Berbagi Cinta: CEO-KU YANG BODOH

Berbagi Cinta: CEO-KU YANG BODOH
BERTEMU TUAN HADI


__ADS_3

Sekembali dari ia periksa Candy terlihat lebih murung. Padahal ia sudah menjaga baik-baik kandungannya kali ini, tetapi entah kenapa Tuhan merencanakan takdir lain untuknya.


"Nduk, perkataan dokter jangan dijadikan beban, lebih baik kamu berserah diri saja sama Allah, siapa tau hati kamu lebih tenang."


"Iya Bu," ucap Candy sambil menyeka air matanya.


"Kalau kamu rindu anakmu, biar ibu antar ke kota."


"Gak usah Bu, biar saya menunggu Kak Luna menjemput saya saja."


"Ya sudah kalau begitu, kamu istirahat saja, pasti capek."


"Iya Bu, terimakasih."


.


.


Sementara itu di rumah sakit ibu dan anak ...


"Mbak Nana, kupasin apelnya ya," pinta Daffin.


"Iya den," ucap Nana dengan senang.


Beberapa hari ini kondisi Daffin mulai membaik, bahkan kalau progres kesehatannya semakin naik, dua hari lagi ia sudah boleh pulang.


"Nah, sekarang apelnya dimakan dulu, aaa ... buka mulutnya den."


"Aaa... em... nyam, nyam."


Daffin pun mulai mengunyah apel itu dengan perlahan.


"Enak kan den?"


"Enak lah," ucap Daffin dengan senang.


"Nah gitu dong, daripada di suntik sana sini mending makan yang banyak biar tetep sehat, oke!"


"Oke Mbak Nana cantik."


Mereka pun melanjukan pagi itu dengan bercanda satu sama lain seperti biasanya. Tetapi di dalam hati kecilnya ia sungguh merindukan kehadiran mamanya.


Beberapa hari lalu, ayahnya juga datang, tetapi tidak lama kemudian ia pergi karena keesokan harinya ia harus pergi bekerja.


>>FLASH BACK ON


"Daddy ..." ucap Daffin senang karena melihat Ezza datang.


"Hallo jagoan ayah," ucap Ezza yang kemudian memeluk tubuh putranya itu.


"Daddy, kapan Mom Candy kesini, Daffin rindu Mommy ..."


"Sebentar lagi Mommy pasti datang..."


Dengan posisi masih memeluk ayahnya, Daffin terisak. Tangisannya memilukan siapapun yang mendengarnya. Belum lagi sorot matanya yang membuat siapapun yang memandangnya trenyuh seketika.


Ezza mengusap kepala Daffin dengan penuh kasih sayang.


"Sayang, maafin ayah ya," ucapnya sambil menutup mata.


Ia benar-benar menikmati pertemuan dengan putranya kali ini.


>>FLASH BACK OFF


.


.


Keesokan harinya...


"Sudah siap semuanya Candy?" tanya Luna yang sudah bersiap kembali ke kota.


"Sudah, tapi kok rasanya gak tega ya ninggalin bapak sama ibu kamu..."


Ibu Luna mengusap bahu Candy dengan perlahan.


"Kalau kamu kangen ibu sama bapak kan bisa maen kesini."


Belum sempat Candy mengucap kata-kata, tiba-tiba datanglah segerombol anak-anak yang berbaju sekolah dasar mendatangi rumahnya.


"Mbak ... Mbak Candy mau balik ke kota ya?" tanya mereka hampir serempak.


Mulut Candy tertutup rapat, bibirnya kelu untuk sekedar mengucap kata pisah pada anak-anak yang sudah menemaninya beberapa minggu ini.


Salah satu anak maju ke depan Candy mewakili semuanya, di tangannya sudah ada sebuah bingkisan yang berbalut kertas kado. Anak itu menyerahkan pada Candy.


"Apa ini sayang ..." ucap Candy lembut.

__ADS_1


"Ini hadiah untuk Mbak Candy karena sudah ngajarin kita mengaji."


Candy menatap haru anak-anak di depannya. Memang benar mereka semua adalah murid mengajinya di kala sore hari. Tetapi mungkin ini adalah pertemuan terahir dengan mereka, karena siang ini Candy sudah memutuskan untuk kembali ke kota karena putranya sakit.


