
***
Nafas Aron berat sekali, terasa panas di kulit Nadine, mereka berada dalam jarak yang begitu dekat sampai Nadine bisa merasakannya, wajah Nadine yang pucat namun cantik sekali, tidak pernah Aron merasa darahnya berdesir dan gairahnya memuncak melihat wanita pucat yang jelas jelas tidak ia suka dan menolaknya.
Matanya yang tajam dan bola matanya yang hitam, hanya melihatnya saja akan membuat orang bergetir takut, tetapi Nadine mengalihkan pandangannya untuk mengindari bersitatap dengan suaminya.
Bagi Nadine bersitatap dengan lelaki ini seperti menantang maut dan mengiris hati, setiap melihatnya dia akan ingat pernikahan tidak bahagia, dan ancaman yang selalu terucap dari mulutnya, seolah membuat Nadine seperti manusia tidak memiliki hati yang jika mendengar ancaman dan hinaan tidak akan menangis.
Air matanya menetes dan saat itulah ada gelora dan rasa aneh, sakit dan mendebarkan di jantung Aron, dia merasa tubuhnya panas, dia menelan salivanya dan gilanya ia yang bisa ia lihat hanyalah bibir manis merah milik Nadine, ia ingin segera melahapnya dan menggigitnya, tidak sabar ia ingin merasakan kegiatan panas penyatuan yang membuat dahaganya puas.
Selama ia memiliki hubungan dan bercinta dengan banyak wanita sebelumnya, tidak pernah Aron merasa seperti ini, sebuah gejolak yang tidak ia mengerti dan pahami seperti sedang berteriak minta di puaskan.
Tidak seperti saat ia berhubungan dengan Dara atau wanita masa lalunya yang lain, wanita ini, istri keduanya ini memberikan sensasi terbakar yang aneh, wanita ini seperti ekstasi yang membuat ketagihan.
__ADS_1
“Haaahhh!” nafasnya semakin berat, salah satu tangannya menarik tangan Nadine sampai keatas kepalanya, mencengkeramnya agar tidak bisa melepaskan diri darinya, salah satu tangannya yang lain meraih dagu Nadine dan mendekatkan bibir mungil Nadine kearah bibir nya.
Sejenak Nadine sadar saat melihat suaminya, matanya telah berubah menjadi mata monster yang haus akan dahaga, matanya terbelalak dan dia ingin segera melarikan diri, tetapi seperto mangsa yang telah ditangkap oleh predator, Nadine telah tertangkap oleh lelaki ini dan tidak bisa melarikan diri.
“Nadine, kau bilang setuju untuk memberikan aku anak kan? Kau harus bertanggung jawab dengan ucapanmu, sayang,” bisiknya dengan nada yang datar dan menggoda, ia berbicara tepat dihadapan bibir Aron.
Nadine bisa merasakan nafasnya dan bau mint yang terasa di bibirnya.
Aron seperti monster tak terkendali, matanya sudah terpejam dan dia terlihat menikmati ciuman menuntut dan panas nya, dia mendorong kuat kedalam mulut Nadine, Nadine mencoba meronta dan memiringkan wajahnya, tetapi tenaga lelaki ini sangat besar dan dia begitu kokoh, tidak bisa Nadine melarikan diri darinya.
Aron meraih tangan Nadine, pergelangan tangannya yang dibalut oleh perban oleh Tom tadi membuatnya berdesir kesal, “Aku tidak suka saat Tom menggenggam tanganmu, tanganmu milikku,” bisiknya meraih tangan Nadine dan lalu mengecupnya dalam sekali, dia menatap tajam kearah Nadine yang masih belum bisa menerima perlakuan mengejutkan lelaki ini.
Nadine tidak putus asa, dia mencoba mendorong Aron yang sejenak memberinya ruang saat ia mengecup tangannya, “Mas, kita harus ke rumah ayah dan ibu mertua, aku tidak ingin terlihat sakit dan membuat mereka khawatir,” dengan sangat terbata bata dan takut memenuhi kepala, Nadine mencoba menyadarkan Aron yang seperti tengah kehilangan kendalinya barusan.
__ADS_1
Aron yang mendengar kata ayah itu segera berhenti, dia menatap tajam kearah istri keduanya dan dia mengusap pipi Nadine yang kelihatan tengah memerah ketika menerima perlakukan erotis dan nakal darinya.
“Apakah aku gila? Wajahnya, ekspresinya, aroma tubuhnya dan caranya berbicara membuat darahku mendidih dan ingin segera melahapnya, sekarang juga aku ingin menutup mulutnya dengan mulutku dan melakukan penyatuan habis habisan untuk memuaskan dahagaku, wanita ini sangat berbahaya, dia membuat aku ketagihan, seperti racun!” geram Aron terdiam memandangi wajah istrinya yang masih kebingungan sekali mendapati kebuasan Aron yang tiba tiba itu.
Apakah karena Tom yang berbicara lembut atau karena Nadine membalas Tom dengan senyuman ramah, Aron tidak mengerti tetapi sekarang hatinya sedang terbakar dan gairah selalu memuncak jika melihat Nadine dan berada di dekatnya.
***
Guys jangan lupa ya di like dan komen, terlepas dari lomba aku akan mencoba membuat novel ini berbeda dari yang lain ya, soalnya inti ceritanya sudah banyak sebenarnya ditulis oleh orang lain, semoga aku bisa membuat nya jadi berbeda ya.
Dukung aku terus ya dan jangan lelah memberikan saran agar aku bisa semakin bagus membuat novel nya.
Terimakasih semuanya, lope you
__ADS_1