
Episode 115 : Kecerobohan mengundang malapetaka.
***
"Kau lihat? ini adalah anak kandung Aron! bagaimana rasanya saat kau menjadi istrinya sekarang tetapi wanita lain malah memberikan suami mu anak? hahaha, pasti mengerikan kan Nadine?"
"Itulah yang aku rasakan saat kau tiba-tiba datang dan menghancurkan hidupku! kau penghancur kehidupan orang lain, kau tidak pantas bahagia!"
Dara berteriak, menangis dan sambil tertawa, kesulitan hidup selama tiga tahun tidak bersama Aron, tidak dibiayai Aron dan tidak bisa hidup sesuai dengan yang ia mau sepertinya telah membuatnya menjadi gila.
Nadine hanya mendengarkan sebentar, lalu ia menyeringai.
"Kau berani mengejek aku? kau berani? kau kira siapa kau?" teriaknya lagi menggenggam erat anaknya yang sepertinya dalam kondisi tidak baik-baik saja sekarang ini.
Nadine yang melihat bagaimana buruknya Dara memperlakukan bayinya sudah tidak tahan dan ingin segera mengambil bayi itu dari gendongan Dara.
"Benarkah anak itu anak suamiku?"
Nadine mencoba bertanya dengan tenang, hendak mencari kesempatan untuk mengambil anak yang kelihatan sudah lemas di dekap terlalu kencang oleh karena kemarahan Dara.
"Pffttt! ha ha ha!"
"Iya! ini anak dari suami mu! karena aku sudah memiliki anaknya maka sebaiknya kau pergi saja dan ceraikan dia, kembalikan Aron kepadaku, dia hanya boleh menjadi milikku!" balas Dara merasa dia akan menang.
__ADS_1
Melihat Nadine seolah mempercayai ucapannya.
"Dasar gadis kampung bodoh!" itulah hinaan yang ia katakan dalam benaknya untuk Nadine.
"Jika dia sungguh anak dari suamiku, bisakah kau tunjukkan kepadaku wajahnya? jika dia anaknya pasti akan mirip dengan ayahnya bukan?" Entah apa tujuan Nadine akan tetapi dia tetap bertanya dengan tenang sekarang ini.
"Ti ... tidak sudi, aku tidak mau menunjukkan wajah anak ku kepada wanita kampungan seperti mu!" geram Dara entah kenapa gugup sedikit setelah mendengar pertanyaan itu.
"Baiklah, tapi bisakah kau jelaskan kenapa kau mengatakan aku adalah perebut suami orang, jelas jelas aku adalah istri sah Aron sejak dulu, sedangkan kau adalah istri gelap yang hanya memanfaatkan kekayaan nya, bukankah sejak dulu kau lah yang menyia-nyiakan kebaikan hati Aron?"
Nadine sudah sedikit terbawa suasana, dia mencengkeram tangannya sembari matanya masih mencoba mengikuti gerakan tangan Dara yang sedikit mencengkeram bayi tidak bersalah di tangannya sekarang ini.
"Heh! Nadine, wanita naif yang menjijikkan! apakah kau kira semuanya bisa baik-baik saja jika kau berbicara lembut kepadaku seperti ini? heh, menjijikkan!"
"Kau itu terlalu bodoh dan naif, tentu saja aku berbohong kepada media agar orang kasihan kepadaku dan menghujat mu sampai depresi! dan kehadiran anak ini, orang orang akan percaya jika aku katakan ini anak Aron. Mereka tidak akan tahu jika aku berbohong, jika anak ini hanyalah seorang anak yang aku gunakan untuk menjebak mu dan Aron."
Dara berbicara seolah dia sudah menang telak, dia merasa Nadine ternyata masih sama saja seperti dulu, sama sama naif dan lemah seperti dulu.
Skenario Dara memang sangat sederhana akan tetapi dia melibatkan publik atau masyarakat luas yang akan langsung iba jika mendengar ceritanya, saat masyarakat sudah simpatik kepada dirinya maka akan sulit mengungkapkan kebenaran.
Dara melihat Nadine masih tetap menjadi wanita lemah yang mudah untuk ditindas, dia ingin mendominasi Nadine dengan mengatakan kebenaran.
Dara yakin, saat kebenaran bahwa anak ini memang bukan anak suaminya tetapi disaat yang bersamaan tidak ada yang percaya kepada Nadine pasti akan membuat Nadine lebih menderita.
__ADS_1
Nadine menangis saat melihat Dara tersenyum penuh kemenangan, dia menunjukkan wajah lemah dan terluka, tubuhnya bergetar hebat dan dia menatap Dara yang mendekat kearah nya dengan mata penuh linangan.
"Jadi, anak itu bukan anak dari suamiku? kau hanya ingin menghancurkan aku saja? dan kembali kepada Aron menggunakan anak itu? benar begitu?"
Sambil tersedu-sedu dan terlihat begitu terluka dan lemah, dia berhasil membuat Dara bersemangat dan riang, merasa dia telah menang dalam hal ini.
"Iya, anak ini bukan anak Aron, tetapi anak ini akan segera menjadi anak Aron, karena dia akan menjadi kunci agar hidup ku penuh kekayaan dan bergelimang harta! ha ha ha!"
Dara tertawa, dia sudah ada di hadapan Nadine yang menangis tersedu-sedu, merasa terluka oleh ucapan kasar dan rencana Dara.
Tetapi ....
Hanya beberapa saat setelah Dara terpancing, dan merasa telah menang, seseorang yang merupakan anggota Aron sudah memasuki ruangan itu dan menahan tangan Dara, disaat yang sama juga Nadine langsung mengambil anak bayi yang kelihatan sudah lemas di tangan ibunya sendiri.
Dara kebingungan karena begitu cepat kejadian itu terjadi, dia berontak dan mencoba meraih anaknya yang sudah ada di gendongan Nadine.
Nadine mengusap air mata pura-pura nya, lalu memeriksa keadaan anak bayi yang sepertinya sedang demam tetapi tidak diobati oleh Dara.
"Apa ini? kenapa kau ambil anakku? lepaskan aku? apakah kau tidak tahu siapa aku? bajingan!" teriaknya berontak sekuat tenaga.
Nadine langsung tersenyum melihat Dara yang sudah seperti orang gila sekarang ini, "Dara, kau itu bodoh ya? apakah kau kira aku akan tetap menjadi Nadine yang dulu? heh!"
"Kau bilang tadi kau merencanakan untuk mengambil hati publik dengan kebohongan kan? sekarang aku akan menunjukkan kepadamu cara mengambil hati publik dengan fakta kebenaran!" ucap Nadine melihat ke arah dinding yang sudah berubah menjadi proyeksi layar yang menunjukkan jika sejak tadi percakapan antara Nadine dan Dara memang di rekam dan langsung live ke seluruh negeri.
__ADS_1
Jadi sebenarnya saat Nadine dihubungi oleh Aron, Nadine sudah mencetuskan rencana ini, dia tahu Dara pasti akan keceplosan jika memang anak itu bukan anak Aron melihat betapa ceroboh nya dia dalam tindakannya ini.
Dara yang semakin gila karena dijebak oleh kecerobohan nya sendiri tak bisa berkata-kata dan hanya menangis dan berteriak, disaat yang sama Nadine sudah bergegas hendak menuju rumah sakit untuk merawat anak bayi milik Dara.