
Happy reading all😘
.
.
Operasi sudah berjalan lancar, kini kedua pasien telah berada di ruang perawatannya masing-masing. Ibu Arga juga masih setia menunggui putranya di salah satu ruangan. Tetapi ia sama sekali tidak menjenguk wanita yang bersama putranya saat kecelakaan.
"Ah, kenapa kakiku rasanya sakit sekali?" batin Delima saat pertama kali siuman.
Ia pun membuka matanya, bau obat-obatan khas rumah sakit menusuk indra penciumannya.
"Awh ..." ucapnya ketika mencoba mau menggerakkan kakinya.
"Haaaa ... ke-kenapa dengan kakiku ..." ucapnya histeris.
Teriakan Delima membuat suster yang berada diruang sebelah segera masuk ke kamarnya.
"Ada apa Nyonya?" sapanya kaget.
"Su-suster kenapa kaki saya di perban kaya mumi?"
Suster kemudian melihat ke arah kaki yang dimaksud oleh Delima.
"Oh itu, kaki Nyonya baru saja mengalami retak karena kecelakaan, oleh karena itu kita antisipasi dengan melakukan operasi dan pemasangan gips di area patah guna untuk mengembalikan bagian sudut yang cidera."
Sontak saja Delima menutup mulutnya dengan salah satu tangannya. Ia tak menyangka ia akan mengalami kecelakaan saat kepulangan mereka dari liburan.
"Lalu, lelaki yang bersama dengan saya saat kecelakaan bagaimana suster?"
"Kalau itu ia masih terbaring koma, dan kini ia bersama ibunya."
"Alhamdulillah, terimakasih suster."
"Sama-sama, maaf saya permisi, kalau ada apa-apa, Nyonya bisa menekan nurse call yang berada di samping kiri bed Anda."
"Iya suster, terimakasih."
Delima kini menghela nafasnya, ia bersyukur masih diberikan kesempatan untuk hidup lagi setelah kecelakaan hebat yang menderanya beberapa waktu lalu.
.
.
Sementara itu, Tuan Hadi mengutus pengacaranya untuk mengunjungi Ezza di rutan.
"Terimakasih Pak," ucap Ezza pada polisi jaga yang mengantarkannya.
"Selamat siang Tuan Ezza," sapa pengacara keluarga Hadi Wijaya.
"Siang," ucap Ezza sedikit ketus.
Ia bahkan membuang muka saat pengacara itu mengajaknya berbicara. Sebenarnya bukan dia yang Ezza tunggu, melainkan kedatangan Candy sangat ia rindukan saat ini.
"Langsung pada intinya saja Tuan, saya diutus Tuan untuk datang ke tempat ini guna menyerahkan beberapa berkas yang harus Anda tanda tangani saat ini juga."
"Apa ini?" tanya Ezza terkejut.
Dihadapannya kini sudah ada beberapa berkas yang berlapis di depannya, ia bahkan bingung dan takut untuk membukanya.
"Jangan hawatir, jika Anda menandatangi ini, maka biaya hidup selama di rutan akan ditanggung oleh ayah Anda."
__ADS_1
"Tetapi dengan syarat semua berkas ini Anda tanda tangani saat ini juga."
Dengan segala keraguan, Ezza mulai membuka berkas-berkas itu dan membacanya sekilas. Sebenarnya syarat yang diajukan ayahnya cukup mudah, hanya saja entah kenapa ia belum rela menceraikan Delima.
"Apa Anda masih ragu untuk menceraikannya?"
Tanpa ragu, pengacara itu melemparkan beberapa foto perselingkuhan Delima dengan lelaki saat berada di hotel. Mata Ezza terbelalak ketika mendapati kenyataan pahit itu.
"Da-darimana Anda mendapatkan semua ini?" tanya Ezza terkejut sambil memunguti semua foto istri keduanya itu.
Pengacara itu tersenyum tipis.
"Sudah lama, Tuan Besar mengetahui ini, tetapi beliau bungkam karena masih menyayangi Anda, ia pun kini berjuang bersama istri Anda agar bisa mempertahankan perusahan H&W Group agar tidak jatuh."
Ezza mengusap kasar wajahnya. Ia pun sungguh terpukul dengan kenyataan barusan. Ahirnya tanpa diminta ia pun menandatangani semua berkas di depannya itu tanpa bertanya lebih jauh.
"Terimakasih Tuan untuk kerja-samanya, saya harap proses hukum Anda bisa dipercepat," ucap pengacara itu sambil permisi.
Cekreekkk ... pintu sel dibuka, terlihat seorang polisi yang sudah menunggu Ezza berdiri di ambang pintu.
"Waktu sudah habis," ucap petugas polisi.
Ezza pun kembali digelandang untuk masuk ke dalam sel, tak lupa kedua tangannya sudah diborgol kembali. Lalu pertemuan siang itu selesai.
.
.
Dengan cepat berkas-berkas tadi sudah meluncur ke rumah sakit tempat Delima dirawat.
Tok ... Tok ... Tok ...
"Permisi ..."
