Berbagi Cinta : Sebenarnya Istri Ke-2

Berbagi Cinta : Sebenarnya Istri Ke-2
Rumah sakit dibajak!


__ADS_3

Episode 117 : Rumah sakit dibajak!


***


"Tring ... Tring ... Tring!"


Baron sedang menghubungi rekannya yang merupakan pendukung dan kolega nya di pemerintahan, Baron adalah nama Bos bandar narkoba yang telah menjadi dalang jual beli obat-obatan terlarang selama hampir berpuluh-puluh tahun, entah sudah berapa generasi yang sudah ia hancurkan.


"Halo?"


"Siapkan penerbangan untukku besok subuh, saat aku merencanakan penculikan ini aku akan menggunakan kesibukan Desmon untuk melarikan diri!" seru Baron meminta tolong agar identitas nya disembunyikan agar dia bisa melarikan diri dan bersembunyi sementara waktu.


Desmon bukan seseorang yang bisa ia remehkan, ia tahu sekarang ini dia sedang ada dalam masalah.


"Baiklah, hati-hati jangan sampai tertangkap! jika kau tertangkap maka kami juga akan mendapatkan masalah!" seru salah satu anggota pemerintah yang merupakan sekutu Baron.


"Karena itulah aku meminta mu menjaga identitas ku dan menyembunyikan nya, sudah ya aku harus melancarkan rencanaku dulu!" seru Baron telah kehabisan kesabaran, sepertinya ada sesuatu yang diketahui oleh Desmon makanya Desmon tidak kunjung pergi dari negara ini.


"Tring ... Tring ... Tring!"


"Halo?"


Anak buah Baron sedang menelepon Baron mengenai rencana dadakan mereka malam ini.


"Kami sudah menuju lokasi dan akan langsung melakukan sesuai dengan yang kau perintahkan, apakah kami langsung membunuhnya di tempat atau dibawa ke markas dulu," karena rencana memang terburu-buru, Baron belum sempat dimanakah mereka akan membunuh saksi mata yang masih hidup itu.


"Ck! bawa dia ke markas yang ada di tengah hutan! habisi disana, agar Desmon dan tim nya sulit mencari keberadaan nya!" perintah Baron sembari memainkan tangannya karena gugup sekali.


Baron ingin membawa Nadine ke tempat sepi, hilangnya Nadine akan membuat Desmon maupun Aron akan panik, saat kepanikan itulah Baron akan mengambil kesempatan untuk melarikan diri.


"Baik Bos!" seru anak buahnya yang membawa banyak sekali anggota.


Mereka mengenakan perlengkapan yang sangat mutahir, mereka mengenakan topeng penghilang karakter wajah dan perlengkapan penghilang sidik jari.


***


Disaat yang sama,


Nadine yang sudah mencoba memaafkan suaminya juga kemarahannya selama ini hendak kembali ke kediaman Aron, dia ingin beristirahat karena entah kenapa tubuhnya jadi lebih cepat lelah.


Mungkin karena dia hamil dalam usia yang sangat muda.

__ADS_1


Saat ia melangkah menuju lobby rumah sakit, tiba-tiba saja banyak orang berteriak, bahkan petugas keamanan yang bertugas di rumah sakit terlihat terluka.


Suara tembakan pistol terdengar dimana-mana, terlihat seperti film action yang terjadi di dunia nyata.


Nadine pikir ini hanyalah bagian dari pembuatan film atau semacamnya, sampai pada akhirnya Nadine yakin jika ada sesuatu yang tidak beres.


"TIARAP!"


"TIARAP!"


suara menggelegar mereka membuat semua orang berteriak menangis ketakutan, termasuk Nadine, dia ikut tiarap saat orang-orang mengerikan itu menodongkan pistol yang bentuknya bermacam-macam, ada laras panjang ada juga pistol pendek yang digenggam.


Suasana yang tadi masih ramai sekarang terlihat mencekam, Nadine mengikuti orang-orang yang tiarap itu.


Jantungnya berdetak sangat cepat, dia ketakutan sekali, rasanya lebih takut ketimbang diculik saat lalu, tubuhnya gemetaran sekali.


Nadine menutupi telinganya, dia menangis dan berharap suaminya datang menyelematkan nya seperti dahulu.


"Itu dia ...."


para penjahat itu menemukan Nadine diantara kerumunan.


