
Happy reading all😘
Sebuah mobil berhenti tepat di depan sebuah pelataran mansion. Ya sebuah mansion yang terdapat banyak kenangan indah Ezza di masa kecil. Meski dengan segala keraguan, Ezza segera keluar dari dalam mobil dan mulai memasuki mansion.
Ceklek ...
Suasana rumah nampak sepi, karena penunjuk waktu sudah menunjukkan dini hari. Ezza mulai melangkah perlahan menuju kamarnya di lantai atas.
Sayup-sayup terdengar suara lantunan ayat suci Al-Quran dari arah kamarnya.
"Itu pasti Candy," gumam Ezza.
Ia semakin memperlambat langkahnya setengah mengendap. Dibukanya pintu kamar itu, benar saja terlihat istrinya sedang mengaji.
Merasa ada seseorang yang mengawasinya Candy menoleh.
"Mas ..."
Ezza mulai menutup pintu kamar agar lebih rapat. Ia pun menghampiri istrinya itu. Sepasang suami istri itu saling menatap dalam kebisuan. Antara takut dan bahagia Candy mencoba berdiri.
Tanpa ia minta Ezza datang dan memeluk istrinya itu.
"Dek, Mas, kangen ..." ucap Ezza lirih.
Luruhlah sudah cairan bening itu dari kedua mata Candy, hatinya menghangat ketika suami yang ia rindukan datang dan memeluknya.
Merasa bahunya basah, Ezza melepas pelukan dan mulai menghapus air mata sang istri.
"Adek gak suka Mas datang?"
Candy menggeleng, "Suka Mas, suka banget, huhuhu ...."
Ia masih tergugu saat ini, mungkin ini efek kehamilannya yang membuatnya sedikit "mellow".
Tak mau berlama-lama Ezza pun mengajak Candy duduk di tepi ranjang. Kedua mata mereka saling beradu, ada kerinduan hebat yang terpancar dari keduanya. Tetapi tak ada satupun kata yang terucap.
Detik demi detik berlalu, bahkan suara cicak pun enggan bersuara, mereka juga malu dan takut jika mengganggu momen kedua insan yang sedang merindu.
Ezza mengubah posisinya, ia berjongkok di depan Candy, diraihnya kedua tangan istrinya dan dikecup mesra.
"Dek, maaf-kan atas semua kesalahan Mas ya, aku ikhlas jika kamu mau menghukumku! Adek bisa menghukum Mas atas semua tindakan keterlaluan yang pernah--" ucapan Ezza terhenti ketika jemari Candy menutup mulutnya.
"Mas, tanpa Mas minta pun, Aku sudah memaafkanmu."
"Sungguh?"
"Iya, terlebih ada buah cinta kita yang tumbuh di dalam sini!" ucap Candy lembut sembari mengusapkan tangan Ezza pada perutnya yang masih rata.
"Benarkah ini anak kita?" pertanyaan konyol itu tiba-tiba meluncur tanpa permisi.
"Ini memang anak kita, Mas, memangnya anak siapa lagi?"
Ada sedikit keraguan yang tiba-tiba menghinggapi Ezza, Candy pun tau maksud dari arah pembicaraan itu. Ia pun bangkit berdiri dan meninggalkan Ezza.
Sakit, itulah hal pertama yang ia rasakan. Sesaat kemudian Ezza mulai menyusul Candy. Ia pun berusaha menepis semua keraguan itu dan menyusul Candy menuju balkon.
Ia pun memberanikan diri untuk memeluk pinggang Candy dan membenamkan wajahnya di ceruk leher sang istri.
"Ma-maaf ...."
Sensasi nyaman sedang dirasakan Ezza. Harum buah stroberi yang menguar dari rambut Candy, membuat hati dan pikiran Ezza menjadi lebih tenang.
Meski masih terasa sakit akan perkataan Ezza barusan. Ia tetap membiarkan suaminya dalam posisi itu. Baginya sudah cukup jika ia kembali dan kini berada bersamanya.
