Berbagi Cinta: CEO-KU YANG BODOH

Berbagi Cinta: CEO-KU YANG BODOH
KEMARAHAN TUAN HADI


__ADS_3

Happy reading all 😘


.


.


Tuan Hadi yang baru saja pulang dari luar negeri kaget ketika tidak mendapati Candy di rumah putranya. Ia pun meminta semua penjelasan dari semua orang di rumah itu.


"Dimana menantuku Candy?"


"A-anu pak, Nyonya Candy sedang pergi."


"Pergi kemana, sudah selarut ini kenapa belum pulang?"


Salah satu pelayan tidak berani menatap Tuan Besarnya itu, lagipula ia juga tidak tau harus menjawab apa pertanyaan tersebut.


Tak mendapat jawaban dari pelayan itu membuat Tuan Hadi naik ke lantai dua. Kebetulan Delima keluar dari kamar Ezza dan Candy.


"Berhenti, siapa kamu?" tanya Tuan Hadi sambil menyusul wanita itu.


Deg, Delima tak berkutik ketika ia bertemu dengan ayah mertuanya. Sedangkan Tuan Hadi kecewa karena ternyata itu bukan menantunya melainkan wanita lain.


"Kenapa kamu tak menjawab pertanyaanku?"


Delima berbalik arah, "Selamat malam ayah."


"Ayah, sejak kapan aku menjadi ayahmu?"


Ia memang baru saja pulang dari luar negeri saat ini. Awalnya ia begitu bahagia karena ia sudah membawakan beberapa oleh-oleh spesial untuk menantu tercinta juga untuk cucu satu-satunya.


Tetapi kenyataan berkata lain. Di hadapannya kini berdiri seorang wanita yang mungkin usianya hampir sama dengan putranya.


"Katakan padaku, siapa kamu, sampai kamu berada di kamar pribadi putraku?"


Keringat dingin mengucur deras dari kening Delima. Ia tak menyangka kalau ia harus secepat ini bertemu dengan ayah mertuanya. Ia juga takut mengatakan hal sejujurnya tentang siapa status sebenarnya di rumah itu.


"Jawab, siapa kamu?" tanya Tuan Hadi dengan masih memendam sedikit kemarahannya.


"Sa-saya ..."


Sedangkan dari kamar lain, terdengar Daffin menangis sambil memanggil-manggil nama Candy.


"Pelayan, bawa Daffin kemari, bilang kalau kakeknya datang," ucapnya pada salah satu pelayan.


"Ba-baik Tuan."


Setelah tak mendapat jawaban dari Delima, Tuan Hadi kembali turun ke bawah. Kini ia dan hampir semua pelayan berada di ruang keluarga, tak terkecuali Delima.


Dengan sedikit berlari, pelayan itu segera menuju ke kamar Daffin.


Tok ... Tok ... Tok ....


"Den Daffin, di bawah ada kakek aden berkunjung kemari."


Daffin yang masih menangis, segera mengusap wajahnya dan berlari ke arah pintu.


Terlihat sang pengasuhnya juga menyusul Daffin untuk menuju ke lantai bawah.


Tanpa menghiraukan pelayan tadi, Daffin langsung berteriak memanggil kakeknya.


"Kakek ..."


"Daffin sayang, kemarilah ..."


Tuan Hadi sudah merentangkan kedua tangannya untuk menyambut cucu kesayangannya itu.


Ketika melihat kakek telah menyambutnya, Daffin langsung berhambur untuk memeluknya.


 


“Kakek ...” seru Daffin sambil berlari.


"Cucu kakek tidak apa-apa bukan? Jagoan kakek kenapa nangis, hmm."


Dengan tersedu-sedu Daffin menceritakan awal mula dimana ia menyadari bahwa mamanya tidak ada di rumah. Padahal cuaca hari itu, sedang hujan lebat. Saat ia pulang dari sekolah, Candy sudah tidak ada di kamarnya begitu pula dengan beberapa barangnya.


"Saat Daffin bertanya pada mama Delima, mama bilang mama Candy pergi ninggalin aku dan memilih pergi dengan om-om."

__ADS_1


"A-apa!!!!"


Tuan Hadi menoleh pada wanita di hadapannya itu. Tanpa ia harus bertanya lebih banyak lagi, ia sudah mendapati jawabannya.


"Sejak kapan kamu menjadi mama Daffin? Jawab!!"