Suara langkah kaki yang semakin mendekat membuat Nadine heran dan semakin takut, mengapa beberapa dari mereka mendekat kearahnya.


"Srek!"


Tangan Nadine ditarik dengan kasar, dan tanpa mengatakan apapun, dia diseret paksa menuju mobil yang sudah standby di belakang rumah sakit.


Pihak kepolisian sangat lama mencapai rumah sakit, bukan karena hal lain, akan tetapi karena Baron juga memiliki kolega di keamanan bahkan jenderal keamanan ikut membantu Baron, jadi sampai detik itu tidak ada satupun bantuan yang datang.


"Lepaskan aku! brengsek!"


"Tolooongg!"


Nadine berteriak, dia menangis sejadi-jadinya tetapi tak ada yang menolong, semua orang ketakutan karena nyawa mereka juga sedang terancam.


Sedangkan anak buah Aron yang melakukan perlindungan terhadap Nadine secara sembunyi-sembunyi mencoba melakukan perlawanan, tetapi anggota Baron datang dalam jumlah yang terlalu banyak.


Baron seolah melakukan pertaruhan, menerjunkan anggota sebanyak ini terlalu riskan, akan tetapi akan ia lakukan sebisanya agar rencananya bisa sukses.


Semua penjaga yang menjaga Nadine dari jauh sudah dilumpuhkan oleh anggota Baron yang berjumlah terlalu banyak.

__ADS_1


****


Tanpa menunggu lama, tubuhnya sudah dihempaskan ke kursi belakang, dan orang yang menunggu di mobil belakang rumah sakit langsung membawa Nadine ke suatu tempat.


Rasanya mencekam sekali, tubuhnya gemetaran, seperti nyawa sudah ada di ujung tanduk, keringat nya membasahi dahi dan pikirannya tidak bisa berproses.


"Tring ... Tring ... Tring!"


Tiba-tiba ponsel nya bergetar, semua mata langsung tertuju pada Nadine.


Nadine yang panik langsung mengangkat panggilan yang ternyata dari suaminya.


"Tolong aku ...." hanya itu yang sempat ia teriakkan karena ponselnya segera dilempar melalui jendela mobil.


Dan Nadine sendiri langsung di pukul belakang kepalanya sampai ia pingsan.


***


Belum ada satupun berita yang meliput, dan bahkan keamanan belum datang juga.


Ini semua berkat kerja sama antara Baron dan para pemangku kepentingan yang lain, jadi dia bisa memanipulasi media dan bahkan kepolisian.


Saat Aron selesai meeting, dia memang langsung menghubungi istrinya, tetapi diluar dugaan yang dia dengar hanyalah suara teriakan dan setelah itu ponselnya mati.


Aron membeku seolah tidak bisa memproses apa yang baru saja ia dengar, ketakutan langsung memenuhi dirinya.


Tubuh Aron bergetar hebat, dan yang bisa ia lakukan hanyalah mengikuti jejak Nadine, untung saja karena kecemburuan nya atas istri yang selalu di dekati oleh Dean, membuat Aron meletakkan sebuah chip kecil di cincin pernikahan mereka yang akan menunjukkan lokasi Nadine dimanapun dia berada.


"Pak ..."


Saat Aron berlari karena kepalanya seperti mau pecah tidak bisa membayangkan apa yang terjadi pada istrinya sekarang, assiten nya kebetulan hendak ke ruangan atasannya itu, memberikan informasi mengenai nilai saham mereka yang sekarang sudah naik secara konsisten.


"Kerahkan semua anggota, dan ikuti aku, aku akan mengirimkan lokasi padamu, hubungi pamanku sekarang juga dan katakan padanya jika mereka sudah bergerak!"


Liam sama sekali tidak mengerti apa yang dikatakan oleh atsan nya yang sedang terburu-buru dan kelihatan panik sekali, jadi dia hanya menilai dari kepanikan itu saja dan melakukan perintah atasannya dengan cepat.


Hanya dalam beberapa saat, Aron sudah masuk kedalam mobilnya, dia memeriksa lokasi istrinya yang semakin menjauh.


Tangisan, kekhawatiran bahkan kemarahan bahkan tidak bisa menggambarkan kegilaan hati Aron sekarang ini.


***

__ADS_1


__ADS_2