
POV. CANDY SALSABILA
Hidup selama belasan tahun sebagai gadis biasa tak membuat Candy berkecil hati. Meski terlahir di dalam keluarga yang sangat sederhana, sejak lahir Candy di anugerahi wajah yang cantik mewarisi kecantikan alami ibunya. Mata cokelat, hidung mancung, bibir tipis yang berwana merah alami semakin melengkapi paras ayunya. Rambut hitam ikalnya membuat Candy terlihat lebih girly dan manis.
Meksi begitu, ia menyukai seni bela diri sejak kecil, sehingga secara diam-diam ia belajar bela diri di sebuah pondok milik pamannya. Meski menguasai seni bela diri, Candy bukanlah gadis yang tomboy. Ia tetap berperilaku manis seperti gadis biasanya. Hanya saja jika ada orang yang sedang kesulitan ia tak segan untuk membantunya. Meski harus berhadapan dengan seorang preman pun ia berani.
Terbukti saat Nyonya Taruna, ibunda Arga kecopetan di pasar, Candy-lah yang berhasil membekuk preman itu dan mengembalikan hasil curiannya pada Nyonya Taruna tanpa terluka sedikitpun.
Secara tak sengaja pula, garis takdir membawanya untuk menjadi jodoh seorang CEO muda. Pertemuan tidak sengaja dengannya berawal ketika ia menjadi office girls di perusahaan H&W Grup, sedangkan dipimpin oleh CEO muda bernama Ezza.
Berhubung bagian kantin kekurangan staf, setelah Candy menyelesaikan tugasnya, ia diminta untuk mengantarkan minuman ke salah satu petinggi perusahaan.
Wajar jika ia salah ruangan, sebab ia belum hafal betul tata letak ruangan para petinggi perusahaan di tempat ia bekerja. Jangankan ruangan CEO, nama-nama ruangan di lantai lima ke atas saja ia belum hafal. Tapi ia malah disuruh mengantarkan minuman ke salah satu petinggi perusahaan H&E Grup.
Alhasil, berbekal dengan sedikit petunjuk dari Luna sahabatnya, ia memberanikan diri naik ke lantai paling atas di perusahaan H&W Grup tersebut.
"Hm, sudahlah anggap saja itu ruangannya," batin Candy yang berjalan lurus menuju ruangan paling pojok di lantai itu.
Menurutnya hanya ruangan itu-lah yang paling besar di sana. Sedang di depan ruangannya ada seorang wanita yang sedang mengerjakan tugasnya di sana. Tanpa sungkan, ia memberanikan diri untuk bertanya pada wanita itu.
"Ma-maaf .... "
Belum sempat Candy menanyakan apakah ruangan itu benar milik Tuan Hadi, sekretaris itu malah membentaknya.
"Masuk, sudah ditunggu Pak Bos!"
"I-iya, Mbak."
__ADS_1
"Aih, penjaganya aja galak begini, apakah Pak Bos akan lebih galak darinya? Semoga itu tidak terjadi" doa Candy dalam hati.
Banyak pikiran aneh yang berputar-putar di kepala Candy. Tapi dengan bismillah ia tetap masuk ke dalam ruangan itu.
Mau diatur seperti apa pun yang namanya takdir pasti akan tetap berjalan. Apalagi cinta dari Ezza terlihat tulus meski ia membohongi Candy dengan surat kontrak palsu itu. Toh, jika ia menikah dengan Ezza tak akan menjadi rugi bukan?
"Bagaimana, kamu mau, 'kan?"
Setelah menimbang dan menimang akhirnya Candy menyetujui hal itu. Bahkan ia terlihat menikmati rencana pernikahan palsunya itu.
Satu bulan setelah Ezza melamar Candy. Pernikahan megah segera di gelar. Banyak kolega bisnis dari Ezza dan Tuan Hadi yang datang ke pesta pernikahan mereka.
Tetapi kedua orang tua Candy tidak bisa hadir karena ayah Candy sedang di rawat di Rumah Sakit. Beruntung saat ijab kabul, ayahnya masih bisa menjadi wali nikah untuk Candy.
Tapi hal itu tak mengurangi kemeriahan pesta. Hanya saja Candy yang tak biasa memakai high heels harus merelakan kakinya yang lecet karena harus berdiri berjam-jam hanya untuk menyenangkan hati ibu mertuanya.
Tentu saja, meski kesakitan, ia harus tersenyum manis sambil terus menyalami tamu undangan.
"Ternyata menjadi menantu orang kaya lebih merepotkan ketimbang menikah dengan orang biasa," gumam Candy setelah berdiri selama berjam-jam untuk menemani suaminya bertemu para kolega bisnisnya.
🍃Seusai pesta.
Setelah hadirin sudah tidak terlalu banyak. Ezza mengajak Candy untuk duduk.
"Duduk!" titah Ezza pada Candy.
Tentu saja Candy melotot tajam pada lelaki sombong di dekatnya itu. Baru saja ia hendak duduk, tiba-tiba tubuhnya terangkat, tentu saja ia berteriak.
__ADS_1
"Aaa ...."
Tapi respon lain diberikan oleh tubuhnya. Kedua tangannya telah mengalung indah ke leher Ezza. Seolah menikmati perlakuan manis dari suaminya tersebut.
"Nggak usah banyak bergerak, aku tau kaki kamu lecet, 'kan?" bisik Ezza tepat di telinga Candy.
Candy pun mengangguk, ia tak tau kalau suaminya ini mengetahui lukanya sejak awal. Tapu kenapa baru sekarang ia menyelamatkannya dari pesta tersebut.
Ingin mengumpat tapi takut dosa, akhirnya ia pun menerima perlakuan suaminya tersebut. Sedangkan suasana ballroom menjadi riuh karena mereka bersorak saat melihat pasangan pengantin baru tersebut langsung meninggalkan ballroom hotel untuk menuju kamarnya.
"Dih, dikira mau anu-anu-an, 'kah?" omel Candy dalam hatinya.
Tapi aroma mint dari tubuh Ezza begitu menenangkan hingga ia pun semakin menenggelamkan wajahnya di dada bidang Ezza. Sepanjang perjalanan ke kamar pengantin, tak henti-hentinya sorot kamera dari wartawan mengambil gambar mereka. Hingga sesaat setelah hendak masuk lift, para bodyguard Ezza berhasil menghalau mereka.
"Beginikah nasib orang kaya raya, selalu menjadi tranding di semua sosial media? Semoga tak ada berita buruk tentang suamiku ini, Aamiin."
.
.
...🌹Bersambung🌹...
.
.
Maaf ya, othor masih recovery, jadi up-nya belum teratur, terimakasih yang sudah setia menunggu kelanjutan novel ini🙏
__ADS_1