"Ma-maafin mbak ya, mbak harus kembali ke kota.. hiks ... hiks ..."


"Nggak apa-apa mbak, yang penting mbak bahagia."


Beberapa siswi perempuan mendekatinya lalu memeluknya secara bersamaan. Mereka menumpahkan rasa kasih sayangnya pada Candy sebagai salam perpisahan.


"Mbak Candy jangan nangis, kami semua sayang mbak ..."


"Terimakasih sayang, terimakasih ..." ucapnya terharu.


Bukan hanya Candy dan anak-anak saja yang kehilangan, tetapi ibu dan ayah Luna juga merasa demikian.


Selama beberapa minggu Candy sudah tinggal bersama mereka, sudah pasti mereka akan merasa kehilangan jika Candy harus pergi. Tetapi ia juga memiliki kehidupan lain. Mereka sudah pasti akan mengikhlaskan Candy pergi.


"Sudah-sudah, nangisnya jangan kelamaan ya, nanti kita telat," ucap Luna mengingatkan.


"Ya sudah, mbak pergi dulu ya, kalian baik-baik disini."


"Iya mbak."


"Kamu jangan hawatir nak, biar nanti Abah yang melanjutkan mengajar mengaji anak-anak."


"Alhamdulillah, terimakasih."


"Horee... hore... " seru anak-anak senang.


Ahirnya setelah drama mengharukan tadi, ahirnya Candy dan Luna kembali ke kota dengan menggunakan mobil yang sudah dipersiapkan oleh Tuan Hadi.


Sebelumnya memang Luna sudah berniat akan membawa Candy kembali, tetapi Tuan Hadi memberikan fasilitas padanya. Agar Candy dalam keadaan aman dan nyaman dalam perjalanannya kembali ke kota, ia pun mengutus seorang supir untuk menjemputnya.


.


.


Setelah menempuh beberapa jam perjalanan, ahirnya mobil yang mereka tumpangi telah sampai di mansion utama.


Dengan segenap keraguan yang melanda, Candy berusaha menemui ayah mertuanya. Dengan di dampingi Luna, kini ia sudah berdiri di depan pintu utama.


"Bismillah," ucap Candy dalam hati.


Ceklek ... pintu utama mansion sudah terbuka. Ia pun sudah disambut oleh Nyonya Hadi.


"Wa'alaikumsalam."


Saat melihat Candy datang, sorot mata Nyonya Hadi sudah terlihat tidak suka. Beruntung saat itu Tuan Hadi berada di rumah. Ia pun menyambut kedatangan Candy dengan bahagia.


"Wa'alaikumsalam menantuku sayang, kamu sudah kembali," ucap Tuan Hadi senang.


Candy tersenyum lalu mulai mendekati ayah mertuanya lalu mencium punggung tangannya sebagai tanda hormat.


"Alhamdulillah ahirnya kamu kembali nak," ucapnya sambil mengelus pucuk kepala menantunya itu.


"Iya pa."


"Malam Tuan ..." sapa Luna.


"Malam, oh ya kalian pasti capek.. langsung istirahat saja dan besok pagi kita menemui Daffin."


Mereka berdua mengangguk, lalu diantar pelayan menuju kamarnya masing-masing.


Sementara itu, Nyonya Hadi masih mematung karena tidak diakui keberadaannya.


"Awas aja kamu Candy," umpatnya kesal dalam hati.


.


.


Malam pun berlalu, kini cahaya mentari mulai menerobos masuk melalui tirai di dalam kamar Candy.


Semburat kuning ke-emasan telah melukis langit di ufuk timur, cahaya sang surya mulai menyinari alam semesta. Meski malu-malu tetapi kicauan burung-burung semakin menyemarakkan suasana syahdu pagi itu.


Candy telah bersiap untuk pergi ke rumah sakit. Dengan memakai kemeja floral berpadu dengan celana plisket dan rambutnya yang dibiarkan tergerai semakin membuatnya terlihat cantik.


