
Happy reading all😘
.
.
Kehidupan di desa yang aman dan nyaman membuat Candy bahagia. Keluarga Luna benar-benar melimpahi kasih sayang untuk Candy.
"Ayo dimakan dulu nak, keburu dingin nanti sayurnya ga enak."
"Iya Bu, terimakasih, tetapi takut meleleh nanti kalau kepanasan, he ... he ... he ..."
"Eh, iya juga sih ya, kamu kan sedang hamil, gak boleh makan yang panas-panas, maaf ibu suka lupa."
"Iya Bu, gak apa-apa kok."
"Sayang Luna belum mau menikah, jadi kami kesepian disini. Setidaknya mungkin kalau Luna sudah menikah, kan anaknya bisa ibu rawat disini."
"Maaf Bu, bukan bermaksud sok tau, tetapi mungkin karena keinginan Luna untuk membahagiakan kalian sehingga membuatnya enggan menikah muda."
"Mungkin begitu ya, lagi pula kalau nanti ia menikah dia pasti ikut suaminya."
Deg ... perkataan dari Ibu Luna barusan menyadarkan dirinya tentang kedua orangtuanya di desa. Tetapi ia tidak mau menunjukkan kesedihannya saat ini.
"Iya Bu, semoga saja nanti kalau Luna menikah, ibu bisa diajak tinggal bersamanya jadi ibu tidak akan kesepian lagi."
"Aamiin, terimakasih nak Candy kamu sangat baik sekali pada putriku."
"Terimakasih juga sudah mau menampung saya disini ya Bu, maaf saya sudah merepotkan ibu dan bapak."
"Jangan bilang begitu, ibu sudah menganggap kamu seperti anak ibu sendiri."
"Terimakasih Bu," ucap Candy seraya memeluk Ibu Luna.
Memang saat ini, keinginan kedua orangtua Luna hanya satu, yaitu menginginkan kehadiran seorang cucu, tetapi sampai saat ini hal itu belum terlaksana akibat Luna yang belum mau menikah.
Tetapi kehadiran Candy membuat mereka sedikit bahagia. Mereka menyayangi Candy sama seperti putrinya sendiri. Beruntungnya tetangga di sekitarnya tidak memberikan pandangan buruk terhadap Candy.
Dari tingkah laku Candy yang ramah dan baik pada sesama, membuat tetangga mereka sangat menghormati Candy. Seperti kebiasan setiap pagi disaat Candy sibuk menyapu halaman rumah.
"Monggo mbak Candy ..." ucap salah seorang warga yang kebetulan melewati rumahnya.
"Enggih monggo Bu, badhe tindak pundi?"
"Aku arep menyang pasar mbak, aku ndhisiki ya."
"Enggih Bu, monggo ngatos-ngatos nggih."
"Enggih."
Begitulah keseharian Candy berinteraksi dengan warga sekitarnya. Tidak ada kecanggungan yang terjadi diantara mereka. Bahkan adat ketimuran masih terjaga dengan sangat baik di sana.
Tak sedikit yang mereka sangat iba melihat nasib yang dialami Candy. Meski begitu tak sedikit yang mendoakan kebaikan untuk Candy dan bayinya. Bahkan tanpa Candy meminta mereka suka memberikan makanan untuk menambah gizi untuk jabang bayi yang dikandungnya, kata mereka.
Candy yang rajin mengaji bahkan diminta menjadi guru mengaji buat anak-anak jika waktu sore telah tiba. Kehadiran anak-anak yang sering bermain di rumah Luna sedikit mengobati kerinduan terhadap putra semata wayangnya. Beruntung kedua orang tua Luna tidak melarang hal itu. Mereka sangat senang melihat anak-anak di sekitarnya yang datang mengaji.
Ada ketenangan batin tersendiri ketika melihat anak-anak mengaji. Apalagi suara mereka yang lantang dan merdu ketika mengaji membuat orang-orang yang mendengarnya menjadi damai.
