
***
Episode 130 : Nadine mengidam dan kasus selesai.
***
Setelah pertemuan antara Desmon dan Nadine usai, Nadine sekarang kembali ke rumah sakit, hendak menunggu suaminya kembali siuman.
Pandangan matanya melayang ke ruas ruas jalan raya, dia harus bisa menerima kenyataan di masa lalu, dia harus tegar dan bisa menerima rasa sakitnya.
Dia harus bertahan demi Aron dan anaknya yang masih ada di dalam perut rata nya.
Dia akan melakukan saksi di depan umum, mengenai kejahatan yang menimpa orangtuanya dan juga dirinya dan Aron.
Tetapi dia akan melakukan nya setelah Aron siuman, agar saat ia tumbang dan tidak tahan, akan ada Aron disisinya menopang dirinya.
***
Di rumah sakit,
Suara mesin yang menunjukkan denyut nadi Aron memenuhi ruangan, dia sedang bermimpi, kenangan buruk yang menimpa dia dan Nadine dahulu.
Bagaimana dia juga sudah berjanji Adam akan menjaga Nadine, semua kilas balik hidupnya mengitarinya Sekarang.
Rasa sakit di dada karena mengingat jika selama ini dia tidak memenuhi janjinya, malah membuat Nadine selalu terluka, rasanya begitu sakit jika saja mengingat lagi bagaimana dia melukai hati wanita itu.
Takdir mempertemukan mereka beberapa kali, tetapi bukannya menerima, Aron malah menyia-nyiakan nya.
"Apakah ini yang akan dilihat setelah mati? kilas balik kehidupan? apakah aku akan mati dalam penyesalan?" Aron bertanya pada dirinya sendiri.
Suara yang perlahan terdengar di telinga nya membuat nya terhentak, suaranya semakin jelas, diikuti oleh pandangan matanya yang melihat cahaya putih redup, yang semakin ia perhatikan itu adalah bola lampu yang menyala di ruangan.
Matanya sudah terbuka, dan saat ia menoleh ke sisinya dia melihat jika Nadine sedang ada disana, duduk menunggu dengan sabar sampai akhirnya Aron bangun.
Saat Nadine melihat Aron membuka matanya, Nadine harus mengusap matanya berulang kali, mencoba meyakinkan jika penglihatan nya tidak salah.
Dan ternyata ....
"A ... Aron, akhirnya kau bangun, kenapa lama sekali? membuat aku takut! kau memang jahat bahkan sampai akhir!" Nadine berteriak, tidak lagi bisa menahan air matanya, dia tidak menyangka jika semesta masih memberikan kesempatan untuk mereka bisa saling bersama.
Sedangkan Aron yang masih merasa ini hanyalah mimpi indah hanya menatap Nadine dengan tatapan kosong.
"Apakah saat mati, yang aku lihat hanyalah tangisan mu? apakah ini hukuman untukku karena telah melukai mu? jika saja ada kesempatan untukku, aku ingin berteriak minta maaf, berteriak mengatakan jika aku mencintaimu, berlari memeluk mu dan ...."
Aron belum percaya apa yang ia lihat ini adalah kenyataan, sampai pada saat Nadine mendekapnya begitu erat, ada rasa sakit yang terasa dari luka jahitannya yang mulai sembuh.
"Ahh, sakit!" ketus Aron keceplosan dan membuat dia segera sadar jika ini bukan sebuah mimpi melainkan kenyataan.
"Kau sudah bilang akan berteriak mengatakan semua itu, kau harus menepatinya!" ketus Nadine langsung bangkit, tidak ada yang bisa menggambarkan kebahagiaan nya sekarang ini.
Tidak ada lagi yang ia inginkan selain ini kesembuhan suaminya.
"Srek!"
Aron mendekap istrinya lagi dan menariknya sampai terjatuh di pelukannya, dia tidak peduli entah itu sakit atau tidak.
__ADS_1
Dia hanya ingin merasakan kehangatan tubuh istrinya, tidak ada lagi kata-kata yang mampu mengungkapkan rasa syukur, ternyata masih ada kesempatan bagi Aron untuk memperbaiki semuanya.
