Berbagi Cinta: CEO-KU YANG BODOH

Berbagi Cinta: CEO-KU YANG BODOH
KELAHIRAN MY PRINCESS


__ADS_3

"Mas, sakiittt ..."


Candy me-remas-remas tangan Ezza. Tak jarang pula ia mencakar lengan Ezza.


"Aawwwhhh ... sakit sayang," cicit Ezza lirih.


Jangan ditanya ekspresi wajah dokter Richard yang sedang menahan tawa.


"Rasain tuh cakaran cinta dari istrimu, makanya jangan mencangkul mulu, wkwkwk."


Entah kenapa hal itu menjadi hiburan tersendiri untuknya, apalagi ia tau betul kondisi para suami ataupun bapak-bapak yang sedang menemani istrinya untuk melahirkan. Biasanya malah ada yang melakukan hal lebih dari mencakar, menjambak dan lain-lain. Karena biasanya secara tidak langsung, tanpa ia sadari, sang ibu yang hendak melahirkan akan mengungkapkan perasaannya lewat perbuatan.


Untung saja saat itu dokter Richard memakai masker. Jadi tak ada satu orang pun yang melihatnya menertawai kondisi Ezza. Sayangnya panggilan suster menyadarkan lamunan dokter Richard.


"Dok, ini gunting dan perlengkapan untuk persalinan."


"Oh, iya sus, terimakasih."


Setelah melihat keseluruhan persiapan persalinan normal sudah siap, dokter Richard segera menuju brankar Candy. Tetapi tatapan Ezza sudah menyalang padanya. Apalagi Ezza tipikal pencemburu, tentu saja ia tak membiarkan orang lain melihat barang berharga milik istrinya itu, meskipun ia sebagai dokter sekalipun.


Terlebih Richard adalah dokter laki-laki. Bisa-bisa tanduk Ezza bakal keluar kalau ia sampai berani nekad menyentuh istrinya itu. Benar saja, baru saja beberapa langkah, Ezza sudah menunjukkan rasa protesnya pada dokter Richard.


"STOP, mau ngapain dok?" tanya Ezza setelah melihat dokter Richard membuka kain penutup bagian bawah milik Candy.


"Astaga, ya mau bantu proses persalinan Candy memangnya mau ngapain?" ucap dokter Richard sambil geleng-geleng.


Dokter Richard memang tak mau mengalah dengan Ezza. Karena memang ini adalah tugasnya sebagai dokter spesialis kandungan. Tentu saja membantu proses persalinan juga merupakan tugasnya.


Para tenaga medis dibelakangnya juga mendiamkan hal tersebut, sekalipun sebenarnya mereka juga menertawakan kelakuan Ezza. Bagi mereka hal seperti ini sudah biasa terjadi. Apalagi kalau cuma perbedaan pendapat seperti ini.


"Trus maunya Anda bagaimana?"


"Memangnya tidak ada dokter wanita di rumah sakit ini."


"Ada, apa Anda meminta diganti dokter lain? Apakah Anda mulai meragukan kemampuan saya? Atau Anda hanya mempertahankan rasa ego Anda yang begitu tinggi tanpa mau melihat situasi dan kondisi Candy?"


"Apa Anda bisa menjamin jika dokter yang membantu persalinan Candy wanita, bisa lebih baik dari saya, padahal yang tau dengan jelas kondisi dan riwayat kesehatan Candy dari awal adalah saya!"


Ezza terdiam setelah mendapat teguran dari dokter Richard. Perkataan dokter yang begitu ringan tetapi memang benar adanya, seolah seketika datang dan membuat malu dirinya. Ezza tak mempunyai kata-kata lain lagi kecuali pasrah terhadap keadaan saat ini.


Dokter Richard yang sudah mau memulai tugasnya kembali menaruh peralatan medisnya. Ia memandang lelaki di depannya ini dengan sejuta pertanyaan. Lelaki yang hanya bisa mempertahankan egonya tanpa melihat situasi dan kondisi seperti Ezza memang harus disadarkan. Agar ia bisa sedikit menghormati profesi orang lain.


Tak selamanya kekuasaan dan ego akan selalu menang. Karena hal itu justru akan membunuh tali silaturahmi yang sudah terjalin.


Melihat ketegangan yang terjadi, Candy sudah tidak tahan lagi. Padahal ritme kontraksi yang ia rasakan saat ini begitu intens, tetapi bisa-bisanya suaminya malah mengajak debat orang lain.

__ADS_1


Candy pun meremas tangan Ezza yang berada di sisi brankarnya.


"Awhhh ..."


Karena tindakan Candy, ekor mata Ezza kemudian melirik istrinya yang masih kesakitan di atas brankar.


"Mas, sakit banget...." rintih Candy.


Candy benar-benar tidak bisa menahan hal ini lagi. Ia sudah tidak mempunyai tenaga untuk berdebat.