Kondisi psikis yang sempat dialami oleh Candy dengan perlahan sedikit membaik. Ia pun lebih sering berdoa ketimbang meratapi nasibnya. Meski awalnya ia ingin bekerja untuk menopang kehidupan dirinya dan calon anak yang masih dikandungnya ini, tetapi ternyata Tuhan menunjukan jalan lain.
Ia mendapat rezeki dari arah yang tak terduga. Anak-anak yang sering mengaji dengannya sering membawakannya beberapa makanan camilan ataupun buah-buahan hasil bumi orang tuanya. Mereka memang tidak bisa membayarnya dengan uang. Tetapi ternyata kasih sayang dan perhatian dari mereka jauh lebih dari bernilai daripada materi.
Terkadang disaat ia ingat putranya ia meneteskan air matanya. Tetapi perkataan seorang muridnya sedikit memberikan ketenangan untuknya.
"Kakak mengapa menangis?" tanya anak itu.
__ADS_1
"Eh, maaf ya sayang, kakak rindu anak kakak," ucap Candy sambil menyeka air matanya.
"Kalau kakak rindu putra kakak, titipkan saja rindu kakak pada Allah, insyaAllah pasti akan dijaga Allah sama seperti kakak menyayangi kami disini."
"Iya kak, kami juga akan mendoakan agar putra kakak dijaga sama orang baik disana," seru anak yang lain.
"Aamiin..." ucap mereka hampir bersamaan.
Luna juga tidak tinggal diam. Ia juga sedikit banyak mengawasi Daffin dari kejauhan. Tentu saja ia tidak bisa mendekat padanya karena penjagaan dari Tuan Hadi begitu ketat terhadapnya.
Tak lupa Luna memberikan pengertian kalau Daffin aman karena diasuh langsung oleh Tuan Hadi. Disaat yang sama, Candy merasa beruntung karena ia memiliki sahabat sebaik Luna dan juga ayah mertua seperti Tuan Hadi.
Jauh di lubuk hati Candy yang terdalam sebenarnya ia ingin mengunjungi kedua orangtuanya, tetapi ia tidak mau membebani mereka dengan kondisinya yang seperti ini. Jadi saat ini ia lebih memilih untuk pergi menjauh dari mereka.
Disaat ia ingin memeriksakan kehamilannya, Candy lebih memilih pergi ke tempat praktek bidan yang dekat letaknya. Hanya dengan berjalan kaki ia telah sampai disana. Ibu Luna-lah yang mengantarkannya ke sana.
Orang-orang desa yang mengetahui kisah Candy turut merasa kasihan padanya. Beruntungnya Luna sudah menjelaskan dari awal bagaimana tentang status Candy sebenarnya.
.
.
"Bagaiamana kondisi kehamilan saya Bu?"
"Maaf kehamilan ibu ada sedikit kendala, sepertinya ada indikasi pre-eklamsia, tetapi semoga saja di semester kedua kondisinya sudah sedikit membaik."
"Kalau boleh tau itu kenapa ya Bu? apakah berbahaya untuk bayi saya?"
"Pre-eklamsia adalah kondisi peningkatan tekanan darah disertai dengan adanya protein dalam urine. Kondisi ini terjadi setelah usia kehamilan lebih dari 20 minggu."
"Pre-eklamsia harus diberikan penanganan untuk mencegah komplikasi dan mencegahnya berkembang menjadi eklamsia yang dapat mengancam nyawa ibu hamil dan janin."
"Bukan dokter, ini kehamilan saya yang kedua."
"Lalu usia putra Anda sekarang berapa tahun?"
"Lima tahun dokter."
"Apa di kehamilan sebelumnya hal seperti ini sudah pernah terjadi?"
"Belum dokter, baru kali ini saya mengalaminya."
"Apa sebelumnya Ibu pernah mempunyai riwayat tekanan darah tinggi?"
"Tidak pernah Bu, lalu kenapa saya bisa terkena pre-eklamsia ya?"
"Sebenarnya penyebab pre-eklamsia masih belum diketahui secara pasti. Meski demikian, ada dugaan bahwa kondisi ini disebabkan oleh kelainan perkembangan dan fungsi plasenta, yaitu organ yang berfungsi menyalurkan darah dan nutrisi untuk janin.
