
Happy reading all😘
.
.
"Bos, lu lihat napi yang di sebelah sana nggak?"
"Iya, aku lihat, kenapa?"
"Dia itu, mantan CEO, Bos."
"Lalu?"
"Kita palak aja, Bos! Gue denger dia bentar lagi keluar sel."
"Menoleh, beneran? Wah, nggak bisa dibiarkan."
Lalu napi tersebut menghampiri Ezza.
"Bro, gue minta lu bayar sewa kamar saat ini juga!" gertaknya.
Ezza menoleh dan berdiri, "Kemarin aku baru saja membayar sewa kamar pada kepala tamping, kenapa diminta lagi!"
"Wah, mulai berani ya? apa kamu pura-pura lupa ya? Bukankah dua minggu lagi kamu keluar?"
Ezza mengangguk, "Iya, kenapa?"
"Menurut peraturan baru, anak yang akan keluar wajib baya sewa kamar dua kali lipat di muka!"
Melihat ada keributan membuat Sobri mendekati temannya itu.
"Maaf, Bro, ada apa ini?"
"Lu siapa?"
"Saya teman satu selnya, Bang."
"Oh, kalau begitu cepat kamu kasih tau teman kamu, kalau sampai dalam waktu dua kali dua puluh empat jam nggak bayar sewa kamar, mending suruh pindah kamar lain!"
"Oke, Bro, santai aja."
Lalu segerombolan napi tersebut segera meninggalkan mereka sebelum ketauan polisi jaga.
"Lu kenapa lagi sih, Sob? Kok ngelamun gitu."
Ezza mendudukan kembali dirinya di lantai.
"Istri gue bentar lagi mengadakan acara syukuran kelahiran Baby Kayla."
"Oh, jadi nama putri kamu Kayla?" tanya Sobri penasaran.
__ADS_1
"Iya."
"Trus, apa rencana kamu?"
"Kalau aku inginnya sih, bisa datang ke acara itu."
"Nggak mungkin lah, Bro. Lu kira ini hotel elu, yang bisa kamu keluar masuk bebas gitu? Ini hotel prodeo, Bro. Sadar diri napa sih."
"Lu kan tau, sikap kita selama di dalam sini tuh selalu dinilai sama petugas, begitu pula sebaliknya, hingga akhirnya kamu bisa bebas bersyarat kemarin tuh, bukan karena kamu spesial, tapi karena keluarga kamu membayar sejumlah uang untuk menjaminmu keluar!"
"Kalau itu gue juga tahu."
"Masalahnya nggak sesimpel ini, lu harusnya mikir, kenapa lu bisa hidup kaya bergelimang harta, sedang gue miskin, bahkan untuk makan sehari-hari, emak gue sampai ngutang ke tetangga?"
Ezza menggeleng, "Nggak tau gue, mungkin karena udah takdir dari sana."
"Ya kalik se-enak yang elu ucapin, seharusnya dibalik harta elu yang melimpah itu, ada sebagian kecil hak dari orang lain yang dititipkan buat elu."
"Makanya otak lu dipakek yang bener kenapa sih? jangan bisanya cuma berbagi burung aja, be**!" umpat Sobri kesal.
Ia tak habis pikir dengan pemikiran orang kaya yang selalu menjunjung tinggi uang ketimbang bersedekah buat orang yang lebih membutuhkan.
"Katanya uang nggak dibawa mati, tapi orang yang banyak uang kebanyakan pelit dan kikir."
Ezza mulai mendengarkan baik-baik ucapan temannya itu. Meski umur Sobri lebih muda, ternyata pengalaman hidup yang ia dapatkan lebih bisa mendewasakan dia ketimbang Ezza yang bahkan lulusan perguruan terbaik itu.
"Jadi lu ngerti nggak maksud gue cerita panjang kali lebar persis rumus matematika ini?" tanya Sobri penasaran.
Sehingga hal itu membuat senyum Ezza mengembang dengan sempurna.
"Jadi apa?" tanya Sobri sambil menoleh.
"Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah."
"Good, gitu baru teman gue."
"Ya sudah, untuk masalah tadi biar nanti aku urus, sebaiknya sana ambil air wudhu lalu sholat.
"Oke, Bro. Terimakasih banyak."
'Sama-sama."
Setelah itu mereka kembali berpisah untuk menuju sel masing-masing. Di dalam RUTAN,tidak tahanan di jadikan satu, kebanyakan mereka akan dipisah sesuai kejahatan yang mereka lakukan.
...⚜⚜⚜...
...Kediaman Hadi Wijaya...
"Siang Mommy?"
"Siang," ucap Candy pada putranya.
__ADS_1
"Kamu dah pulang, Sayang?"
"Alhamdulillah sudah, Ma."
"Ya udah, ayo makan dulu yuk."
"Ayo, Ma."
Meski kondisi Candy belum sepenuhnya, tetapi ia tak meninggalkan kewajibannya sebagai ibu rumah tangga. Beruntung ia menjadi istri Ezza, dan menjadi menantu Keluarga Hadi Wijaya.
Karena ia bisa memiliki banyak asisten rumah tangga yang membantu pekerjaannya. Bahkan setiap anaknya memiliki satu pengasuh khusus. Tapi semua itu tak ada artinya karena ia masih belum bisa bersama suaminya.
"Mas, kamu sedang apa saat ini?" batin Candy.
Setelah memastikan anaknya makan dan beristirahat, ia memberanikan diri mengunjungi ibu mertuanya di kamar beliau. Kebetulan perawat yang mengurusi ibu mertuanya itu keluar dari kamar itu.
"Mbak, apa ibu tidur?"
"Enggak, Nyonya, beliau sedang melamun di kamar."
"Boleh saya masuk, Mbak?"
"Silakan, Nyonya."
Candy menekan knop pintu kamar Nyonya Hadi dengan perlahan, sehingga saat pintu terbuka tak membuat gaduh. Di atas ranjang itu, ibu mertuanya sedang berbaring lemah. Tetapi entah apa yang ia pikirkan saat ini, karena kedua matanya memandang kosong ke atas.
Ia perlahan mendekati tempat tidur ibu mertuanya itu dengan sangat hati-hati. Tetapi telinga Nyonya Hadi masih bisa mendengar dengan jelas jika ada orang yang masuk ke ruangannya.
"Candy," batin Nyonya Hadi.
"Untuk apa dia kemari?"
Candy masih terdiam di sisi tempat tidur.
"Kenapa perutnya datar, apa dia sudah melahirkan?" tanyanya dalam hati.
"Mama apa kabar?" sapa Candy ramah.
"Maaf, jika beberapa hari ini, Candy belum sempat mengunjungi mama."
Ingin hati mengangguk, tetapi lehernya begitu kaku. Sehingga Nyonya Hadi hanya menatapnya saja.
"Ma, Candy sudah melahirkan cucu mama yang kedua, dia berjenis kelamin perempuan, Ma."
Mata Nyonya Hadi terbelalak. Ingin hati ia melihat dan menggendong cucunya tetapi takdir berkata lain. Hanya sudut matanya kini sudah mulai berembun.
Candy yang melihat kondisi ibu mertuanya belum ada perbaikan hanya bisa terdiam. Ia tak tau, harus bagaimana caranya untuk mengusahakan kesembuhan beliau.
...🌹Bersambung🌹...
...Jangan lupa Like, komen, atau Vote/giftnya 🌹☕ jika berkenan. Terima kasih....
__ADS_1