
Happy reading all😘
Setelah sekian lama menunggu, akhirnya Tuan Hadi kembali melanjutkan langkahnya ke ruangan Candy. Tak lupa ia juga membawakan makanan favorit sang menantu.
Ceklek, knop pintu mulai terbuka.
"Papa," sapa Candy lemah.
"Assalamu'alaikum, menantu kesayangan Papa."
Tuan Hadi mulai mendekati brankar menantunya sembari mengulum senyum.
"Wa'alaikumsalam, Pa."
"Loh, dimana cucu cantik Papa?"
"Oh, Kayla baru saja dimandikan suster, Pa, sekarang ia dibawa berjemur sama suster di balkon kamar."
"Oh, syukurlah kalau begitu."
Lalu Tuan Hadi mendekati Candy, meletakkan makanan yang ia bawa tadi. Setelah itu ia melangkah menuju sofa yang berada di sudut kamar. Dari sana ia memandang wajah Candy yang masih terlihat pucat.
Tiba-tiba hatinya merasa pilu tatkala melihat mata menantunya yang terlihat sembab dan berwajah sendu. Apalagi ia tahu, hal itu karena kepergian Ezza beberapa jam yang lalu.
Entah kenapa bibirnya masih terasa 'kelu' untuk sekedar mengajak ngobrol Candy. Sehingga untuk beberapa saat, keheningan pun terjadi di dalam ruangan itu.
Untuk mengusir kecanggungan yang tak berujung itu, ahirnya tak berapa lama kemudian, Candy mulai membuka obrolan.
"Pa, tadi Mas Ezza sudah berangkat, tapi maaf, ia tidak sempat berpamitan pada Papa."
"Iya, gak apa-apa, justru tadi Papa juga sudah bertemu dengannya di lobby."
"Owh, cicitnya lirih."
Candy terdiam untuk sesaat. Hingga Tuan Hadi mulai berbicara mengungkapkan isi hatinya yang selama ini selalu saja membebani pikirannya.
"Candy, Papa minta maaf sama kamu."
"Papa sungguh tak bermaksud ingin membuatmu terluka lebih dalam. Apalagi kami sudah memaksamu masuk ke dalam Keluarga Besar Hadi Wijaya."
__ADS_1
"Mama kamu juga telah menyesal karena selama ini selalu berbuat jahat kepadamu."
"Pa, jauh sebelum kalian meminta maaf, aku sudah memaafkan kalian," ucap Candy sambil menunduk.
Lalu sesaat kemudian, ia kembali melanjutkan ucapannya.
"Aku juga tidak pernah memendam kebencian pada kalian. Mungkin memang aku yang salah, karena telah lancang masuk ke dalam hidup Mas Ezza, dan tidak bisa menjadi menantu idaman sesuai keinginan, Mama."
"Candy, kamu anak baik, Papa justru malu sama kedua orang tuamu, karena mereka jauh lebih berhasil menjadikanmu sosok wanita yang kuat tetapi berhati lembut."
"Kamu adalah mutiara di dalam kehidupan Ezza. Papa tidak tau lagi bagaimana hidupnya jika bukan kamu yang menjadi istri Ezza."
Tiba-tiba suster masuk ke dalam ruangan Candy dengan membawa Baby Kayla disana.
Oek ... oek ... oek ....
Baby Kayla menangis sangat kencang.
"Pagi Nyonya Candy, Tuan Hadi, permisi. Baby Kayla sepertinya lapar, Nyonya."
Lalu perawat itu menyerahkan Baby Kayla agar mendapat asupan ASI dari Candy. Setelahnya perawat itu menarik tirai untuk menutupi Candy yang sedang memberikan ASI.
"Iya, Sus."
Setelah itu suster tersebut masih menunggu sampai Candy selesai memberikan ASI. Ia memang disewa oleh Tuan Hadi untuk mengawasi dan membantu merawat Baby Kayla selama di Rumah Sakit.
Beberapa saat kemudian, Baby Kayla sudah tenang dan nyaman di dalam pelukan ibunya, sampai ia ketiduran di sana. Setelah melihat sang bayi tertidur dan siap untuk dipindah, suster tersebut segera mengambil lalu menidurkan di dalam box bayi.
"Oh, ya, Candy. Papa bisa minta soft copy tentang proyek kamu di Kota X?"
"Oh bisa, Pa. Tapi file-nya ada di laptop, kalau tidak salah aku taruh di meja kerja."
"Ok, nanti biar Papa ambil di kamar kamu."
Ceklek, "Permisi."
"Pagi, dr. Richard," sapa Tuan Hadi ramah.
"Pagi Tuan Hadi, kebetulan Anda disini," ucapnya sambil tersenyum.
__ADS_1
"Hehehe, iya."
"Nah, sebelum kita berbincang, saya mau memeriksa menantu Anda terlebih dahulu," ucap dr. Richard sopan.
dr. Richard segera melangkahkan kakinya menuju brankar Candy.
"Pagi Nyonya Ezza."
"Pagi, Dokter."
"Permisi ya, saya mau memeriksa kondisi Anda terlebih dahulu."
"Iya."
"Sus, tolong ambilkan alat pengukur tekanan darah ya."
"Baik, Dokter."
Suster itu lalu menyiapkan beberapa alat yang akan digunakan dr. Richard. Selama proses itu, Candy tak pernah lepas memandangi wajah dr. Richard. Di dalam hatinya merasakan ada hal aneh yang begitu terasa.
Tidak biasa dr. Richard menyapanya dengan nama suaminya, tetapi kenapa tadi ia bersikap demikian, ada apa ini? Batin Candy terus bertanya tentang hal itu.
Sebenarnya konsentrasi dr. Richard pagi itu sedang terbelah. Maklum saja, pikirannya bercabang saat itu. Di satu sisi ia memikirkan kekasihnya yang satu jam lagi akan berangkat ke luar negeri untuk berobat. Tetapi di sisi lain, ia harus mengurus segala keperluan untuk registrasi Candy agar bisa pulang sore ini.
"Dokter ...."
"Eh, iya, kenapa Candy?"
Candy tersenyum ketika mendengar namanya kembali di sebut oleh dr. Richard. Hal itu membuat dr. Richard bingung akan tingkah Candy.
"Apa ada yang sedang dokter pikirkan saat ini?" ucap Candy memberanikan diri untuk bertanya.
"Eh, itu anu, saya sebenarnya ..."
.
.
...🌹Bersambung🌹...
__ADS_1
...Jangan lupa dukungannya ya kakak, sekedar🌹 atau ☕ juga boleh....