Mungkin jika orang yang baru pertama kali melihat Candy pasti mengira kalau dia masih gadis remaja dan belum menikah.


Apalagi di dalam usia kandungannya yang memasuki empat belas minggu, perut Candy masih terlihat rata.


Dengan segera Candy melangkah keluar dari kamarnya. Kebetulan dari samping kamarnya Luna juga baru saja keluar.


"Pagi nona manis," sapa Luna ramah.


"Pagi kakak sayang."

__ADS_1


"Duh, mata Ezza tu buta kali ya, istri cantik paripurna kaya gini kok ya masih melirik wanita lain," ucap Luna kesal.


"Hust, jangan begitu kak, ini juga rumah orang tua Mas Ezza lo."


"Ups, sorry, habis kesel kalau ingat kelakuan laki lo."


Dari arah bawah sudah ada Nyonya Hadi yang naik ke atas.


"Sudah belum ghibah-in anak saya?" ucapnya menahan marah.


"La ini kenapa pula nenek lampir pakai naik segala," batin Luna.


Raut wajah Candy yang semula bahagia mendadak menjadi sendu ketika bersitatap dengan ibu mertuanya.


"Kenapa diam? Hei Candy, jangan harap dengan kamu kembali ke rumah ini, cinta Ezza akan kembali padamu, mengerti!"


Candy diam membisu, sedangkan Luna sudah gatal ingin memaki mertua sahabatnya itu, tetapi Candy mencegahnya.


"Lebih baik kita segera pergi ke rumah sakit," bisik Candy pada Luna.


Luna pun mengangguk, lalu mereka berdua segera menuju lantai satu untuk bergabung dengan ayah mertuanya. Sedangkan Nyonya Hadi masih berdiri sambil memandangi mereka lalu ikut menyusul di belakang mereka.


Sebenarnya Nyonya Hadi disuruh suaminya untuk memanggil Candy, tetapi karena egonya yang tinggi, bukannya memanggil, ia malah sengaja memakinya.


Tap ... Tap ... Tap ...


Setelah menuruni tangga mereka menuju ruang makan.


"Pagi pa," sapa Candy.


"Pagi, kalian sudah rapi ya?"


Kedua gadis itu mengangguk hampir bersamaan.


"Ya sudah, kalian sarapan dulu, setelah ini kita ke rumah sakit.


Mereka kemudian sarapan pagi dengan penuh keheningan. Tak lama kemudian, mereka segera berangkat ke rumah sakit.


"Mas, aku ikut ya."


"Ehem, kamu sebaiknya di rumah dan jangan pergi kemana-mana!" ucap Tuan Hadi pada istrinya.


"Ta-tapi -----


"Nggak ada tapi-tapian atau semua fasilitasmu aku cabut," ucap Tuan Hadi dengan santai.


"Ha-ah!!"


Respon Nyonya Hadi begitu terlihat. Apalagi ancaman suaminya itu diberikan olehnya di depan anak menantunya. Mau ditaruh dimana mukanya nanti?


Tanpa menghiraukan istrinya lagi, ia segera pergi bersama anak menantunya dan Luna menuju rumah sakit.


.


.


...⚜⚜⚜...


...Rumah Sakit Ibu dan Anak...


Mobil mereka sudah sampai di rumah sakit. Kini mereka segera menuju ruang rawat Daffin.


Ceklek ...


"Mommy ..." seru Daffin melihat mamanya datang.


Candy segera menghampiri putra kesayangannya itu serta menghadiahi ciuman bertubi-tubi.


"Mommy kemana aja, Daffin kangen .. hu ...hu ... hu..."


"Maafin mama ya, mama janji gak bakal ninggalin Daffin lagi."


Keharuan pun terjadi disana. Tak kuasa menahan harunya, Tuan Hadi memilih keluar dari ruangan itu.


Di balik pintu ruang rawat Daffin, Tuan Hadi menyeka sudut matanya yang sejak tadi berembun.


"Ayah akan membuat Ezza dan ibumu menyesal karena telah menyakiti kalian," ucap Tuan Hadi dalam hati.


.


.


...Bersambung...


.


.

__ADS_1


...🌹Semoga suka dengan part ini🌹...


__ADS_2