Berbagi Cinta: CEO-KU YANG BODOH

Berbagi Cinta: CEO-KU YANG BODOH
ARGA PULANG


__ADS_3

Happy reading all😘


.


.


"Assalamu'alaikum..."


"Wa'alaikumsalam," ucap mereka bersama-sama.


Lalu tampaklah anggota Keluarga Hadi Wijaya berdatangan ke dalam ruang perawatan Candy. Mereka rata-rata membawa hadiah untuk ibu dan bayinya. Tak lupa mereka juga menyiapkan satu hadiah lagi untuk Daffin.


Putra pertama Ezza dan Candy pun mendapatkan hadiah yang sama dari mereka. Hal itu untuk menghindari kecemburuan dari Daffin karena kehadiran anggota keluarga yang baru yang lebih diperhatikan oleh semua orang.


Maklum usia Davin masih enam tahun. Sebuah kecemburuan pasti masih dirasakan ketika oleh anak seusia Davin.


Biasanya anak-anak akan merasa cemburu ketika ada anggota keluarga baru yang hadir diantara mereka, tak terkecuali Daffin. Apalagi kebanyakan perhatian yang diberikan akan tercurah untuk bayi yang baru lahir tersebut ketimbang dirinya.


"Candy selamat ya atas kelahiran putrinya," ucap mereka.


"Iya tante, terimakasih."


Tak lupa mereka pun menimang bayi yang baru lahir tersebut. Untung saja bayi Candy sangat anteng dan tidak rewel. Tetapi ada beberapa sanak saudara yang memandang rendah Ezza, terlebih sebagian dari mereka sudah tau posisinya saat ini.


Meski di depan tadi mereka sudah diberi wejangan dari Tuan Hadi, tetapi nyatanya ada saja yang nyinyir dan gatel untuk bertanya pada Ezza.


"Loh Ezza kamu disini?"


"Iya tante."


"Bukankah kamu saat ini sedang..."


Ceklek ...


"Ehem ..."


Tuan Hadi segera masuk ke dalam, sehingga hal itu bisa mereka hindari. Mereka pun menjadi kikuk karena hal barusan. Untuk menghindari kecanggungan yang terjadi mereka mengalihkan pertanyaan tadi.


"Ehm, dimana ibu kamu Ezza?"


"Ibu ada di rumah, karena kesehatan beliau masih belum baik, maka ia tidak boleh bepergian."


"Benar, lagi pula istri saya masih ada jadwal terapi hari ini, jadi tidak boleh terlalu capek."


"Oh begitu, ehm, karena hari sudah larut malam, kami permisi ya."

__ADS_1


"Candy kami permisi dulu ya."


"Iya tante, terimakasih banyak sudah menyempatkan datang kesini."


"Sama-sama."


Dengan cepat mereka segera meninggalkan ruang rawat Candy untuk menghindari kemarahan Tuan Hadi.


.


.


...⚜⚜⚜...


...Mount Elisabeth Hospital Singapura...


Ahirnya, setelah sekian lama tinggal di rumah sakit ini, kini Arga sudah diperbolehkan pulang. Ia memang masih mengikuti semua instruksi dari mama dan papanya. Baginya bukan hal yang bagus kalau ia mencari Delima saat ini. Salah sedikit dalam bertingkah bisa jadi malah semakin membahayakan posisi kekasihnya itu.


"Sudah siap sayang?" tanya Nyonya Taruna terhadap putranya.


"Sudah ma."


"Oke kita ke depan sekarang."


Tap .. Tap .. Tap ...


Beruntung mereka sudah hidup layak saat ini, sehingga dengan mudah bisa menyelesaikan biaya administrasi tersebut.


Tring ... pintu lift terbuka.


"Itu papa kamu."


Setelah memastikan keberadaan suaminya, Nyonya Taruna berserta Arga menuju dimana suami dan ayahnya berada.


"Bagaimana mas, sudah selesai?"


"Sudah selesai ma, tinggal nunggu print out-nya saja."


Beberapa saat kemudian mobil yang menunggu mereka sudah tiba. Setelah memastikan semua sudah beres, mereka segera naik mobil untuk menuju bandara. Karena siang ini juga, jadwal penerbangan sudah dipesan.


BRUMMM ...


Mobil hitam metalic itu segera mengantarkan mereka menuju bandara.


"Mama gak pengen beli oleh-oleh nih?"

__ADS_1


Nyonya Taruna mencubit pinggang suaminya.


"Awhhh, sakit ma."


"Mas lupa ya, kalau sehabis berobat kita harus segera pulang, gak pakai acara mampir-mampir, pamali."


"Dih mama, masih percaya hal klenik," cibir Arga.


"Biarin aja, tapi nyatanya hal itu gak pernah salah, gak percaya, buktikan sendiri sana!"


"Ogah ma, kurang kerjaan banget deh."


Tak mau melihat istri dan anaknya berdebat, ia pun segera menyudahi hal tersebut.


"Sudah, sudah, toh apapun yang dilakukan mama kamu adalah sebuah kebaikan untukmu."


"Papa selalu saja begitu, belain mama."


"Ya jelas lah, itu sebuah bukti kalau papa kamu beneran sayang sama mama, bukan hanya sebatas kata yang manis di depan, busuk di belakang."


Sindiran mamanya begitu tepat sasaran. Apalagi saat ini, Arga sudah mulai bermain hati. Ia pun bahkan sudah berani membohongi kedua orangtuanya dengan mengatakan kalau dia belum pernah menyentuh wanita. Padahal ia sudah pernah melakukan hal yang lebih dari itu. Hanya kelakuan bejatnya tak pernah ter-endus oleh kedua orangtuanya.


Tapi sepandai-pandainya menyembunyikan bangkai suatu saat pasti akan tercium meskipun kita sudah menguburnya dalam-dalam.


Arga menatap nanar bayangan gedung-gedung pencakar langit yang berjajar rapi disana. Lamunannya sudah jauh membumbung tinggi dan sekarang gak tahu sudah nyangkut dimana.


.


.


Lima belas menit kemudian.


Mobil yang mereka tumpangi sudah sampai di Singapore Changi Airport. Sebuah bandara yang tak pernah sepi di Asia. Bahkan bandara Changi menyandang peringkat ketujuh sebagai bandara paling sibuk di dunia dan yang kedua di Asia.


Karena jadwal keberangkatan tinggal dua puluh menit, mereka segera melakukan chek-in. Setelah mendapatkan boarding pass, mereka menunggu di gate keberangkatan.


Beruntung penerbangan yang mereka ambil tepat waktu, sehingga jadwal yang mereka susun setelahnya tidak ada yang terganggu.


Selama di dalam pesawat, pikiran Arga jauh menerawang ke tempat Delima. Entah kenapa pelet yang digunakan Delima masih sangat menempel di tubuh Arga. Sehingga sampai saat ini pesona Delima masih membayangi Arga.


.


.


...🌹Bersambung🌹...

__ADS_1


Jangan lupa mampir di karya cinta putih abu-abu punya Fany ya



__ADS_2