"Nah dari kelainan tersebut menyebabkan pembuluh darah menyempit dan timbulnya reaksi yang berbeda dari tubuh ibu hamil terhadap perubahan hormon. Akibatnya, timbul gangguan pada ibu hamil dan janin."
"Lalu apa yang harus saya lakukan agar hal ini tidak bertambah parah?"
"Sebenarnya pre-eklamsia akan teratasi jika janin dilahirkan. Tapi ibu tenang saja, saya akan meresepkan beberapa obat dan vitamin untuk ibu agar bisa mengurangi efek dari hal itu."
"Terimakasih banyak Bu."
"Sama-sama."
Setelah cukup lama berbincang dengan bidan tersebut ahirnya mereka bisa pulang.
"Kenapa lama sekali nduk? apa ada sesuatu?"
__ADS_1
Terlihat ketakutan dan kecemasan dari wajah Ibu Luna. Tetapi Candy berusaha menutupi kenyataan yang baru saja di dapatnya. Ia tetap berusaha berpikiran positif, agar bayi dalam kandungannya tetap baik-baik saja.
"Alhamdulillah kandungannya baik-baik saja Bu, cuma ada sedikit kendala, tetapi sudah dikasih obat sama vitamin dari ibu bidan, semoga tidak terjadi apa-apa."
"Aamiin, ya sudah kita segera pulang kalau begitu, takut keburu hujan."
"He he, iya Bu."
Tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depan Candy. Dari dalam mobil muncul dokter Richard.
"Nona Candy? anda disini?"
"Eh, iya dokter."
"Wah kebetulan sekali, mau kemana biar saya antar, kebetulan saya mau mengunjungi nenek saya di desa A."
"Loh kebetulan sekali nak, kami juga tinggal disini, tetapi tunggu dulu anak siapa namanya?" tanya ibu Luna.
"Perkenalkan Bu, saya Richard teman Candy sekaligus dokter yang pernah memeriksa kehamilannya saat di kota."
"Oalah iya, syukurlah kalau begitu, kirain suaminya?"
"Ha-ah!!"
"Ma-maaf dokter jangan diambil hati."
"Oh ya sudah kalau begitu, lebih baik ikut saya saja, takutnya sebentar lagi hujan."
"Apa tidak merepotkan dokter?"
"Tidak sama sekali, daripada keburu hujan, kasihan bayi dalam kandungan kamu."
"Benar nak, lebih baik ikut saja."
Dokter Richard menampilkan senyuman termanisnya untuk Candy. Sementara Candy tidak enak hati karena selalu saja merepotkannya.
"Apa mungkin dokter ini ada hati untuk Candy ya?" tanya Ibu Luna dalam hati.
"Baiklah kalau begitu, maaf jika saya selalu merepotkan dokter."
"Sudah-sudah mari Bu masuk."
Dokter Richard membuka pintu mobil untuk Candy dan ibunya Luna.
Entah mengapa ia membuka bagian pintu di samping kemudi untuk Candy. Sedangkan pintu bagian belakang untuk Ibu Luna.
"Biar saya di belakang saja dokter."
"Lo kalau semua di belakang nanti yang nunjukin jalan rumahnya siapa dong? masa saya bicara sama kursi di sebelahnya saya."
"He he he, bener-bener nak, kamu di depan saja, biar saya di belakang," ucap Ibu Luna yang tau maksud terselubung sang dokter.
Sambil menahan tawanya Ibu Luna bergegas untuk masuk di kursi bagian belakang. Sedangkan Candy dengan terpaksa duduk di samping dokter Richard.
"Yes berhasil, wkwkwk sekali modusin cewek gak apa-apa kan, lagian suaminya ga ada," batin dokter Richard senang.
.
.
Ehem, gimana-giamana mau lanjut atau besok... semoga suka dengan part ini ya, jangan lupa doakan biar Candy dan bayinya sehat selalu, jangan lupa kirim bunga biar Candy gak sedih lagi.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa share, rate ⭐ 5 dan favorit jika suka 🤗