
Episode 124 : Nadine dalam bahaya.
***
Nadine yang sebenarnya lapar sekali sudah tidak bisa menolak lagi, ukuran roti itu memang terlalu kecil jika dibagi dua, Nadine segera melahap roti yang diberikan, bahkan walau perutnya kecil roti kecil yang ia makan tidak bisa membuat nya kenyang.
Sedangkan Aron yang sejak tadi menahan lapar hanya bisa menelan salivanya, dia beranjak kearah sungai sebentar untuk meneguk air sungai sampai ia merasa kenyang.
Lalu keduanya saling bersandar di dahan pohon, Nadine bersandar di pundak Aron.
Mata mereka sama-sama tertuju ke arah bintang.
"Kak ..." Nadine masih menggenggam erat sekali tangan Aron, dan dia yang sudah sadar jika dia tidak lagi memiliki siapapun menahan tangisannya.
Sungguh anak enam tahu seperti dirinya benar-benar terpaksa dewasa oleh keadaan.
"Ada apa? tidurlah, jangan bawel!" seru Aron memejamkan matanya, dia ingin beristirahat, dia yakin ayah dan kakeknya sedang menelusuri hutan dekat mobil mereka tabrakan dan hanya menunggu beberapa saat lagi mereka pasti ditemukan.
"Jangan tinggalkan aku ya Kak, aku takut, sejak kemarin kepalaku sakit, aku takut jika saat bangun aku tidak melihat siapa-siapa, aku hanya punya Kakak sekarang, jadi tolong jangan tinggalkan aku," Nadine menahan tangisannya, dia memeluk Aron kuat sekali
Suara-suara binatang dan serangga di hutan begitu mengerikan, membuat dia takut sekali, tetapi Aron sungguh bisa membuatnya tenang.
Saat mendengar itu Aron membuka matanya, melihat bintang yang terlihat begitu megah di atas sana, dia merasa suasana begitu sepi.
Wajah pucat nya, perut yang sangat sakit dan kepalanya yang pusing sekali membuat nya hampir pingsan, tetapi ia tahan matanya agar tetap terjaga.
"Aku berjanji, akan menjaga mu ...." ucapan nya pelan sekali, ternyata hanya sampai disinilah tubuhnya bisa bertahan, matanya akhirnya terpejam dan nafasnya lemah sekali.
Yang ia dengar terakhir kali sebelum akhirnya pingsan hanyalah suara Nadine yang bernyanyi tipis dan lirih untuk menghilangkan ketakutan nya.
__ADS_1
***
Kembali ke masa sekarang,
"Brak!"
Suara benturan mobil yang menabrak pembatas jalan membuat Nadine terbangun dari pingsan nya, dia melihat sekitarnya yang dipenuhi para penjahat yang memiliki tato yang sama dengan lelaki yang menculik mereka dan menyekap mereka saat lalu.
Dia menangis histeris, ingatan yang kacau dan terkubur selama puluhan tahun menyeruak begitu saja membuat kepalanya terasa begitu berat dan sakit sekali.
Rasa sakit yang terkubur dan tertahan selama bertahun-tahun membuat hatinya seolah hancur remuk begitu saja.
Ingatan tentang ayah dan ibunya yang telah hilang membuat penderitanya begitu nyata.
Kehilangan ingatan tentang ayah dan ibunya yang mengalami kisah tragis, kehilangan nyawa di hadapan anaknya sendiri sebenarnya telah menyelamatkan Nadine dari trauma hebat.
"Kak Aron ...." suaranya bergetar hebat, dia hanya bisa memegangi kepalanya, semua wajah para penjahat yang menculiknya terlihat blur dan tidak jelas.
Waktu seolah berhenti, mobil yang digunakan para penjahat itu untuk menculik dan melenyapkan Nadine di markas mereka yang berada di tengah hutan telah menabrak pembatas jalan karena menghindari beberapa mobil anggota Aron yang mencegat mereka dari arah depan.
"Brengsek!" geram anggota Baron yang menyadari jika mereka telah terkepung.
Entah dari mana semua orang yang mencegat mereka ini tahu informasi mengenai penculikan Nadine, padahal kata Bos nya mereka pasti bisa membawa Nadine tanpa gangguan karena informasi ke pihak media dan kepolisian telah di blokir.
Karena benturan mobil ke pembatas jalan tidak terlalu keras membuat yang terluka hanyalah supir.
Dan mengetahui keadaan mereka sedang terpojok membuat anggota Baron yang melakukan penculikan itu mengambil senjata api di tangan dan menyeret Nadine yang sedang merasa trauma saat mengingat kembali betapa mengerikannya dahulu saat mereka terjebak di hutan dan melihat ayah dan ibunya meninggal di depan matanya sendiri.
"Srek!"
__ADS_1
Dua orang dari anggota Baron yang berada di jok belakang, yang sedang mengawal Nadine keluar dari dalam mobil membawa Nadine sebagai tawanan mereka.
Keduanya menodongkan pistol di kepala Nadine dan menyeret Nadine keluar sebagai sandera.
Wajah pucat dan gemetaran hebat, dia tidak bisa melihat apapun secara jelas, pandangan matanya mencari-cari seseorang, dan orang itu sudah ada di hadapannya.
"Kak Aron?" serunya hendak berlari.
Rasa takut ini sama dengan rasa takut saat lalu mereka diculik, seolah Nadine terjebak dengan masa lalunya dan ingatan yang menyedihkan juga memilukan.
Dia ingin berlari dan menggenggam tangan lelaki itu, bersembunyi di belakangnya dan mendekapnya erat erat seperti dulu.
***
Disaat yang bersamaan Aron yang sudah sesak nafasnya, sakit hatinya melihat istrinya menangis tak berdaya hendak meraih tangannya.
Entah kenapa dia merasa ada yang berbeda dengan Nadine, wajahnya pucat sekali dan dia tiada hentinya dia ingin berlari dan meraih tangan Aron.
"Nadine ...." seru Aron tidak bisa mendekat, jika ia mendekat maka nyawa Nadine akan dalam bahaya.
***
Author : Guys disini author mau minta maaf yaa, novel ini bener bener aneh menurut ku, mungkin karna sejak awal alur ku yang asli dirubah 🥺 jadi saat melanjutkan novelnya Serasa ga ada jiwa lagi novel ini.
Aku tahu banyak sekali kejanggalan dan kekurangan, tapi aku tidak akan menutup diri dari kritik dan saran, mungkin akan nyakitin tetapi selama itu kritik yang betul betul kritik dan tidak menghina aku sangat senang menerima.
Mungkin novel ini akan menjadi novel terakhir tentang poligami, jika ingin membaca novel yang alur nya bener bener sesuai dengan author kalian tinggal buka beranda dan lihat judul yang lain aja.
Maaf sekali lagi semuanya, aku sayang kalian 🤍
__ADS_1