Berbagi Cinta : Sebenarnya Istri Ke-2

Berbagi Cinta : Sebenarnya Istri Ke-2
Aku ingin bercerai.


__ADS_3

Episode 72 : Aku ingin bercerai.


***


Sudah dua hari berlalu sejak hari itu, Nadine tidak mau bertemu dengan Aron, dan Nadine sekarang sudah hampir sembuh.


Dahlia dengan setia menjaga Nadine, dia tidak ingin menyuruh pelayan karena dia ingin membuat Nadine sadar jika Nadine tidaklah sendirian di dunia ini, masih ada dia dan suaminya.


Hari ini Alfred juga sudah datang mengunjungi menantunya yang sudah kelihatan cantik lagi dan terlihat sehat, Alfred sangat lega, akan tetapi hari ini Nadine akan memberitahukan sesuatu.


“Bagaimana Nadine? Ibu dan ayah mertuamu pasti akan tetap mendukung mu apapun yang terjadi, ibu tidak akan memaksa mu kembali kepada Aron juga, jadi katakan lah keutusan mu,” Dahlia membuka pembicraan karena sepertinya Nadine sedikit takut untuk memulai.


Dua hari lalu, saat Nadine siuman dan sudah bisa berbicara, Dahlia menyuruh Nadine memikikran keputusannya yang hendak bercerai dari Aron, karena saat mereka menangis berdua dan sudah tenang, Nadine mengungkapkan ingin mengakhiri pernikahan palsu nya dengan Aron.


Dan sekarang sepertinya Nadine ingin mengatakan hasil dari pikirannya.


“Ayah, Ibu, aku senang sekali kalian mencintai aku, keputusan ku masih sama, aku ingin bercerai dengan Mas Aron, hubungan kami sudah salah sejak awal, dan aku akan menderita jika melihatnya lagi, aku ingin hidup mandiri, setelah luka yang aku terima, aku akhirnya tahu jika aku terlalu naif dan polos,”


“Aku ingin belajar ke luar negeri dan ingin bisa membangun yayasan seperti nenek ku suatu saat nanti, aku ingin mengobati luka ku dengan menyibukkan diriku dan melakukan kebaikan,”


Nadine berbicara selembut mungkin, dia menunduk namum Dahlia segera menggenggam tangan menantunya, walau hatinya sakit tetapi dia akan menerima keputusan Nadine.


“Dengar Nak, walau kau bukan istri putra kami lagi pun, kami akan tetap menjaga mu, kau akan tetap menjadi menantu tercantik dan paling kami sayangi, ayah dan ibumu menitipkan mu kepada kami, jadi kalau kau bercerai dengan Aron, maka kau akan kami dampingi sampai mandiri, kami akan mengurus semuanya, mengirim mu ke luar negeri dan belajar disana, sampai kau memiliki bekal sendiri,”


“Jangan khawatir, kami akan memastikan Aron tidak akan bisa menemui mu,”


Dahlia berbicara dengan bijak sekali, dia tidak ingin hati menantunya ini semakin terluka lagi jika dia menolak keinginan Nadine.

__ADS_1


“Ayah … Ibu mertua, terimakasih,” seru Nadine menangis dan sangat bersyukur Tuhan masih mengirimkan kedua orang baik ini sebagai tangganya untuk melangkah maju.


Keputusan itu sudah bulat, dan Alfred juga Dahlia segera mengurus kepentingan dan dokumen yang Nadine butuhkan, tanpa sepengetahuan Aron.


Satu minggu telah berlalu, kerinduan yang memekik dan rasa kehilangan karena tidak melihat istrinya selama satu minggu membuat Aron sudah tidak tahan dan hendak ke rumah orangtuanya melihat keadaan Nadine.


Dahlia mengatakan kepada Aron seminggu yang lalu jika Nadine akan tinggal di rumah orangtuanya, dan Aron dilarang bertemu dengan Nadine, dengan alasan demi kesehatan Nadine.


Dengan terpaksa Aron harus menurut karena dia juga tidak ingin istrinya itu sakit lagi karena dirinya, karena sungguh walaupun Dara yang menyuruh para penjahat itu akan tetapi yang mengusir dan menghina Nadine malam itu adalah dia sendiri, jadi rasa bersalah masih memenuhi kepalanya.


Sampai saat beberapa menit kemudian ada telepon dari ayahnya.


“Tring … Tring … Tring!”


“Halo Ayah, apakah aku sudah bisa menemui Nadine?”


Aron menjawab dengan sangat bersemangat, akan tetapi jawaban ayahnya membuat Aron seolah tidak percaya.


Itulah apa yang Alfred katakan sebelum akhirnya ia mematikan panggilannya.


Dunia seolah runtuh, dia bahkan harus mengatur pernafasannya karena merasa sesak.


Dia langsung melempar ponselnya sampai pecah, dia berteriak dan mengusap kasar rambutnya.


“Aaaa!”


“Tidak mau bertemu denganku?”

__ADS_1


“Bercerai?”


“Aku sudah bercerai dengannya?”


“Tidak boleh!”


Aron berteriak di dalam kantor pribadinya, lalu ia bergegas ke meja kerjanya menghubungkan telepon kantor nya ke Liam.


“Liam ….” Dengan terburu buru dan mencoba tenang Aron menghubungi assisten pribadinya.


“Nadine, kau tahu kan kemana dia pergi? cepat jawab aku!” teriak Aron kepada Liam.


“Maaf Pak, akan tetapi saya juga tidak tahu, yang tahu hanyalah Tuan Alfred dan Nyonya Dahlia.” Jawab Liam jujur, karena sungguh dia memang tidak tahu.


“Sial!” teriaknya lagi langsung mencoba mencari sendiri keberadaan Nadine, menyewa IT termahal, bahkan mencoba mencari Nadine ke setiap pelosok negeri, akan tetapi semuanya nihil.


Entah bagaimana cara Alfred mengatur semuanya akan tetapi mereka membuat Nadine seperti ditelan bumi dan tidak bisa di temukan oleh Aron.


***


Novel ini akan update setiap hari yaa, jadi mohon di tunggu, berikan komentar membangunnya biar aku makin bagus dalam menulis.


Btw aku tahu banyak kekurangan dalam novel ini, jika kalian menemukan ada salah ketik, tinggalkan komentar saja ya, biar ;langsung aku perbaiki hehe.


Makasih ya semuanya, lope you.


***

__ADS_1


Jangan lupa follow ig author : @nitanaiibaho


Kalian bisa DM dan tanya2 disana


__ADS_2