
Happy reading all😘
Pagi itu Ezza sudah rapi dengan setelan kaos dan celana tiga per empat miliknya. Ia juga telah selesai sarapan pagi. Kali ini ia belum masuk kerja, ia masih ingin menemani Candy bermain dengan Baby Kayla. Sementara Daffin sudah lebih dahulu pergi ke sekolah.
Tadi pagi Daffin juga kaget karena kehadiran ayahnya yang tiba-tiba muncul dan berada di tengah-tengah mereka. Tetapi ia sangat bahagia melihat ayahnya sudah kembali ke rumah.
Bahkan sebelum berangkat sekolah ia sempat berpesan, agar saat ia pulang dari sekolah nanti jangan ada yang pergi-pergi lagi.
"Don't go anymore okay. I hope you keep your promise to me this time."
Ezza tercengang karena perubahan Daffin sangat signifikan, bahkan ia kini sudah lancar mengunakan bahasa asing.
"Okay, dad's favorite son, I promise I won't go anywhere until you get home from school, okay."
Daffin tersenyum.
"Okay, I keep my promise dad, now I'm going to say goodbye, okay?"
"Take care dear, have a nice day."
Setelah berpamitan, Daffin berangkat ke sekolah bersama ayahnya, Tuan Hadi.
"Nggak nyangka ya, empat bulan berlalu begitu cepat. Aku sampai melewatkan tumbuh kembang Daffin."
"Nggak apa-apa, Mas, yang penting sekarang kamu sudah kembali."
__ADS_1
Ezza menangkup wajah istrinya.
"Kamu juga pasti sudah banyak berjuang di sini," ucapnya sambil menempelkan jemari Candy pada dadanya.
"Apa pun yang terjadi kemarin, kita harus ikhlas, lagi pula nggak mungkin kita bisa mendahului takdir, yang bisa kita lakukan adalah berserah diei dan menjalani setiap perjalanan takdir kita, Mas."
"Beruntung saat ini kita masih diberikan kesempatan untuk bersama."
"Oh, ya, ibu di mana?"
"Ibu di kamar, Mas. Ayo aku antar."
Setelah mengantar kepergian Daffin, sepasang suami istri itu menuju lantai atas di sisi sebelah kanan. Di mana letak kamar ibu dan ayah mertuanya tinggal.
Sepanjang perjalanan, Ezza merangkul pinggang ramping milik Candy. Sesekali Candy dan Ezza saling melempar senyum mereka.
"Hm, baru sadar ya?"
Candy pun memberikan kerlingan nakal pada suaminya itu.
"Hm, awas ya."
"Wlek, nggak takut."
Sesaat kemudian mereka telah sampai di kamar ibu mertuanya. Sebelum masuk, Candy telah mengetuk pintu kamarnya terlebih dahulu.
__ADS_1
"Mbak, bolehkah aku masuk?" tanya Candy perlahan.
Suster yang menjaga Nyonya Hadi mendengar panggilan Nyonya mudanya, lalu mendekat ke arah pintu. Tak lupa ia segera membuka pintunya.
"Silakan masuk Nyonya dan Tuan," ucapnya sambil bengong.
Pasalnya ia baru pertama kali melihat lelaki yang datang bersama Candy.
"Siapa, ya?" batin Suster Ani.
Lalu Candy menggandeng tangan Ezza menuju ranjang ibunya.
"Ma, ini Mas Ezza sudah datang," ucap Candy dengan sangat pelan.
Mata Nyonya Hadi yang sebelumnya menutup kini terbuka sempurna. Senyum yang dipaksakan kini mulai terbit dari bibirnya yang sudah tidak simetris itu.
Dengan tangan gemetar, Nyonya Hadi mengulurkan tangannya ke arah Ezza.
"Sayang, kamu kembali?" mungkin begitu arti tatapan Nyonya Hadi.
Bibirnya bergetar seolah ia ingin mengajak berbicara Ezza. Sayang, saat ini ia sudah tidak bisa berbicara dengan jelas. Tapi penyakit itu sudah berhasil menggerogoti tubuhnya.
Saat ini, Nyonya Hadi terlihat sedang berusaha tersenyum. Apalagi, kedatangan Ezza sudah sangat ia nantikan, jika ia tidak bisa berbicara setidaknya sentuhan seorang ibu sangat merindukan anaknya bisa tercapai di sana.
.
__ADS_1
.
...🌹Bersambung🌹...