Masih ada kesempatan baginya untuk mengungkapkan perasaan nya, dan bagaimana ia mencintai istrinya.
***
Sudah beberapa minggu berlalu setelah itu, Aron sudah sembuh, Nadine juga sudah melakukan kesaksian di pengadilan, jadi hatinya sudah lega sekarang.
Saat ini Aron dan Nadine sedang berbaring di ranjang berdua.
“Sayang, aku masih tidak percaya kau berada di dekatku seperti ini, aku mengira tidak akan lagi diberikan kesempatan untuk bersama mu, ini adalah keajaiban bagiku,” bisik Aron memeluk istrinya itu dan mengusap pipi Nadine dengan sangat lembut.
“Sayang, jangan pernah pergi lagi dariku, aku akan gila jika itu terjadi, apakah kau mengerti?” ketus Aron lagi mencubit pipi Nadine.
“Cup!” Nadine langsung mencium Aron, dia ingin mengatakan betapa bersyukurnya dirinya sekarang karena bisa diberikan kesempatan bersama lagi.
“Aku mencintaimu,” bisik Nadine tersenyum hangat melihat suaminya.
Saat mendapatkan ciuman itu, Aron langsung menarik tubuh istrinya ini dan mendekapnya sangat erat, setelah kejadian ini sepertinya Tuhan ingin memberitahukan Aron agar lebih mengharagi istrinya, menghargai waktu bersama, mengatakan dan mengungkapkan rasa sayang sesering mungkin.
Aron bersumpah dari mulai saat ini dia akan menjadi pribadi yang akan lebih menghargai Nadine, dia akan menikmati setiap detik bersama dengan istrinya ini, dari pengalaman hidup mereka yang bagaikan rollercoaster.
“Oh iya sayang, disini kita sudah memiliki anak, aku ingin mengatakannya padamu tapi aku tidak bisa karena fokus untuk perawatan mu,” seru Nadine lagi memberikan kejutan untuk suaminya.
Aron terdiam, dia seolah tidak percaya, dia merasa semua hadiah ini seperti mimpi, mulutnya membisu dan tak bisa berkata-kata.
Aron mengusap perut istrinya dengan lembut, lalu air matanya menetes tiba-tiba.
“Apakah kebahagiaan ini memang pantas kudapatkan? Aku sangat bahagia sayang, aku sangat bahagia sampai kata-kata pun tak bisa menggambarkan kebahagiaan ku, aku sudah tidak menginginkan yang lain,” ucap Aron mengusap lembut perut Nadine yang masih rata.
Nadine tidak tahu sejak kapan, apakah saat ia mulai hamil, dia sangat tidak bisa melihat suaminya sedih, dia akan jauh lebih bersedih jika itu terjadi.
***
Dari hari itu, pernikahan antara Nadine dan Aron diumukan didepan umum, Aron menunjukkan betapa dia sangat mencintai istrinya, dia juga melamar Nadine sekali lagi didepan Ibunya, Dahlia.
Dahlia juga sudah memiliki kesibukan sendiri, karena dia akan kesepian jadi dia memutuskan untuk menjaga anak Dara, anak yang tidak bersalah itu.
Tidak terasa dua bulan telah berlalu,
Sekarang, Aron sedang menemani istrinya untuk memeriksa kandungan.
“Deg … Deg … Deg,”
Aron sedang mendengarkan detak jantung anaknya yang masih berada di rahim istrinya melalui alat kesehatan.
Digenggamnya tangan istrinya dan dilihatnya penuh kebanggaan mata istrinya itu.
“Aku mendengar detak jantungnya, iramanya sangat indah, aku tidak sabar menyambutnya kedunia ini, terimakasih sayang,” ucap Aron mencium kening istrinya yang sedang menerima pemeriksaan hari itu.
***
Tengah malam di kediaman Aron,
“Sayang, aku lapar,” seru Nadine terbangun ditengah malam, dan sekarang sedang membangunkan suaminya.
__ADS_1
“Baiklah, aku akan menyuruh pelayan menyiapkanmu makanan,” sahut Aron yang masih setengah mengantuk hendak pergi menyiapkan makanan.