Entah sejak kapan kedua suami istri itu saling bertukar saliva. Semakin lama membelit, semakin ada gelenyar aneh yang mengalir dalam tubuh mereka.
Ezza pun menggendong Candy ala bridal style menuju ranjang. Dengan nafas memburu, Ezza dan Candy mulai melepas kerinduan sebagai sepasang suami istri.
__ADS_1
Pakaian mereka bahkan sudah berhamburan di lantai, peluh dan keringat sudah mengucur dari keduanya. Pertanda ke-nikmat-an yang penuh berkah itu akan segera mereka capai bersama.
Ahirnya di sepertiga malam itu mereka habiskan dengan kegiatan yang diberkahi Allah.
🍃Keesokan harinya ...
Candy turun bersama Ezza menuju ruang makan. Disana sudah ada Daffin yang memakai seragam sekolah begitu pula dengan anggota keluarga yang lain sudah berada disana.
"Daddy... " teriak Daffin senang.
Ia pun berdiri dan berlari ke arah ayahnya. Kini Daffin sudah berpindah dan berada dalam gendongan Ezza.
Meski kaget, tetapi Tuan Hadi menyukai potret keluarga bahagia putranya itu.
"Daddy kapan datang, kangen sama Daffin dan Moms ya?"
Ezza tersenyum dan kembali melanjutkan langkahnya menuju meja makan. Begitu pula dengan Candy yang kemudian duduk di samping suaminya.
Jangan ditanya ekspresi Luna, ia masih melongo melihat ketampanan suami sahabatnya itu.
"Pantas saja suaminya digoda Markonah, lah, wong ganteng paripurna gitu," batinnya dengan mata yang masih tertuju pada Ezza.
Nyonya Hadi yang melihat Luna menatap putranya merasa tidak suka. Ia pun menginjak kaki Luna.
"Astojimmm ... dasar nenek mampir kurang aja*," umpat Luna dengan kesal.
"Ha-ah, nenek lampirnya dimana tante?" tanya Daffin polos.
"Heh, bu-bukan sayang."
Sedangkan yang lainnya menatap aneh pada Luna. Belum lagi sorot mata Nyonya Hadi yang mengarah tajam padanya. Salah satu tangan yang memegang pisau itu, dengan sengaja ia tekan ke atas piring, agar timbul suara keras dan mengganggu semuanya.
Jangan ditanya ekspresi Luna, ia hanya meringis
memandang seluruh anggota Keluarga Hadi Wijaya sembari melanjutkan sarapan pagi.
🍃
"Mas langsung berangkat kerja?"
"Iya, nanti Mas pulang kesini kok!"
"Ya sudah kalau begitu, hati-hati ya, Mas."
Ezza mengangguk.
"Assalamu'alaikum," pamit Ezza sambil mengecup kening Candy.
"Wa'alaikum salam."
Ahirnya mobil yang dikendarai Ezza meninggalkan mansion, lalu disusul mobil Tuan Hadi dibelakangnya. Sedangkan Daffin sudah berangkat lima belas menit lebih awal dari mereka.
🍃Sesampainya di kantor...
"Ezza pagi ini ada meeting dengan perusahaan A, sebaiknya kamu segera persiapkan berkas-berkasnya dan bawa segera ke ruanganku," titah Tuan Hadi padanya.
"Baik ayah."
Setelah semua berkas siap, ia pun menuju ruang meeting bersama ayahnya. Pagi ini ia harus mempresentasikan hasil kerjanya di depan Tuan Hadi dan juga membahas kerja sama dengan perusahaan A.
Sementara itu, seorang lelaki bertubuh jenjang berwajah oriental dan manis sudah melangkah menuju ruang rapat. Hari ini ia diutus ayahnya untuk menjalin kerja sama dengan perusahaan Ezza.
Ting ... pintu ruang rapat terbuka, lelaki itu segera melangkah menuju kursinya.