Suara lantang Tuan Hadi sempat membuat Daffin ketakutan, tetapi saat ia memberi kode agar Daffin tidak takut padanya. Ia baru paham, jika kakeknya hanya menggertak mama Delima bukan dirinya.


Sedangkan para pelayan tidak ada yang berani menjawab pertanyaan Tuan Hadi. Mereka tetap berbaris rapi sambil menunggu siapapun yang datang dan bisa menyelamatkan mereka dari amukan Tuan besar mereka.


Sampai ahirnya terdengar bunyi mobil yang berhenti di depan rumah.


"Aku yakin itu mas Ezza," batin Delima yang sedang ketakutan.


Baru beberapa langkah Ezza masuk ke dalam rumah, ia kaget ketika mendapati ayahnya sedang menggendong cucunya. Tetapi ia begitu bingung ketika melihat semua pelayan berkumpul tak terkecuali istrinya, Delima.


Ekor matanya juga masih melihat Daffin masih tergugu dalam gendongan kakeknya.


Tidak ada yang berani bersuara saat itu.


Suasana ruang tamu begitu mencekam. Meski Ezza bisa melihat dengan jelas kemarahan yang terpancar dari bola mata ayahnya ia tetap berpikir positif.


"Ayah, sejak kapan ayah datang?" tanya Ezza dengan hormat.


"Untuk apa kau menanyakan keberadaanku, jika kamu saja tidak menghormati aku sebagai ayahmu."


"Ma-maksud ayah apa?"


"Katakan padaku siapa wanita itu!" tanya Tuan Hadi sambil menunjuk ke arah Delima.


Ezza mengikuti arah pandang ayahnya. Kini bukan hanya Delima yang ketakutan melainkan dirinya juga bisa merasakan aura mencekam dari tempat ia berdiri.


Tak ada jawaban dari putranya, Tuan Hadi bangkit dan menuju putranya.


PLAKKK!!!!


Sebuah hadiah tamparan berhasil mendarat mulus di pipi Ezza.


Seumur hidupnya Ezza tidak pernah mendapatkan perlakuan kasar dari kedua orangtuanya. Tetapi apa yang didapatnya hari ini membuatnya terluka.


"Kau anggap apa aku saat ini? Apa kau menganggap ayah sudah mati, begitukah caramu menghormati orangtuamu?"


Tanpa dikomando Ezza sudah berlutut sambil meminta ampun di depan ayahnya.


"Ma-maafkan aku ayah, dengarkanlah semua penjelasan dariku ayah."


Meskipun hatinya memanas tetapi Tuan Hadi tidak setega itu membiarkan putra kesayangannya berlutut seperti. Ia pun membantu putranya berdiri lalu mengajaknya berbicara empat mata di ruangan lain.


Sementara Daffin sudah kembali ke kamarnya dengan membawa semua oleh-oleh dari kakeknya itu. Tetapi sebelumnya perkataan Tuan Hadi menjadi titik balik dalam kehidupan Ezza.


"Mulai saat ini hak asuh Daffin menjadi tanggung jawabku dan seluruh pelayan kembali ke mansion utama."


"Ayah ..."


"Cukup Ezza, ayah sudah cukup pusing dengan semua masalah yang terjadi padamu."


"Dan untukmu, siapapun namamu sampai kapan pun kau bukanlah menantuku, jangan harap bisa menjadi bagian dari Keluarga Hadi Wijaya."


CETAARRR!!!


Bak disambar petir di siang bolong, Delima kini merasakan perbedaan sikap dari ayah mertuanya. Ia bahkan terabaikan keberadaannya dan ditinggalkan sendiri di ruang tamu. Begitu pula dengan sikap Ezza padanya.


"Kamu cukup diam disini, biarkan aku yang berbicara dengan ayah."


"Ta-tapi mas--


Tanpa memperdulikan Delima, Ezza mengejar ayahnya.


 


Delima paham betul bahwa ia tidak akan pernah mendapatkan tempat di hati Tuan Hadi.


"Jika aku tidak bisa menjadi bagian dari Keluarga Hadi Wijaya maka kalian harus hancur!!" ucap Delima penuh amarah.


Ia pun segera menyusun rencana kedua sebelum ia benar-benar terusir dari keluarga Hadi Wijaya.


.

__ADS_1


.


Bagi Tuan Hadi hanya Candy menantu terbaik untuknya dan kedudukannya tidak akan pernah terganti oleh siapapun. Mau Ezza menikah sampai berapa kali pun, ia tidak akan pernah merestuinya.


