Berbagi Cinta: CEO-KU YANG BODOH

Berbagi Cinta: CEO-KU YANG BODOH
GEJALA


__ADS_3

Melihat suaminya yang dengan teganya meminta jatah tambahan sungguh membuat Candy terlihat kacau balau siang harinya. Tapi menolak permintaan suami murupakan sebuah dosa besar, oleh karena itu, meski masih sakit di area itu ia tetap melayani suaminya.


Tapi setelah itu, hanya untuk berjalan saja rasanya luar biasa sakit, oleh karena itu, Ezza dengan telaten menyuapi Candy untuk sarapan pagi dan juga saat makan siang. Jika Candy terlihat tidak baik-baik saja, lain halnya dengan Ezza yang terlihat segar bugar.


Candy benar-benar merutuki kebodohannya karena membiarkan Ezza mengulang-ulang kembali kegiatan yang menguras tenaga itu. Jadi seharian Candy hanya menghabiskan waktunya di kamar.


Curiga, tentu saja Nyonya Hadi curiga.


"Pasti terjadi hal yang tidak beres dengan menantu si-alan itu. Huh, bisa-bisanya ia membuatku naik darah satu minggu sekali!" gerutu Nyonya Hadi.


Tetapi mendapat laporan dari orang rumah yang mengatakan jika Ezza mengurung Candy di kamar seharian, membuat senyum lelaki tua itu terbit.


"Sebentar lagi sepertinya aku akan mempunyai cucu," ucapnya senang.


.


.


"Aduh, Mas Ezza tenaganya terbuat dari apa sih? Kok bisa begitu kuat. Tulang-tulang di tubuhku rasanya sudah remuk semua, huaaa ...."


Candy merutuki sikap bodohnya tapi ia juga merasa lega akan hal itu. Sesaat kemudian Ezza mulai masuk ke dalam kamar.


"Hai, Sayang," sapa Ezza dengan lembut.


Sontak saja hal itu membuat Candy bergidik ngeri akan perubahan sikap Ezza. Tapi hal itu membuat Ezza tersenyum geli. Ia pun mendekati Candy dan mengusap kepalanya.


"Maaf, aku khilaf, Sayang. Habisnya itu rasanya luar biasa sekali, sehingga membuat diriku menjadi kecanduan, maaf ya."


Blush ... seketika wajah Candy memerah mendapat pujian dari suaminya itu. Tapi ia tetap bahagia saat ini, mau diapakan juga, jika waktunya tiba hal itu pasti akan segera terjadi.


.


.


🍃Satu bulan kemudian.


Candy merasakan hal yang aneh pada tubuhnya. Sedari pagi ia sudah merasakan mual-mual luar biasa. Sehingga apa pun makanan yang ia telan beberapa saat kemudian sudah ia muntahkan kembali.


Tetapi bukan makanan tadi melainkan sebuah cairan kuning yang terlihat di sana. Belum lagi sakit kepala yang ia rasakan setelahnya. Semakin membuatnya lemas yang terasa sangat menyiksa.


"Non, Non Candy kenapa?" tanya Mbok Ijah yang melihat Nyonya mudanya muntah-muntah sedari pagi.

__ADS_1


"Nggak tau, Mbok, cuma rasanya nggak enak aja di perut."


"Sejak kapan, Non?" tanya Mbok Ijah penasaran.


"Sejak tadi pagi sehabis bangun tidur?"


"Tuan Ezza sudah tau belum?"


Candy menggeleng.


"Non sudah datang bulan belum bulan ini?"


Candy tampak memikirkan jawaban yang pas untuk Mbok Ijah.


"Sepertinya belum, Mbok, seharusnya minggu ini aku datang bulan."


"Oh, ya sudah, nanti biar Mbok hubungi Tuan Ezza supaya pulang."


"Lah buat apa?"


Mbok Ijah tampak tersenyum ke arah majikannya itu.


"Ya buat periksa kesehatan Non Candy."


"Ih Non Candy mah. Ya dah kalau nggak percaya biar Simbok ambil minyak sama uang koin."


"Buat apa?"


"Buat kerokin si Non lah, masa buat apa sih?"


"Mbok sudah lama Mas Ezza melarang jika aku sudah tidak boleh kerokan lagi."


"Ya sudah kalau begitu, kita ke Rumah Sakit saja, Non."


"Ogah."


Karena merasa tidak akan menang adu argumen dengan Mbok Ijah membuat Candy lebih memilih untuk pergi ke kamar.


Beberapa saat kemudian, Ezza pulang untuk makan siang, menurut Ezza tak enak jika ia makan siang di kantor. Baginya menu makan siang dirumah lebih enak daripada menu makan siang di kantor.


Melihat keadaan rumah yang sepi membuat Ezza bertanya tentang keberadaan Candy.

__ADS_1


"Bik, rumah kok sepi, di mana Candy?"


"Nona Candy berada di kamar, Tuan sejak tadi hanya berada di kamarnya."


Dahi Ezza berkerut, ia pun segera mengecek kondisi istrinya. Ia menaiki tangga secara cepat saat ini. Bahkan di tangannya ia masih membawa tas kerjanya.


Ceklek.


Pintu kamar terbuka, Ezza mencari keberadaan istrinya yang ternyata masih berada dibawah selimut. Ia segera menghampiri Candy. Diletakkannya telapak tangan Ezza di dahi Candy.


"Enggak panas, lalu kamu kenapa, Sayang."


Merasa ada yang memegang keningnya, mata Candy terbuka. Ia mengubah posisinya menjadi duduk saat ini. Tapi karena terlalu cepat bergerak rasa pusing kembali menderanya.


"Aaarghh."


"Kamu kenapa?"


"Pusing, rasanya pusing sekali, Mas."


"Ya sudah kita ke Rumah Sakit, sekarang!"


"Nggak usah, aku bobok aja, ntar juga sembuh."


"Ya udah kamu istirahat biar aku ambilkan teh hangat sama roti."


Candy mengangguk. Lalu setelahnya ia segera mengambilkan hal yang diinginkan Candy. Bahkan ia yang menemani Candy menghabiskan makan siangnya itu.


Melihat Candy sudah tidak apa-apa, ia kembali ke kantor. Tapi tanpa sepengetahuan Ezza dan Candy, Mbok Ijah yang sudah paham kalau Nona mudanya hamil pergi ke apotek untuk membeli tes pack.


Sementara itu, Candy yang hendak tidur setelah suaminya kembali ke kantor harus terganggu dengan rasa mual yang kembali menderanya. Lalu sesaat kemudian ia pun kembali muntah-muntah.


"Kenapa tadi biasa saja, lalu setelah Mas Ezza pergi kenapa aku mual lagi? Ada apa ini?" tanya Candy kebingungan.


Sedangkan Mbok Ijah malah senyum-senyum sendiri karena membayangkan ekspresi Candy yang akan menggunakan alat tersebut.


Kira-kira apa yang terjadi dengan Candy ya?


.


.

__ADS_1


...🌹Bersambung🌹...


__ADS_2