
Happy reading all😘
.
.
Dengan memakai baju koko dan sarung hitam dibagian bawahnya, kini Arga sedang menemani ibunya untuk pergi ke kediaman Candy.
Lima jam yang lalu, ia berhasil mendapatkan ijin dari Pak Kyai untuk keluar dari pondok. Kalau tiga hari ini ia boleh pergi keluar dari pondok pesantren tetapi setelah itu langsung kembali lagi tanpa mampir ke rumahnya. Begitulah pesan dari Pak Kyai.
Kalau boleh menilik lebih jauh, Arga sebenarnya belum boleh pergi. Tapi sayang mereka terpaksa keluar dari pondok untuk bertakziah. Oleh karena itu mereka pun memberikan ijin padanya. Dengan mengendarai mobilnya mereka pergi ke rumah Tuan Hadi.
Masih tampak sekali ramai rumah duka tersebut tapi tak membuat niat mereka untuk bertakziah berkurang.
"Aku ikut masuk nih, Ma?" tanya Arga sesaat kemudian.
"Iya, nak nggak apa-apa, lagian ini rumah teman Mama."
"Oke."
Lalu sepasang ibu dan anak itu segera masuk rumah duka.
"Assalamu'alaikum ...."
"Wa'alaikumsalam."
"Maaf, ibu terlambat datang, sayang."
"Iya, Bu, nggak apa-apa."
"Oh, iya, ini anak ibu, kenalkan ini Arga."
Candy memundurkan langkahnya. Ia seperti enggan berjabat tangan dengan Arga.
"Ada apa, Sayang."
Tiba-tiba Ezza datang menemani Candy saat Nyonya Taruna datang bersama Arga. Nyonya Taruna sempat melihat Ezza yang sudah kembali. Kini ia mulai sadar, kenapa Candy bersikap seperti tadi. Mungkin karena takut suaminya cemburu.
"Alhamdulillah ada Ezza juga," ucap Nyonya Taruna sembari bersiap untuk mengenalkan dirinya pada Ezza.
"Maafkan atas semua tingkah anak saya tempo hari," ucap Nyonya Taruna.
Alis Ezza tampak berkerut mendengar penuturan Nyonya Taruna. Lalu pandangannya beralih ke Arga.
__ADS_1
Ada raut tak suka yang menyerangnya saat ini.
"Iya, Bu, enggak apa-apa, saya permisi dulu," ucap Ezza basa basi.
"Sebentar ya, Bu," pamit Candy.
Lalu sepasang suami istri itu segera meninggalkan Nyonya Taruna bersama anaknya.
🍃Di ruangan atas.
"Kenapa, Sayang?"
"Aku merasa takut berdekatan dengan anak ibu tadi, Mas."
"Ya, sudah kamu disini saja, biar Ayah yang menemui mereka."
Tiba-tiba saja, Tuan Hadi masuk.
"Ada apa Ezza?"
"Tadi ada Nyonya siapa, Sayang?"
"Nyonya Taruna dan putranya kesini, Pa."
"Ya udah, kalian di sini aja, biar Papa yang menemui mereka."
"Makasih, Pa."
"Hm."
Lalu Tuan Hadi kembali menutup kamar Candy dan menuju ke bawah untuk menemui para tamu. Nyonya Taruna yang melihat kedatangan Tuan Hadi kemudian menyapanya.
"Selamat malam, Tuan Hadi, mohon maaf saya baru dapat kabar kemarin, jadi baru bisa datang hari ini. Saya dan Keluarga Besar Taruna mengucapkan turut berbela sungkawa untuk kepergian Nyonya Hadi."
"Terima kasih untuk kehadirannya, saya mengucapkan banyak terima kasih dan minta maaf jika selama ini, ada kesalahan dari mendiang istri saya yang tidak sengaja menyakiti ataupun berbuat salah, saya mohon maaf."
"Sama-sama, Tuan, semoga almarhumah tenang di sisi Allah. Aamiin."
"Terima kasih."
"Oh, iya maaf tadi Candy kurang enak badan karena mungkin terlalu kecapekan."
"Eh, iya, enggak apa-apa. Saya cuma mau minta maaf pada Ezza untuk semua perlakuan anak saya tempo hari, alhamdulillah kini ia sudah kembali."
__ADS_1
"Iya, alhamdulillah."
"Oh, iya ini anak saya Arga."
"Arga Om."
"Iya."
Meski terpaksa tapi Tuan Hadi tetap menjabat tangan Arga. Tapi memang benar, ada sesuatu yang aneh ketika menajabat tangan Arga, tapi ia tak tau hal apa itu.
.
.
Beberapa hari kemudian, semuanya sudah tampak kembali normal. Ezza dan Tuan Hadi sudah mulai kembali bekerja di kantor.
"Kamu sudah siap bekerja kembali?" tanya Tuan Hadi tepat di ruangan pribadinya.
"Kalau papa mengijinkan, aku bersedia, Pa."
"Tapi dua puluh lima persen saham sudah atas nama istrimu, Candy. Jadi misalkan ada rapat pemegang saham, Candy akan hadir di sini."
"Siap, Pa."
"Oke, Papa kasih waktu kamu seminggu buat memperlajari semua tugas Candy selama menggantikan kamu di sini."
"Siap, Pa."
Setelah Ezza menerima beberapa berkas, kini oa mulai melihat dan mempelajari sistem kerja dari istrinya itu. Ada senyuman tersungging di sana.
"Ternyata kamu sangat berbakat, Sayang. Harusnya kita bekerja sama sejak dulu," batin Ezza sambil melihat-lihat berkas di depannya itu.
Banyak sekali perubahan yang terjadi selama Ezza tak berada di posisi itu. Lalu ia pun melihat satu posisi yang kosong dalam perusahaannya.
"Eh, kayaknya Sobri cocok di bagian ini, siapa tau dia mau menempatinya," gumam Ezza.
"Satu bulan lagi, kamu keluar kan Sob, aku harap kamu mau bekerja di sini."
.
.
...🌹Bersambung🌹...
__ADS_1