
BRUM ... BRUM ... BRUMMM ...
Setelah mobil berhenti, Daffin segera berlari ke dalam rumah. Ia terlihat begitu bahagia karena adiknya akan segera lahir.
TAP ... TAP ... TAP ...
"Daddy ..." teriak Daffin ketika mendapati ayahnya sudah kembali.
Senyum merekah itu terpancar tulus setelah sekian lama berpisah dari ayahnya. Rasa kerinduan yang sejak lama ia pendam kini ia tumpahkan pada ayahnya itu.
"Daddy, Daffin kangen, hu hu hu ..."
Direngkuhnya tubuh putra satu-satunya itu, dikecupnya berkali-kali pucuk kepala Daffin.
"Maafin ayah sayang, Daddy juga rindu Daffin."
"Daffin kangen banget sama Daddy."
"Sudah-sudah ayo kita temui Mommy."
"Iya Daddy ..."
Tangan Daffin sontak menuntun tangan Ezza untuk mengikutinya ke kamar miliknya. Tuan Hadi yang melihat hal itu dari kejauhan hanya bisa menahan harunya, sambil sesekali mengusap air matanya yang entah sejak kapan beranak sungai. Untung saja ia berdiri jauh dari siapapun.
.
.
Di kamar Daffin.
"Daffin segera mandi, nanti Daddy ambilkan bajunya oke."
"Oke Daddy, tos dulu dong!"
"Tos ..." seru anak dan ayah itu secara serempak.
Begitu Daffin beranjak ke kamar mandi, maka ia segera mengambilkan beberapa baju untuk dipakai putranya. Setelah lima belas menit kemudian, anak dan ayah itu sudah berada di bawah dan bersiap untuk pergi bersama anggota keluarga yang lainnya.
Selama perjalanan ke rumah sakit, Daffin tak pernah mau lepas dari ayahnya. Bahkan ia duduk dalam pangkuan ayahnya.
Daffin terlihat tidak mau kehilangan ayah tercintanya saat itu. Selama tiga puluh menit perjalanan Daffin selalu bercerita panjang lebar selama ayahnya tidak ada.
.
.
__ADS_1
Sementara itu.
"Dokter ..." teriak suster.
Dokter Richard sampai berdiri dari tempat duduknya karena saking terkejutnya.
"Ada apa suster?"
"Pa-pasien atas nama Candy Salsabila kesakitan dok," ucapnya panik.
Tanpa mau bertanya lebih banyak lagi, ia segera berlari menuju kamar perawatan Candy.
"Suster persiapkan kamar untuk Nyonya Candy bersalin!"
"Dok..." cicit Candy
"Iya Candy, ada apa?"
Tangan Candy meraih tangan dokter lalu membisikkan sesuatu.
"Dok, jika nanti hanya ada salah satu dari kami yang bisa diselamatkan, tolong selamatkan anak saya saja!"
Mata dokter Richard langsung menatap Candy tajam. Menatap tajam wanita yang berwajah teduh itu, dilihatnya matanya dalam-dalam.
Rasa keputusaan yang sama sedang ia rasakan sama seperti mata Fany saat itu.
TAP ... TAP ... TAP ...
Dari arah lorong rumah sakit sudah terdengar derap langkah kaki milik Ezza dan seluruh keluarganya. Langkah kakinya sempat tertahan karena Candy mau dipindahkan ke ruang operasi.
Kini bahkan Candy sudah memakai baju berwarna biru langit dan memakai penutup kepala. Ia benar-benar sudah bersiap untuk berjuang di meja operasi.
.
.
Ezza hanya bisa melihat brankar Candy yang didorong oleh para tenaga medis. Sampai ahirnya sorot mata Candy menemukan bayangan suaminya diantara orang yang berdiri di depan kamarnya.
"Suster, bisa berhenti sebentar."
Lalu brankar milik Candy berhenti. Dokter Richard mengerti arah pandang mata Candy. Ia memejamkan matanya untuk sesaat. Tak butuh waktu lama ia pun berjalan menuju Ezza.
"Ikut aku, suster bantu suami pasien untuk memakai pakaian steril."
Ezza pun melepaskan tangan putranya lalu segera mengikuti langkah kaki dokter Richard menuju ruang operasi.
__ADS_1
"Candy kamu yakin mau melakukan operasi caesar?" tanya dokter Richard sekali lagi untuk memastikan hal ini padanya.
Karena seingatnya, Candy tidak pernah mau melahirkan secara operasi caesar.
Candy memejamkan matanya sekali lagi sambil salah satu tangannya memegang tangan dokter Richard yang dikiranya tangan suaminya.
Dokter Richard pun kaget karena bukan tangan Ezza yang ia pegang melainkan tangannya. Sedangkan dari seberang brankar, emosi Ezza hampir saja meledak kalau tidak ingat ini di ruang operasi.
Hingga Candy membuka mata lalu mengangguk.
"Sayang ..." lirih Ezza.
"Mas?"
"Semua keputusanmu aku selalu mendukungmu!"
Melihat wajah suaminya yang sendu, ia pun meminta Ezza untuk mendekat padanya. Tiba-tiba Candy menoleh pada dokter Richard.
"Maaf dokter, saya melahirkan secara normal saja."
Dokter Richard ahirnya bisa bernafas lega.
"Oke, kita tunggu lima menit, kalau pembukaan semakin lengkap maka operasi kita batalkan!"
Kedua sepasang suami istri itu mengangguk perlahan. Akhirnya para tenaga medis menunggu keajaiban yang akan terjadi.
Benar saja, beberapa saat kemudian Candy mengalami kontraksi yang luar biasa hebat. Para suster segera mengechek pembukaan yang sudah dialami Candy.
Hingga keajaiban itu benar-benar terjadi. Hanya berselang setengah jam kemudian pembukaan yang dialami Candy sudah lengkap. Maka proses persalinan segera dimulai.
"Terimakasih Tuhan, kau tunjukkan keajaiban untuk kami," ucap dokter Richard dalam hati.
Maka tenaga medis segera bersiap untuk menyambut kedatangan anggota Keluarga baru Hadi Wijaya.
.
.
...🌹Bersambung 🌹...
.
.
Sambil nunggu up yuk mampir ke karya teman literasi Fany , terimakasih sebelumnya.
__ADS_1