadine.
"Aku lupa wanita ini mengatakan aku murahan!" geram Aron menatap tajam kearah Nadine.
Tetapi wajah marahnya itu berubah menjadi tawa kecil.
"Wajahnya lucu sekali saat dia ketakutan dan masih berani melawan! Dasar kucing pelawan walau takut tetapi masih mencoba mencakar! Semakin aku mengetahui kepribadian aslimu semakin aku merasakan hal lain,"
"Ah, hukuman karena melawan ku besok saja lah, malam ini kau tidur saja sebelum besok kau akan mati kelelahan! Ha ha ha ha!" tawa menggelegar Aron menggema dalam dirinya.
__ADS_1
Sungguh lelaki yang memiliki gairah berlebihan ini masih saja tertuju ke hal hal nakal.
***