Berbagi Cinta: CEO-KU YANG BODOH

Berbagi Cinta: CEO-KU YANG BODOH
MASA LALU


__ADS_3

Perhelatan pertunangan Luna dan Aldo telah selesai dilakukan. Satu hari penuh keluarga Luna berbahagia. Kini tinggal menyisakan keluarga inti saja.


"Alhamdulillah, semuanya lancar ya nduk."


"Alhamdulillah iya, bersyukur semuanya lancar tanpa hambatan," ucap Luna bahagia.


"Oh iya nduk, ibu lupa, tadi Candy telepon, katanya meminta maaf karena tidak bisa datang hari ini karena ada masalah dengan kandungannya."


"Innalillahi, masalah apa Buk?"


"Enggak tau, tadi dia tidak cerita, kita doakan saja biar tidak terjadi apa-apa."


"Aamiin."


.


.


...⚜⚜⚜...


...Di dalam RUTAN...


"Loe ngapain bro, kok bolak-balik kesana sini mulu dari tadi, emang salah makan lu?


"Nggak tau, rasanya mules banget dari tadi."


Memang benar, sedari tadi Ezza sudah keluar masuk toilet sampai berkali kali. Hingga membuat mata temannya itu sakit melihat tingkahnya. Udag persis setrika yang bolak-balik dari sana ke sini.


Tetapi insting temannya sepertinya lebih aktif ketimbang Ezza. Belum sempat Ezza bergerak, tangannya sudah dicekal olehnya.


"Istri lo hamil?"


"Iya."


"Berapa bulan?"


"Tujuh bulan."


"Punya masalah dengan kandungannya?"


Ezza mengangguk, "Memangnya kenapa?"

__ADS_1


"Fix, istri lo mau melahirkan!" ucapnya enteng.


"Kok bisa!"


Kini giliran Ezza yang mencengkeram erat kedua bahu temannya itu.


"Ya bisa-lah, ini gue yang be**, atau elu sih yang gak peka!"


"Kata loe, pas awal kehamilannya kamu yang morning sickness, trus sekarang bisa juga kan lo yang ngerasain mulesnya pas dia mau melahirkan."


Mendengar penururan sahabatnya membuat Ezza terduduk lemas tak berdaya. Rasa mules dan sakit perut yang tadi sudah hilang entah kemana.


Tetapi akal sehatnya masih berfungsi saat ini.


"Bagaimana bisa orang hamil tujuh bulan bisa melahirkan?"


"Ya jelas bisa dong, namanya hamil tujuh bulan itu sebuah usia yang matang buat seorang bayi."


"Tunggu dulu, jangan-jangan loe gak tau tentang hal kayak gini?"


Tak mau menjawab Ezza hanya merespon dengan menggeleng.


"Menurut ibu gue, kalau bayi lahir dalam usia tujuh bulan itu dikatakan bayinya sudah cukup bulan atau bayi-nya tua, sama seperti ketika bayi lahir dalam usia sembilan bulan. Tetapi hal itu akan menjadi masalah jika bayi lahir usia delapan bulan, karena usia bayi akan masuk muda kembali."


"Telepon orang rumah dan tanya apa istri lo udah hampir melahirkan apa belum?"


"Oke."


Kebetulan saat mereka selesai mengobrol, kepala tamping mereka lewat.


"Pak, permisi, boleh saya sewa ponselnya?"


"Ini belum jam-nya, setengah jam lagi kamu bisa mencari saya, oke?"


"Oke pak, terimakasih."


.


.


"Bibikkk ...." teriak Candy saat ia masih berada di kamar mandi.

__ADS_1


Dengan tergopoh-gopoh ia pun berlari menuju majikannya.


"Astaghfirullah nyonya ..." ucapnya kaget ketika melihat darah yang mengalir disalah satu kaki Candy.


"Tolong telepon dokter Richard!"


"Ba-baik nyonya."


Meksi panik, nyatanya bibik langsung merespon cepat perintah Nyonya mudanya itu dengan menelpon dokter melalui ponsel milik Candy.


TUT ... TUT ... TUT ..


.


.


...⚜⚜⚜...


...Kantin rumah sakit...


Keheningan masih tercipta saat ini. Kedua insan itu masih tenggelam dalam pikiran masing-masing. Tak ada yang mengucapkan kata ataupun sejenisnya, hanya saja tangan Richard masih memegang jemari gadis di depannya itu.


"Ehmm, minggu depan operasi keduaku akan dilakukan, jika kamu ada waktu temui aku sebelum aku berangkat ke Jepang."


Dokter memandang gadis di depannya itu dengan segala kerinduan serta sebuah harapan.


"Jadi kamu benar-benar akan pergi kesana?"


Gadis itu mengangguk.


"Tidak ada cara lagi, keluargaku sudah memutuskannya. Begitupun sebaliknya, jika operasi ini gagal aku masih berharap jika kamu akan menemukan kebahagiaan serta cinta sejatimu!"


"Aku berharap saat aku pergi nanti, ajaklah calon istrimu itu padaku agar aku bisa pergi dengan tenang," pinta gadis itu dengan sudut mata yang sudah basah.


Richard menghela nafasnya secara dalam. Ditutup kedua matanya dengan perlahan, untuk menahan rasa sakit yang hampir saja melompat dari hatinya.


Rasa cinta dan sakit itu datang secara bersamaan, menghunus hati dan jantung dokter Richard. Entah kenapa meski gadis di depannya sudah merelakannya pergi, tetapi hatinya tak bisa dibohongi.


Mungkin cinta pada Candy hanyalah pelampiasan atau bahkan pelarian. Karena cinta sejatinya kini hadir di hadapannya. Seorang gadis yang dikenalnya saat ia masih kuliah kedokteran dan hampir menjadi calon istrinya itu, lebih memilih pergi darinya.


Sakit kanker otak stadium empat yang dideritanya membuatnya harus merelakan dokter Richard pergi. Ia tak mau membebani hidup kekasihnya itu dengan masalah di hidupnya.

__ADS_1


Dahulu memang ia tak memakai hijab. Tetapi sejak ia melakukan kemoterapi, perlahan demi perlahan rambut indahnya rontok. Tubuh indahnya kini tinggal tulang dan kulit saja. Untuk menghindari tatapan orang-orang ia pun berhijrah.


Selain mendapatkan ketenangan batin, ia juga lebih dekat dengan sang Illahi.


__ADS_2