
Episode 122 : Nadine lebih utama ...
***
Dokter itu sudah datang membawa dua jarum suntik berisikan cairan, “Anak anak yang malang,” ketusnya geleng geleng kepala sembari menyuntikkan dengan cepat ke area pergelangan tangan.
Aron adalah yang pertama menerima suntikan, lalu yang kedua adalah Nadine.
Rasanya sangat sakit saat cairan kimiawi itu masuk ke tubuh kecil mereka, saking sakitnya keduanya segera pingsan dan tidak sempat mengeluh sakit.
Wajah mereka tiba-tiba membiru.
“Apakah mereka mati? Jika mereka mati bisa gawat jika mereka sungguh anak-anak dari keluarga Charlos!” seru salah satu anggota yang mengawasi kejadian itu atas perintah Baron.
“Mereka tidak akan mati, tubuh mereka hanya terkejut dan butuh beberapa waktu sampai akhirnya bisa menerima, tenang saja!” balas dokter itu yang sebenarnya juga tidak tahu efek samping apa yang akan diterima oleh kedua anak ini.
Setelah itu semuanya pergi dan hanya satu yang menjaga Aron dan Nadine disitu.
“Tak … Tak … Tak!”
Tendangan kaki yang pelan membuat mata Aron perlahan terbuka, dia lemas sekali, ikatan tangannya sudah terbuka, dia langsung bangkit memeriksa Nadine yang masih kelihatan tidak sadarkan diri.
“Makanlah kalian, jika kalian mati aku yang akan kena amuk!” ketus anggota Baron yang sedang menjaga mereka.
Anggotanya ini benar benar telah remeh, dia tidak sudi menyuapi keduanya sampai rela melepaskan ikatan tangan agar mereka bisa makan sendiri.
Dia memberikan dua roti untuk mereka makan.
__ADS_1
Setelah ia memberikan roti itu, dia kembali ke luar ruangan dan bersantai lagi.
Sedangkan Aron,
Dengan lemah dia meraih tangan Nadine, “Nadine, bangun lah, kau lapar kan?” seru Aron dengan pelan, bagaimana pun tenaganya juga sudah terkuras habis.
Tetapi Nadine belum bangun juga, dia semakin panik, dia menggoncangkan tubuh Nadine dan memanggilnya berulang kali.
“Nadine ….”
Sampai pada panggilan terkahir akhirnya Nadine mulai membuka matanya, bibirnya yang pucat dan pecah pecah itu terlihat sangat menyedihkan, Aron yang selama ini memang jahil tidak tega melihat kondisi Nadine yang terlihat tidak kuat berada dalam keadaan seperti ini.
Hatinya sakit hanya dengan melihat kondisi lemah dan wajah pucatnya, padahal dia sendiripun dalam kondisi yang memprihatinkan juga.
“Kak Aron ….” Suaranya pelan sekali, lalu ia mencoba duduk tetapi tubuhnya terlalu lemah.
Aron mengambil roti dan mengambilnya sedikit demi sedikit, dia menyuapi Nadine yang kelihatan lahap sekali, mungkin dia memang sedang kelaparan.
“Aku haus Kak,” seru Nadine pelan, dia melihat Aron yang sedang celingak velinguk, memperhatikan dan ternyata tidak ada air minum di ruangan itu.
“Tunggu sebentar ya disini,” seru Aron meletakkan Nadine sebentar, dia merangkak menuju pintu kurungan mereka, dia mengetuk pintu agar penjahat itu mendengarkan.
“Minum ….” Serunya dengan sekjuat tenaga.
“Ck! Dasar anak anak tidak diuntung! Mengganggu saja!” geramnya yang sejak tadi sedang tiudran santai diliuar.
“Brak!”
__ADS_1
Dia membuka pintu kurungan dan melemparkan sebuah minuman yang ada di botol kecil.
“Jika kalian mengganggu aku sekali lagi, aku akan menjadikan kalian makanan binatang buas di hutan ini!”
Geramnya langsung membanting pintu dengan sangat kasar.
Lalu ia segera melanjutkan tidur santainya.
Sedangkan Aron yang melihat air minum yang sedikit itu, dia meraihnya dan kembali memberikan minuman sedikit demi sedikit ke bibir pucat Nadine.
Satu roti sudah habis, Aron menelan salivanya saat melihat satu roti yang terakhir, perutnya sudah keroncongan, bibirnya sudah kering karena dia juga belum minum.
Tetapi dia tahu jika Nadine lebih lemah, lebih baik menyimpan roti dan minuman tersisa untuk dimakan Nadine nanti, dia pasti bisa menahannya sedikit lebih lama.
Setelah beberapa saat Nadine sudah bisa duduk, dia melihat Aron sedang bersandar di dinding memegang tangannya kuat sekali, dia memejamkan matanya membuat Nadine ketakutan, “Kak … bangun, Kak,” Nadine panik, dia kira Aron akan berakhir seperti ayah dan ibunya juga.
Tetapi sepertinya ketakutannya tidak berarti, karena Aron segera membuka matanya, “Kau sudah ada tenaga?” tanya Aron pada Nadine.
Bahkan saat ia bangun pun, yang pertama kali dia khawatir kan adalah Nadine.
Bagaimana pun Aron sekarang sudah memiliki tanggung jawab, Adam menyerahkan putrinya kepada Aron, dan Aron sudah berjanji akan menjaga Nadine.
Oleh karena itu Aron akan berusaha sekuat tenaganya untuk menjaga Nadine yang sudah sebatang kara.
Sedangkan Nadine, saat mendengar pertanyaan Aron, dia segera mengangguk, menyetujui ucapan Aron.
“Oke, kalau begitu ikuti aku ya, jangan lepaskan tanganmu,” bisik Aron membuat Nadine semakin menggenggam erat tangan Aron.
__ADS_1
Lalu setelah itu Aron menuntun Nadine melangkah ke arah pintu, tadi saat penjahat itu kesal sekali melempar botol minuman, dia lupa mengunci pintu kurungan, Aron sudah memperhatikan ini sejak awal, jika lelaki yang sering membentak mereka itu terlalu meremehkan mereka karena Aron dan Nadine masih kecil.