
Merasa kalau perhatian dari Ezza sangat berlebihan, membuat hati Candy kadang mellow. Ia memang belum pernah jatuh cinta atau pun terluka. Tapi semoga ia tidak terluka karena cintanya kali ini.
Jujur, berada di lingkungan suaminya, sedikit banyak membuat Candy tidak nyaman. Apalagi ia sempat mendengar teman satu kantornya menggunjingnya karena pernikahan dengan pemilik perusahaannya, terkesan mendadak dan tertutup awak media.
Berbekal curhatan teman-teman lamanya, kini Candy mencoba menyelami kisah cinta dalam pernikahannya bersama Ezza. Hanya saja pengalaman dari teman-temannya membuatnya sedikit banyak mengerti lika-liku cerita cinta dan bagaimana cara bersikap jika ada masalah.
Hingga saat ini akhirnya Tuhan memberikan jalan untuknya, yaitu pacaran setelah menikah. Perbedaan status dari Ezza dan dirinya terkadang membuat Candy minder. Tapi saat ini, Candy percaya jika sesuatu yang indah itu pasti akan tiba jika Tuhan sudah berkehendak.
Mencintai seseorang karena terbiasa, akan terasa hambar, tetapi mencintai karena terpaksa itu ternyata lebih manis. Apalagi ditambah kejutan-kejutan kecil yang kita temukan di kala bersama.
Candy dan Ezza terpaut usia yang cukup lumayan. Bahkan di awal pernikahan seperti ini, Ezza rasanya kembali menjadi remaja seperti Candy. Hanya saja pikirannya jauh lebih dewasa. Lebih mengayomi dan lebih mengalah jika salah satu diantaranya sedang mode On.
"Trus, habis ini kita kemana, Mas?"
"Eh, tumben dia panggil Mas, apakah dia?" batin Ezza sambil melirik dengan ekor matanya.
"Tapi nggak apa-apa juga daripada panggil Pak, Tuan dan apalah itu ...."
Melihat suaminya tidak menjawab pertanyaan darinya membuat Candy sedikit kesal. Lagi dan lagi sepertinya ia selalu dicuekin oleh Ezza.
"Apa begini nasib orang miskin yang selalu ditindas, bahkan pertanyaan sepele dariku saja tidak dianggap?" batin Candy kesal dan hampir menggerutu.
Untung saja otaknya masih waras, jadi ia tak berani mengumpat di depannya. Tak berapa lama kemudian, ternyata mobil memasuki wilayah perkantoran. Ya, Candy masih hafal betul dengan gedung pencakar langit di depannya itu.
Tempat dimana ia bekerja untuk pertama kali sekaligus dapat bonus pemilik perusahaannya itu. Ezza sempat melihat sekilas raut wajah tegang istrinya itu. Sepertinya ia harus mengajarkan pada Candy bahwa saat ini statusnya adalah istri pemilik perusahaannya bukan sebagai karyawannya ataupun office girls-nya.
__ADS_1
"Candy ...."
"Iya, Tuan eh, Mas."
Candy teringat kesalahannya saat ini, akibat kebanyakan mikir jadi otak pun ngelag. Tapi Candy mencoba bersikap biasa saat ini.
"Ayo kita turun," ajak Ezza yang tak memahami mimik di wajah istrinya itu.
"Ha-ah!"
"Kok, hah, ayo kita turun, aku ada meeting pagi ini."
Melihat wajah suaminya yang serius, Candy bergegas turun dari mobil lalu mengikuti langkah suaminya yang berhasil menyeret langkah kakinya.
"Ini perih dudul!" omelnya dalam hati.
Tentu saja perih, karena ada luka lecet ketika tumitnya terkena sepatu. Belum lagi ia sama sekali tak biasa menggunakan barang terkutuk itu. Menurut Candy, high heels adalah barang terkutuk untuknya. Sepatu jenis itu sama sekali tak pernah membuat nyaman ketika dipakai. Tapi entah kenapa banyak sekali wanita yang berlomba-lomba ingin di puji cantik ketika memakainya.
Ezza melirik ke arah Candy yang langkahnya tertatih dan terseok. Ingin tertawa tapi takut dosa, tapi mungkin inilah seni menikahi kaum biasa. Ada-ada saja tingkahnya.
Tak mau menunggu lama, Ezza berbalik dan menggendong istrinya itu menuju sebuah lift khusus. Candy hanya diam menikmati perlakuan spontan dari suaminya itu. Tapi ia tak berani menatap wajahnya, Candy kini hanya berusaha bersembunyi di balik dada bidang suaminya itu.
TRING
Pintu lift terbuka, Ezza juga tak menurunkan dirinya malah terus membawanya memasuki ruangannya.
__ADS_1
"Selamat pagi, Pak!" sapa sekretaris Ezza yang membantu Ezza membuka pintu ruangannya.
Jangan tanya Candy, ia sama sekali tak bergerak ataupun membuka mata. Jadi seolah ia sedang tidak baik-baik saja.
Sesampainya di dalam ruangannya. Ezza menjatuhkan Candy di sofa.
"Argghhh!" rintih Candy.
"Sudah sampai, aku mau meeting dulu, ini salep buat lecetnya."
Mulut Candy mengaga melihat Ezza, lalu tersadar ketika kotak salep itu mendarat di perutnya.
"Makasih."
"Hm."
Benar saja, setelah pakaiannya kembali rapi, Ezza segera pergi meninggalkan Candy untuk menuju ruang meeting.
"Akh, selamat!" ucapnya sambil mengelus dada.
.
.
...🌹Bersambung🌹...
__ADS_1