Berbagi Cinta: CEO-KU YANG BODOH

Berbagi Cinta: CEO-KU YANG BODOH
FLASH BACK


__ADS_3

...⚜⚜⚜...


...Di dalam RUTAN...


"Duh, mata gue kenapa sih, kedutan mulu," batin Sobri saat ia selesai makan nasi cadong miliknya.


Saat ini ia masih bersama para tahanan lain, hanya saja salah satu matanya yang kedutan selama ia makan tadi membuatnya teringat pada seseorang mantan Napi. Ya, memang sahabatnya kini sudah menjadi mantan Napi, tapi apa iya, ia akan menjadi manusia normal pada umumnya?


Membayangkan wajah Ezza memakai baju stelan kemeja kerja dan berwajah garang membuat Sobri sempat tertawa. Masalahnya sesaat sebelum ia meninggalkannya, ada niatan dari mantan napi sebelumnya untuk menggunduli Ezza. Sayang, belum sampai niat baik itu terlaksana, si mantan Napi udah menghirup udara bebas.


Bisa dibayangkan jika saat ia keluar kemarin dalam keadaan plontos tanpa sehelai rambut pun pasti akan membuat Ezza di ejek atau bahkan tidak di akui oleh istri dan anaknya.


"Akh, membayangkan hal konyol seperti ini membuatku merindukan kebodohan dia, wkwkwk, semoga kamu bahagia sahabat."


Setelah bermonolog cukup lama dengan dirinya, Sobri lantas kembali ke dalam sel miuknya. Karena saat ini jam kebebasannya sudah selesai.


.


.


Dalam perjalanan pulang, perasaan Nyonya Taruna sama sekali tidak merasa nyaman. Banyak sekali pikiran aneh yang menyerangnya.


"Kenapa Candy begitu ketakutan saat melihat putranya itu, apakah di dalam tubuh Arga masih ada jin penggangu yang masih bandel dan tak mau pergi, atau ada jiwa lain yang ingin masuk ke dalamnya?"

__ADS_1


Entahlah, pikirannya malah semakin tidak tenang. Niat untuk berlama-lama di rumah Candy pun mereka urungkan dan lebih memilih untuk segera kembali ke pondok.


Sementara di dalam pondok, Kyai Sholeh masih khusuk mengaji. Mulutnya selalu memanjatkan doa-doa. Sepanjang di dalam pikirannya ada yang kurang nyaman atau mengganggu, maka ia akan mengambil air wudhu dan kembali mengaji.


"Semoga perjalanan mereka baik-baik saja," doanya di sela-sela ia mengaji.


Beruntung Nyonya Taruna mendengarkan setiap perkataan dan permintaan darinya agar langsung pulang setelah selesai takziah. Larangan agar jangan mampir ke rumah miliknya pun ia patuhi. Karena sebenarnya di dalam tubuh Arga masih belum benar-benar bersih. Masih banyak hantu atau makhluk halus yang ingin bersemayam di dalam tubuh Arga. Apalagi ia pernah kemasukan jin/roh. Tentu saja hal itu menjadi sesuatu yang menguntungkan bagi makhluk lain jika mereka bisa bersemayam di tubuh Arga.


"Ma, Mama kenapa sih?" tanya Arga heran ketika melihat wajah ibunya beda.


"Mama, nggak apa-apa kok, kamu fokus nyetir aja!" Pinta Nyonya Taruna.


Arga mengangguk. Ia pun memfokuskan diri menatap jalanan agar keselamatan mereka tetap terjaga. Sementara di area tol, ada sesuatu yang dirasakan Arga saat itu. Ia merasakan jika dirinya sedang diawasi, tapi ia sama sekali tidak bisa melihatnya.


"Ma, Arga boleh minta tolong nggak?"


"Mama bisa bantu bimbing Arga sholawatan nggak, atau Mama ngaji untuk Arga?"


Nyonya Taruna menoleh dan mengangguk, "Iya, Sayang, akan Mama bantu."


Maka Nyonya Taruna sengaja mengeraskan volumenya saat ia melantunkan ayat-ayat suci Al Qur'an. Tidak seperti tadi dimana ia membacanya dalam hati. Suasana panas memang dirasakan Arga, tapi ia jauh lebih merasa enakan saat ini ketimbang tadi saat melewati sebuah titik yang di rasa angker oleh sebagian orang saat berada di dalam tol tersebut.


"Alhamdulillah," batin Arga sesaat setelah berhasil keluar dari jalan tol.

__ADS_1


Pengalaman berkemudi beberapa hari lalu membuat Arga dan Nyonya Taruna enggan untuk keluar dari pondok. Tenyata keberadaan Arga masih menjadi incaran beberapa makhluk astral. Entah kenapa hanya di dalam pondok itu, ia merasa nyaman. Hingga keputusannya untuk hijrah akhirnya di setujui oleh ayah dan ibunya.


.


.


...⚜⚜⚜...


...Rumah Sakit Ibu dan Anak...


Hari ini adalah tepat dua minggu Delima koma. Belum ada tanda-tanda kehidupan di sana. Beberapa selang masih setia menempel pada tubuh wanita itu.


Luka bebas jahitan operasi caesar pun belum sepenuhnya mengering. Tetapi hal yang membuat pertanyaan di benak para dokter adalah apakah ia akan hidup atau selamanya koma?


Karena jujur saja, biaya yang dikeluarkan tidak cukup murah, hanya saja saat ini biayanya masih ditanggung pihak kepolisian. Bisa jadi beberapa hari ini mereka akan menarik bantuannya karena belum ada progres tentang kesehatannya.


Miris, tentu miris. Apalagi keserakahannya terhadap harta, dan tahta pernah membuatnya gelap mata. Sampai cara kotor pun ia pakai.


Sesungguhnya hal yang membuatmu bahagia dalam sesaat itu adalah tipu daya setan. Apalagi didapatkan dengan cara yang salah. Apa yang kita tanam, itulah yang kita tuai. Seandainya saja ia tidak gelap mata, mungkin semuanya akan baik-baik saja.


Sayang, semuanya sudah terjadi, dan tidak akan pernah bisa mengembalikan keadaan seperti semula.


.

__ADS_1


.


...🌹Bersambung🌹...


__ADS_2