Dokter Richard yang sudah jengah akan sikap posesif Ezza, segera menggertaknya.


"Sekarang pilih, mau istri dan anak Anda selamat atau mau mereka pergi meninggalkan Anda! Dan biarkan saya melakukan tugas saya dengan segera!"


"Sekarang lihat kondisi istri Anda!"


Ezza pun masih memandangi istrinya tersebut.


"Anda tidak merasakan bagaimana Candy menahan rasa sakitnya dari semalam, apa saat ini harus menunggu ke-egoisan-mu lagi?"


Ezza menggeleng, ia sudah kalah start. Ia tak bisa berkata-kata lagi saat ini. Bagaimana pun keselamatan Candy dan anaknya adalah hal utama saat ini.


"Oke, silahkan dilanjutkan tugas dokter, tolong selamatkan anak dan istri saya!" ucap Ezza dengan mata terpejam.


"Oke, sekali lagi Anda bertindak egois, maka maaf saya tidak akan melanjutkan ataupun membantu persalinan Candy!"


"Candy maafkan atas semua perkataan saya tadi," ucapnya sesaat sebelum ia memulai pekerjaannya.


Candy pun mengangguk lemah. Dengan mengucap bismillah, ia memulai membantu proses persalinan Candy. Peluh dan keringat mengucur dari kening Candy, Ezza dan dokter Richard.


Mereka sama-sama berjuang dan berdoa untuk keselamatan Candy. Apapun yang mereka lakukan adalah perjuangan bersama.


Dokter Richard tak henti-hentinya membimbing Candy untuk mengatur pernafasan serta irama meng-eden-nya.


"Tarik nafas, tahan dan buang perlahan ..."


"Ulangi lagi, ya ... bagus begitu ..."


"Ughhh, ahhh ... ughhh ... aahhhh ..."


"Iya bagus, ulangi sekali lagi dan ..."


"Udah mulai kelihatan rambut baby nya Candy ...ambil nafas, tahan dan buang ... yak bagus ... seperti itu."


Dokter Richard benar-benar membimbing Candy. Meski begitu ia tak jarang melihat Ezza masih cemburu. Tetapi fokusnya hanya satu, melihat Candy dapat selamat dalam proses persalinannya kali ini.

__ADS_1


"Bagus Candy, kepalanya sudah keluar, ayo mulai lagi, ritmenya sama ya dengan yang tadi."


"Kamu pasti bisa," ucapnya memberi semangat.


Salah satu tangan dokter Richard mengambil gunting menambah lebar jalan lahir bayi.


"Krettt ... kret ... srettt ...." bunyi suara gunting saat beradu dengan kulit Candy.


Suara yang terdengar pun tak sanggup Ezza dengarkan. Ia pun sampai bergidik ngeri membayangkan hal tersebut. Pengalaman persalinan yang kedua ini begitu berbeda dengan saat persalinan Daffin dulu.


Mungkin karena dulu dokter yang membantu proses persalinan Candy wanita jadi Ezza tak perlu takut. Tetapi kali ini berbeda, ini memang di luar kehendaknya.


Terlebih Ezza tau kalau sebenarnya dokter Richard memendam rasa pada istrinya.


"Mas, aku ga kuat," lirih Candy.


"Kamu pasti bisa sayang," ucap Ezza yang tak kalah gencar memberikan semangat untuk Candy.


Meski sebenarnya ia sudah tidak kuat, tetapi Candy terus berjuang.


"Candy ayo sedikit lagi ..." ucap dokter Richard.


"Aarggggghhhh ... emmm ... "


Beberapa saat kemudian, disaat nafas Candy sudah mulai habis, terdengarlah suara tangisan bayi perempuan yang sangat cantik.


"Oek ... oek ... oek ..."


Ahirnya putri pertama Candy lahir ke dunia. Bayi yang masih penuh darah itu pun segera diberikan pada Candy. Ia pun diletakkan diatas dada Candy lalu didekap erat oleh Candy agar tidak kedinginan.


"Alhamdulillah..." ucap semua orang setelah mengetahui ibu dan bayi selamat.


Ezza segera mengecup pucuk kepala Candy dan juga kedua tangan istrinya itu.


"Terimakasih sayang untuk semua perjuanganmu," ucap Ezza lirih.


Candy pun hanya bisa menikmati ungkapan kasih sayang dari suaminya dengan rasa bersyukur.


"Terimakasih Ya Allah untuk semua nikmat yang tidak terkira ini."


.


.


...🌹Bersambung 🌹...

__ADS_1


Oh ya sambil nunggu up, mampir ke karya Fany yang lain yuk. Kisah perjuangan seorang gadis pengidap kanker otak dalam mencari cinta sejatinya. Ditunggu 🥰



__ADS_2