Berbagi Cinta: CEO-KU YANG BODOH

Berbagi Cinta: CEO-KU YANG BODOH
MAAFKAN AKU SAYANG KU HARUS PERGI


__ADS_3

Happy reading all😘


.


.


Setelah hampir habis waktu yang diberikan oleh kepolisian, kini tibalah waktu untuk berpisah. Wajah yang masih sayu itu tampak belum bisa melepas kepergian suaminya.


Tiga jam yang lalu.


Hembusan angin segar menyapa kulit Ezza, sebelum adzan subuh berkumandang, Ezza telah membersihkan dirinya di dalam kamar mandi ruang inap Candy. Beberapa saat kemudian terdengarlah suara adzan subuh berkumandang. Ia pun segera mengenakan baju koko dan sarung yang sudah dibawakan oleh ayahnya semalam.


Kini ia pun sedang khusyuk menjalankan ibadah sholat subuh. Candy yang melihat hal itu merasakan kedamaian yang luar biasa. Sudah lama ia tidak melihat hal itu dan seperti mimpi kali ini ia melihat suaminya sudah hampir tujuh puluh lima persen berubah.


"Assalamu'alaikum ... Assalamu'alaikum ..." Ezza pun mengucap salam tanda ia telah selesai menjalankan sholat subuhnya.


Ezza yang melihat Candy sudah terbangun segera mengemasi perlengkapan sholat dan bergegas menghampirinya.


"Sayang, kamu sudah bangun?" tanyanya lembut sembari mengusap wajah Candy.


Candy tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Iya mas."


Tiba-tiba putri kecilnya menangis.


"Oek ... oek ... oek ..."


Candy pun memberi isyarat pada Ezza agar membawa putri kecilnya ke dalam dekapannya.


"Mas, Kayla menangis."


"Sebentar, biar aku gendong dia, pasti sudah lapar ia sekarang!"


Perlahan Ezza segera mendekati putri kecilnya, saat ia hampir mengangkatnya ternyata popoknya basah.


"Putri ayah kebanjiran ya, he he he ..."


"Apaan sih mas?" tanya Candy keheranan.


Candy pun menyandarkan punggungnya pada head board ranjang.

__ADS_1


"Ini loh sayang, popoknya sudah basah, biar aku ganti dulu."


"Owh, kirain apaan."


Ezza lalu membasuh kedua tangannya terlebih dahulu, kemudian menggulung lengan kemejanya secara perlahan. Setelah itu, ia mulai mengganti popok milik Kayla.


"Oek ... oek ... oek ..."


"Cup ... cup ... cup ... sayang jangan nangis ya, entar cantiknya ilang kalau nangis terus, cup cup cup ...."


Ezza pun mulai menghibur putri kecilnya sambil mengganti popoknya.


"Emang mas bisa ganti popok?" tanya Candy keheranan.


"Bisa dong, kan udah diajarin sama perawat tadi," ucap Ezza sambil melirik Candy.


Candy terkekeh kecil, ia tak menyangka suaminya Nisa mempunyai ide seperti itu. Tak berapa lama kemudian nyatanya bayi kecilnya sudah tenang, apalagi ia sudah ditimang-timang oleh suaminya.


Lalu ia pun segera menyerahkan bayi itu pada Candy.


"Sebelum bubuk lagi, kamu minum susu dulu ya sayang."


Ezza pun menyerahkan bayi kecilnya pada Candy untuk mendapatkan ASI. Setelahnya ia pun segera membuka gudang ASI miliknya untuk sang putri.


GLEK!


Bunyi saliva terdengar jelas ketika Ezza menahan hasratnya yang terlanjur memanas. Tak mau mengganggu istrinya ia pun segera mengalihkan perhatiannya lalu pergi ke kamar mandi untuk berganti baju.


Candy yang mengetahui hal itu hanya tertawa. Pasalnya sejak kelahiran Daffin Ezza juga pernah bersikap sama. Bedanya saat ini ia jauh lebih bertanggung jawab dan bisa mengganti popok putrinya itu.


Sedangkan di dalam kamar mandi, Ezza susah payah menenangkan Ezza junior yang sudah tegak menantang langit. Pikirannya menerawang jauh mengenang moment-moment panasnya dengan Candy. Sayangnya ini bukan waktu yang tepat untuk belah duren, ia pun harus bersabar sampai empat puluh hari ke depan.


"Sabar, sabar! Pasti kamu akan mendapatkan itu jika waktunya tiba."


Ezza pun menghirup dalam-dalam udara di sekitarnya. Hanya demi menetralkan pikirannya yang sudah kacau balau.


Tiba-tiba pintu kamar inap Candy diketuk dari luar. Ezza yang mendengar suara ketukan, segera keluar dari kamar mandi. Lalu melihat siapa yang berkunjung sepagi ini. Ia bahkan lupa jika dua polisi yang berganti seragam dengan baju biasa masih setia mengawalnya di pintu depan.


Tetapi sebelum itu, ia sudah menarik tirai di dekat brankar Candy. Apalagi posisi Candy masih memberikan ASI untuk Kayla.


Setelah memastikan aman, Ezza segera menuju pintu kamar, hingga tangannya menggapai gagang pintu dan menekan knop pintu tersebut.

__ADS_1


Ceklek.


"Selamat pagi Tuan Rean Ezza Hadi Wijaya," ucap kepala polisi itu dengan hormat.


"Se-selamat pagi."


Ezza pun gugup karena tiba-tiba seorang polisi dengan berseragam lengkap sudah berdiri di depannya. Ia sadar mungkin inilah saatnya ia harus kembali lagi ke RUTAN untuk menjalani kehidupan yang sebenarnya.


"Waktu Anda kurang dari empat jam lagi, persiapkan diri Anda baik-baik. Lalu sesudahnya silahkan kembali ke RUTAN dengan segera!"


Deg, ucapan Kepala Polisi tadi dengan sekejab merenggut kebahagiaan yang baru saja hinggap di hatinya. Bagaikan mimpi, kebahagiaan yang ia dapatkan belum genap dua puluh empat jam, tetapi pemberitahuan dari kepolisian sudah diberikan.


"Ba-baik Pak, terimakasih untuk pemberitahuannya," ucap Ezza dengan hormat.


"Kalau begitu saya permisi. Selamat pagi."


"Selamat pagi pak."


Setelah percakapan mereka selesai. Ezza menyandarkan tubuhnya pada dinding kamar inap Candy.


Lututnya seakan-akan lemas begitu saja saat ini. Matanya menerawang jauh ke depan. Ia pun sedang bersiap merangkai kata-kata untuk diucapkan pada Candy dan keluarganya nanti.


"Candy maafkan aku yang tak bisa menemanimu lagi, maafkan aku yang harus segera kembali ke dalam RUTAN."


Tanpa terasa setetes cairan bening keluar dari kedua mata Ezza. Ia benar-benar merasa tidak kuat menghadapi kenyataan kali ini. Bahkan untuk memberi nama pada putrinya saja belum sempat ia lakukan.


"Maaf, maafkan aku ...."


BRUKKK!


Tubuh Ezza semakin terperosok jatuh ke lantai. Ia benar-benar terlihat kacau pagi itu.


.


.


...🌹Bersambung🌹...


.


.

__ADS_1


...Jangan lupa Like, komen, share n favorit ya. Tambah terimakasih lagi kalau dikasih 🌹☕ ataupun koin dan Vote, terimakasih all🙏😘...


__ADS_2