"Owh ini kekasih Delima yang sudah berani menyakitinya itu?" batin Arga ketika melihat Ezza.
Tentu saja semalam ia sudah diberi foto dan semua identitas Ezza. Kini tugasnya mengeksekusi dengan segala kelicikan yang sudah ia susun rapi.
__ADS_1
Rapat pun berlangsung cepat dan final. Akhirnya kerja sama kedua perusahaan itu segera terwujud.
"Terimakasih untuk kerja samanya," ucap Ezza puas.
"Sama-sama, semoga kerja sama ini bisa berjalan lancar dan tanpa hambatan," ucap Arga sambil menjabat tangan Ezza.
Tuan Hadi pun bangga akan kerja sama bisnis yang barusan terjadi.
...🍃...
Kehamilan Candy ahirnya di ketahui penghuni rumah. Semuanya bersuka cita akan kehamilan kedua Candy. Begitu pula dengan Tuan Hadi dan Daffin.
Semakin hari, semua perhatian dari ayah mertua dan suaminya selalu tercurah untuk Candy. Begitu pula dengan Daffin yang sangat bahagia untuk kedatangan calon adiknya.
Tetapi tidak dengan Nyonya Hadi. Banyak sekali rencana yang ingin ia lakukan untuk mencelakai Candy.
Melihat gelagat suaminya berubah, beberapa aset milik Ezza yang sudah beralih nama pada Delima. Bahkan beberapa diantaranya sudah ia jual dan uangnya ia habiskan untuk berfoya-foya.
Delima sudah tidak mau bertemu dengan Ezza lagi, terlebih pacarnya sudah kembali. Rumah mereka pun dibiarkan kosong tanpa perawatan.
🍃Sebulan kemudian ...
PRANG!!
Gelas yang dipegang Nyonya Hadi jatuh ke lantai. Ia kemudian sesak nafas dan tiba-tiba saja jatuh pingsan. Telepon yang ia pegang pun jatuh ke lantai bersamaan dengan tubuhnya.
"Astaghfirullah, Mama ..." teriak Candy.
"Tolong ... tolong ..." ucapnya sambil berusaha membangunkan ibunya.
Karena mendengar suara dari telepon rumah yang terjatuh itu, ia pun mengangkat telepon.
"Hallo, maaf dengan siapa ini?" ucap Candy panik.
"Hallo ini dengan kantor polisi, maaf saudari Rean Ezza Hadi Wijaya sudah saya bekukan dan kini sedang berada di dalam sel."
Deg, detak jantung Candy berhenti untuk sesaat. Nafasnya tercekat, ia pun berusaha untuk kuat dan mulai menanyakan informasi lebih lengkapnya.
Sedangkan di dalam sel tahanan...
BUGH! BUGH! BUGH!
Beberapa bogem mentah sudah mendarat di kening dan wajah Ezza, belum lagi tendangan yang mendarat di punggung dan dadanya.
Ada luka memar yang terlihat di sudut bibirnya. Belum lagi darah segar yang tak tau malu mengucur dari keningnya.
Kedua tangannya terikat, posisinya masih meringkuk disana. Sedang di depannya masih berdiri seorang jaksa dan beberapa stafnya yang masih mengorek informasi dari Ezza.
Sayangnya semua informasi mereka berbeda sehingga pukulan demi pukulan masih diterima Ezza. Laporan dan tuntutan hukum yang diberikan Arga benar-benar membuatnya tak berkutik.
Sedangkan di sebuah hotel, Arga dan Delima tersenyum lega ketika mendapati Ezza masuk penjara.
.
.
...🌹Bersambung🌹...
...Terimakasih sudah membaca sampai part ini,...
...SEMOGA SUKA...
...Jangan lupa dukungannya, bila berkenan bantu share, komen, like dan favorit ya kak.. terimakasih Jangan lupa 🌹 atau ☕...
__ADS_1