“Tunggu, aku tidak ingin makan makanan yang di masak pelayan,” ketus Nadine dengan wajah yang cemberut sembari menarik tangan suaminya.
“Jadi, mau makan apa sayang, coba katakan,” sahut Aron ingin tahu sebenarnya Nadine ingin makan apa.
“Aku mau makan makanan yang kau masak!" ketus Nadine yang setiap harinya mengidam hal-hal yang aneh.
Sekarang usia kandungan nya sudah memasuki bulan ketiga jadi Aron benar-benar kerepotan dibuatnya.
“Sekarang?” sahut Aron sudah terkejut dan sedikit panik, dia ingin memastikan lagi.
“Hmm, harus sekarang, aku harus makan masakan mu malam ini juga!” ketus Nadine lagi dengan wajahnya yang menurut Aron begitu imut.
“Ah, umm, ba … baiklah sayang, tunggu sebentar ya,” balas Aron tersenyum manis dan mengusap rambut istrinya dengan lembut, dan dia pun keluar dari kamar.
Selama hidup, dia belum pernah memasak, tetapi demi sang istri dia akan lakukan apapun.
Hanya dalam beberapa saat makanan berwarna aneh itu akhirnya jadi, dia merasakan rasa nya sangat aneh, jadi dia hendak membuang nya dan menggantinya dengan makanan yang lain saja.
Tetapi Nadine sudah terlanjur melihatnya dan melarang suaminya membuang makanan itu.
"Jangan dibuang! kau mau aku kelaparan malam ini? aku mau makan masakan mu!" ketus Nadine merebut makanan yang terlihat seperti racun karena tampilannya yang aneh.
"Tapi sayang, aku tidak ingin anak kita terkhusus istriku tercinta ini sakit karena makanan aneh ini, jadi ganti saja ya," Aron mencoba membujuk istrinya, akan tetapi tentu saja gagal.
Nadine tetap memakan makanan aneh itu, tetapi diluar dugaan, Nadine terlihat menikmati nya, wajahnya memperlihatkan ekspresi yang sedang memakan makanan enak.
Aron penasaran, dia sudah hendak berbangga diri atas masakannya, tetapi saat ia mencicipi, Aron langsung muntah karena rasanya sangat tidak enak.
"Sayang, kenapa kau bisa makan makanan tidak enak itu? buang," ketus Aron hendak menarik piring berisikan makanan yang ia masak.
"Huhu, kau sudah tidak mencintai aku lagi ...." Tiba-tiba Nadine menangis, membuat Aron kebingungan.
"Aku mencintaimu kok, kenapa kau mengatakan itu?" seru Aron terdiam dan sekarang sudah duduk mendekat dan mengusap rambut istrinya.
Selama hamil Nadine memang sangat manja, dia akan suka saat rambut nya diusap seperti itu.
"Iya, kau tidak mencintai aku lagi, nada suara mu sedikit meninggi, itu artinya kau tidak mencintai aku lagi!" ketus Nadine masih menangis.
Aron menghela nafasnya dalam-dalam, selama dua bulan ini, setiap kali Aron melarang Nadine memakan sesuatu demi kesehatan nya, maka Nadine akan menangis dan mengatakan jika Aron tidak mencintai nya lagi.
"Haahhh!"
Aron menghela nafasnya dalam-dalam, dia menarik tangan Nadine lembut dan memeluknya, dia menepuk pundaknya.
"Kau tahu aku mencintaimu lebih dari apapun, mau aku buktikan?" bisik Aron tersenyum nakal
Mendengar itu Nadine menganggukkan kepalanya.
"Ho ho, baiklah karena kau sudah membangun aku, maka sebaiknya kita berolahraga sedikit," bisik Aron langsung menggendong istrinya yang sudah menempel di tubuhnya seperti koala.
Mendengar itu pipi Nadine langsung memerah, "Pelan-pelan yaa sayang," bisik Nadine membuat Aron semakin bersemangat
Seperti ada Bom yang meledak di kepalanya sekarang.
__ADS_1
TAMAT.