Ia juga kecewa karena Ezza benar-benar melupakan Candy, bahkan berani mengusirnya untuk hal yang tidak mungkin dilakukan oleh menantunya itu.


"Kenapa kamu menjadi seperti ini?"


"Maaf ayah ini kecerobohanku, aku ..."


"Jangan bilang kau tidak pernah mencintai Candy?"


Deg, sepertinya cinta untuk istrinya memang sudah benar-benar hilang, tetapi entah sejak kapan, ia tak tau.


Benar, mungkin ini cara Ezza balas dendam untuk hal yang belum pasti kebenarannya.


"Aku benar-benar menyesal telah membesarkanmu."


"Ayah ..."


Tuan Hadi menyesal telah terlambat mengetahui hal ini. Ezza dan Candy benar-benar pandai menyembunyikan rahasia sebesar ini.


Andai saja waktu itu Candy mengatakan hal yang sebenarnya mungkin hal ini tidak akan pernah terjadi. Bodohnya ia kurang memperhatikan perubahan sikap istrinya pada menantunya itu.


Ia sebenarnya tau, kalau istrinya kurang menyukai kehadiran Candy sebagai menantu keluarga Hadi Wijaya. Tetapi ia tidak pernah menyesal telah memberikan restu pada putranya saat ia mengatakan akan menikah dengan gadis pilihan hatinya.


Ia juga tau kalau selama ini pernikahan mereka bukan atas dasar suka sama suka, melainkan sebuah perjanjian. Tetapi cinta tulus dan perhatian Candy pada Ezza mampu meluluhkan hati lelaki es di depannya itu.


"Lalu dimana Candy sekarang?" tanya Tuan Hadi sesaat setelah Ezza menjelaskan semuanya.


"Maaf ayah, aku tidak tau akan keberadaannya sekarang ini," jawabnya dengan kepala tertunduk.


Ezza benar-benar ceroboh, ia bahkan lupa tidak memberi tahukan pernikahan keduanya pada sang ayah. Akibatnya kini kemarahan dan kekecewaan menghantui dirinya. Ia pun merutuki kebodohannya.


Tuan Hadi memijit pelipisnya yang terus berdenyut kencang. Ia tidak habis pikir ketika mengetahui putranya menjadi bod*h soal wanita.


Ahirnya sebuah keputusan berat ia ambil. Selama Candy belum ketemu, hak asuh Daffin akan menjadi tanggung jawab sepenuhnya Tuan Hadi Wijaya.


Salah satu alasan kenapa hal itu dilakukan olehnya karena ia tidak mau cucu satu-satunya di didik oleh Delima, seorang wanita yang bahkan asal usulnya tidak jelas.


"Baiklah kalau itu maumu, mulai saat ini sampai Candy belum ketemu, maka Daffin akan tinggal bersamaku."


Ezza mendongakkan wajahnya, menatap seorang lelaki yang sangat ia hormati itu.


"Tapi ayah!"


Tuan Hadi memejamkan matanya, terdengar helaan nafas yang berat darinya.


"Tidak ada tapi-tapian, keputusan ayah mutlak!!"


"Dan satu hal lagi, semua keputusan perusahaan harus dengan persetujuanku dan kau aku turunkan jabatanmu dari posisi CEO."


"A-ayah!!"


"Sekarang posisimu adalah CMO."


Bukan hanya penurunan jabatan yang didapatkan Ezza, tetapi Tuan Hadi juga memberikan sebuah ancaman, bahwa ia akan menyelidiki hal ini sampai tuntas.


Hal itu diketahui Delima saat menguping. Ia pun segera memberitahukan semua hal yang terjadi pada ibu mertuanya.


Nyonya Hadi ketakutan ketika mendapat kabar bahwa sekarang suaminya telah kembali dan mengetahui kebenaran tentang keluarga putranya.


Tentu saja hal itu membuat Delima dan Nyonya Hadi was-was. Sedangkan Ezza harus pasrah ketika ia dihukum turun jabatan karena menyia-nyiakan Candy.


.


.


Hmm, bernafas dulu ya, othor ga habis pikir dengan tingkah laku Delima yang tidak tobat, enaknya dia diapain ya? kasih tau othor dong..


.


.


Buat yang suka novelnya bantu share dan favorit juga rate bintang lima ya, syukur dikasih VOTE atau bunga atau like.. terimakasih banyak readers tercinta 😘😘😘


 

__ADS_1


__ADS_2