Kemudian salah seorang suster tersebut mengantarkan salah satu lelaki ke dalam ruangan Delima.
"Selamat siang Nyonya Delima," sapa bapak pengacara dengan ramah.
"Siang, maaf bapak siapa ya?"
"Perkenalan saya Romli, pengacara keluarga besar Tuan Hadi Wijaya," ucapnya sopan.
"Pengacara keluarga Mas Ezza? Ada keperluan apa ia kesini?" tanya Delima dalam hati.
Tanpa basa-basi, ia pun menyerahkan map kepada Delima. Dengan berjuta pertanyaan, Delima mulai membuka map tersebut. Seketika matanya terbelalak ketika melihat judul berkas tersebut.
Lalu matanya kembali menyisir berkas tersebut sampai bagian ahir, dan di sana sudah ada tanda tangan suaminya.
"Bukankah Mas Ezza dipenjara, lalu kenapa ia menggugatku?" batinnya trus bertanya sambil memandang wajah pengacara.
"Bisakah Nyonya mempercepat proses tanda tangan ini, waktu saya tidak banyak Nyonya."
"Tunggu dulu, kenapa Mas Ezza menceraikan saya?" pertanyaan konyol itu meluncur tanpa dosa.
Pengacara itu terkekeh kecil.
"Wah, bapak tidak sopan ya, saya bertanya baik-baik kenapa malah ditertawakan?" ucapnya tidak terima.
"Kalau Nyonya tidak mau tanda tangan tidak apa-apa tetapi bui menunggu Anda."
"Ma-maksudmu apa?"
"Saya bisa saja menunjukkan bukti kalau Anda dalang dibalik kasus Tuan Ezza saat ini juga, agar Anda segera menggantikan tuan muda mendekam di balik jeruji besi."
__ADS_1
Delima mulai ketakutan dengan ancaman pengacara tadi. Bagai tersambar petir di siang bolong, mau tak mau ia pun harus membubuhkan tanda tangannya diatas surat tuntutan cerai dari Ezza.
"Awas aja kamu mas, sepulang dari sini aku akan menuntutmu kembali," batin Delima tidak terima.
Ahirnya berkas perceraian mereka lengkap. Pengacara tersebut tersenyum dengan lepas.
"Terimakasih Nyonya Delima untuk kerjasamanya, saya permisi. Oh ya mulai detik ini Nyonya jangan pernah menginjakkan kaki lagi di keluarga besar Hadi Wijaya dan ..."
Pengacara itu menggantung kalimatnya.
"Dan Nyonya tidak usah mengambil kembali barang-barang Anda karena semua barang peninggalan Anda sudah diwakafkan ke panti."
"A-apaaaaa ..." teriak Delima histeris.
Tetapi umpatan dan teriakan Delima sama sekali tidak mengusik pengacara tadi. Bahkan ia melenggang dengan santai ketika meninggalkan ruangan rawat Delima.
"Awas kamu mass..." ucap Delima geram.
Sesekali terdengar teriakan dan umpatan dari mulutnya sehingga beberapa tenaga medis masuk ke ruangan itu untuk menenangkannya.
"Stop Nyonya, jangan berteriak ..."
"Aargghhh, aku tidak perduli suster ..."
Delima terus berteriak sambil meraung-raung, sesekali ia pun menangis sejadi-jadinya. Hingga dokter menyuntikkan obat bius ke dalam infusnya.
"Alhamdulillah ahirnya dok," ucap suster sambil menghela nafasnya.
"Tidak ada cara lain lagi sus, kalau tidak ia semakin mengganggu pasien di kamar lain."
"Iya dokter."
"Ya sudah kita biarkan pasien ini istirahat, kalau dia kambuh lagi, suntikkan obat ini kembali."
"Ba-baik dokter."
Mau tak mau hanya tindakan itu yang bisa mereka ambil. Karena tingkah laku Delima benar-benar berisik saat itu, akibatnya ia pun diberikan obat tidur oleh dokter, tentunya dengan dosis yang aman. Terlebih lukanya masih belum pulih.
Untuk meminimalisir resiko akibat operasi, pasien harus banyak istirahat.
Sebenarnya perceraian ini bukan keinginan Ezza tetapi karena permintaan ayahnya. Hanya dengan cara itu Tuan Hadi mau menggelontorkan uang untuk membiayai kehidupan Ezza di RUTAN.
Delima terdesak apalagi sekarang ia tidak bisa meminta bantuan pada ibu mertuanya. Bahkan orang-orang suruhan Tuan Hadi sudah menyerang keluarga Delima. Semua akses yang diberikan Ezza di bekukan oleh ayah mertuanya.
Kini bahkan kehidupannya jauh lebih buruk dari sebelumnya.
.
.
...Ha ha ha ... masih kurang gak nih hukuman buat Delima, kalau kurang komen aja ya, siapa tau othor mengabulkan permintaan kalian....
.
.
...Lope-lope sekebon stroberi buat yang masih setia membaca novel ini. ...
...Makasih banyak, jangan lupa VOTE/ GIFT nya buat Candy ya, jangan lupa tekan ❤ nya juga...
__ADS_1