
Happy reading all😘
.
.
Selesai dari rumah duka, dr. Richard langsung membawa Fany kembali ke rumah orang tuanya. Hari ini ia sengaja membawa Fany ke rumah Candy tapi sayang disana terlalu ramai. Oleh karena itu ia belum sempat mengenalkan Candy pada Fany.
"Maaf ya, Sayang. Tadi suasana terlalu ramai, hingga ia tak sempat untuk mengenalkan dirimu dengan Candy."
Fany menoleh, "Nggak apa-apa, Mas, masih ada lain kali 'kan?"
Salah satu tangan dokter Richard menggenggam lembut tangan Fany sambil tersenyum.
"Asalkan kau disisiku, aku akan setia menemanimu ke mana saja."
Fany tersenyum. Hari-harinya kini sudah jauh lebih berwarna ketimbang beberapa hari yang lalu. Ia pun tak akan takut kehilangan pria yang sangat ia cintai itu. Begitu pula dengan Richard yang sangat bersyukur karena penyakit Fany bisa sembuh.
Mungkin Tuhan sedang berbaik hati padanya kali ini, hingga saat ini mereka masih diberikan kesempatan untuk bersama. Jalanan sore itu tidak begitu ramai hingga dokter Richard tidak terlalu kencang dalam mengemudikan mobilnya.
.
.
...⚜⚜⚜...
__ADS_1
...PONDOK KYAI SHOLEH...
Suasana pondok pesantren memang selalu nyaman dan tenang. Suara lantunan ayat-ayat suci Al Qur'an selalu mengiringi pondok pesantren milik Kyai Sholeh ini.
Selama hampir dua minggu ini Arga masih berada di pondok, begitu pula dengan ibunya, Nyonya Taruna. Sementara ayahnya sudah kembali ke kota karena harus menghandle beberapa perusahaan miliknya.
Berita kematian Nyonya Hadi juga terdengar sampai di telinga Nyonya Taruna. Meski tidak terlalu dekat, tapi ia sangat mengenal Candy. Rasa tidak enak karena belum bertakziah ke sana membuat Nyonya Taruna tidak nyaman.
"Ma, Mama kenapa?" tanya Arga yang mendapati ibunya melamun di depan kamarnya.
"Eh, Arga, sini nak," pinta wanita separuh baya itu.
Tak lama kemudian, Arga mulai duduk di samping ibunya. Lalu, Nyonya Taruna mulai menceritakan kegelisahan yang ia rasakan.
"Lalu, apa yang mau Mama lakukan saat ini? Apakah aku boleh mengantarkan Mama?" tanya Arga perlahan.
Nyonya Taruna tersenyum, lalu ia mulai memegang tangan putranya itu.
"Jika Pak Kyai mengijinkan, Mama akan sangat bahagia."
"Oke, nanti biar Arga yang meminta ijin pada Pak Kyai, Ma."
Nyonya Taruna mengangguk. Kini ia bersyukur putranya telah kembali ke jalan yang benar.
Beberapa hari setelah Arga selesai menjalani proses pengobatannya, Arga terlihat lebih sering beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah. Hal itu membuat hati Nyonya Taruna bahagia.
__ADS_1
Keinginan untuk memiliki anak yang sholeh akhirnya terwujud. Kini di usianya yang sudah beranjak semakin tua, ia ingin Arga mempunyai pendamping.
Tetapi ia tidak mau menekan putranya dengan hal itu. Ia teringat pesan Pak Kyai untuk tidak terlalu menekan putranya itu dengan keinginan menikah.
.
.
Sementara dalam perjalanan pulang itu Luna dan Aldi tidak menuju ke desa secara langsung, tetapi mereka lebih memilih untuk menginap pada sebuah penginapan. Karena takut kalau Luna kelelahan ia pun mengambil jalan itu. Lagi pula Aldi terlalu lelah jika harus menyetir pulang pergi hari itu. Apalagi ia baru saja pulang dari bertugas.
Maka ia pun memilih untuk menginap di sebuah penginapan.
"Nggak apa-apa kan, Dik, kalau kita menginap di sini terlebih dahulu?"
"Nggak apa-apa, Mas. Lagi pula kamu kelihatan capek banget."
"Makasih untuk pengertiannya."
Lalu mereka segera mereservasi kamar untuk dua orang, satu untuk dirinya lalu satunya untuk Aldi. Setelah mendapat kamar, mereka lalu pergi ke kamarnya masing-masing untuk beristirahat.
.
.
...🌹Bersambung🌹...
__ADS_1