
...๐น๐น๐น...
...Sesuatu yang berharga akan terasa istimewa jika kita mulai kehilangannya. ...
...Apalagi itu tentang arti kehadiran seseorang yang pernah spesial di hati kita. ...
...Cinta memang tak terlihat, cinta memang tak kasat mata. ...
...Tetapi nyata di hati kita....
...Terlebih cinta itu murni karena telah terbiasa tumbuh bersama. ...
...๐น๐น๐น...
Perlahan tapi pasti, Ezza mulai meninggalkan ruang rawat inap milik Candy. Disaat seluruh keluarganya belum datang, ia memilih untuk segera pergi dari sana. Kepergiannya kali ini meninggalkan segala kenangan yang sangat spesial. Meski hanya sebentar, tetapi sangat lekat dalam ingatan.
Ezza yang terbiasa hidup mewah kini malah tinggal di tempat yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Sebuah tempat yang tak layak tetapi banyak mengandung pelajaran hidup. Bahkan banyak orang yang memandang rendah tempat tersebut.
Tetapi nyatanya Ezza mampu bertahan bersama para tahanan lainnya. Di tempat itulah ia bertemu Sobri. Seorang pemuda yang seharusnya masih masuk usia produktif tetapi malah terkurung di dalam RUTAN.
>>FLASH BACK ON
Sobri adalah seorang pemuda dari keluarga sederhana. Ia sudah kehilangan ayah sedari kecil. Hidupnya ia habiskan bersama ibu dan adik perempuannya. Tetapi kini malah terjebak di dalam RUTAN akibat salah pergaulan.
Iming-iming mendapatkan hasil melimpah, malah berujung bencana. Dulu ia ditawari sebuah pekerjaan menjual obat, tetapi ia tidak tahu kalau obat yang ia jual adalah obat terlarang. Hingga akhirnya ia ditangkap polisi dengan tuntutan pengedar narkoba.
Sejak saa itulah ia tinggal sebagai salah satu napi di RUTAN ATEMBA. Tetapi karena hal itulah, kini ia bisa bertemu dengan Ezza dan menjadi teman di dalam RUTAN.
>>FLASH BACK OFF
Derap langkah kaki Ezza terasa begitu berat, terlebih ia baru saja bertemu putri kecilnya, Kayla. Seorang bayi perempuan yang belum genap berusia satu hari, harus ia tinggalkan untuk tiga puluh hari ke depan.
__ADS_1
Beruntung saat kelahirannya, Allah sedang berbaik hati padanya. Meski sebentar ia tetap bersyukur.
Sesaat sebelum ia sampai di lobby rumah sakit, ia melihat ayahnya, Tuan Hadi. Sosok lelaki berusia hampir setengah abad itu berdiri tegap di dekat lift. Memandang jauh kepergian putra kesayangannya, bersama dua orang polisi yang setia mengawal dibelakang.
Dari sorot matanya, terpancar jelas rasa tidak rela melihat kepergian Ezza. Akan tetapi ia tidak mau egois. Meski tau jika yang bersalah di dalam kasus ini bukan Ezza, tetapi Tuan Hadi berusaha untuk tetap ikhlas.
Niat awalnya, ia hanya ingin memberikan pelajaran pada Ezza tentang arti sebuah ikatan pernikahan. Tetapi keinginannya bertentangan dengan kenyataan yang ia rasakan.
Sebuah kenyataan yang kini justru menggores luka baru di dalam hatinya. Tanpa ia sadari, Tuan Hadi mendekati Ezza dan memeluknya. Reflek tangan Ezza membalas pelukan sang Ayah. Kedua lelaki beda generasi itu saling menguatkan satu sama lain lewat pelukan.
"Ayah, maafkan aku," cicit Ezza.
"Tidak ada yang bersalah di dalam hal ini sayang, lagi pula, Ayah sudah memaafkanmu sedari dulu."
"Ayah, bolehkah aku meminta tolong sesuatu padamu?"
"Boleh, katakanlah permintaanmu."
Ezza menunduk untuk sesaat, lalu setelah dirasa tenang, ia mengutarakan maksud hatinya.
Tuan Hadi mengangguk, "Tenang saja, meski kau tak meminta tapi ayah akan mengabulkannya."
"Terima kasih, Ayah. Maaf, aku telah banyak merepotkanmu."
"Sama-sama."
Ahirnya tepat pukul delapan pagi, Ezza berangkat menuju RUTAN. Menuju kehidupan palsunya untuk sementara waktu.
Mobil polisi itu kini telah berada di tengah kota. Beradu dengan kemacetan yang sudah menjadi makanan pokok di Ibu Kota.
Satu jam kemudian, mobil yang Ezza tumpangi, telah mengantarkannya di RUTAN ATEMBA. Kini kondisi kedua tangan Ezza sudah terborgol secara alami. Tanpa melakukan perlawanan, Ezza sudah kembali masul ke dalam sel tahanan miliknya.
__ADS_1
Di tempat itulah Ezza juga mengganti pakaiannya. Sebuah pakaian seragam napi kini telah ia kenakan. Walaupun tanpa bergaya, kalau sudah aslinya ganteng ya tetap ganteng.
Ternyata di dalam sana, teman sekaligus sahabatnya sudah menunggu Ezza. Sejak satu jam yang lalu, Sobri telah menunggu kedatangan Ezza di depan kamar sel miliknya.
"Hai Bro, bagaimana kabarnya? Kenapa wajahmu kusut sekali?" tanya Sobri penasaran.
Baginya orang yang diberi kesempatan keluar dari sel tahanan terlihat sangat ceria. Tetapi anehnya, wajah Ezza terlihat sebaliknya, sangat kusut.
Bahkan Ezza terpaksa tersenyum pada sahabatnya itu. Ia mengulum senyum terpaksa ke arahnya.
"Ya elah, Bro, senyum yang ikhlas dikit atuh."
"Hm."
"Ceritakan gimana? Istri lo jadi lahiran kagak?"
"Alhamdulillah jadi, anak kedua gue cewek."
"Asolole, selamat Mas Bro.""Gak nyangka gue, cetakan lo jitu banget, Bro. Bisikin caranya napa!"
Ezza menoleh dan mencibir ke arahnya.
"Lo kira bikin anak kayak bikin kue apa, sekali jadi, dudul."
.
.
...๐นBersambung๐น...
.
__ADS_1
.
...Jangan lupa Like, komen, share n favorit ya. Tambah terimakasih lagi kalau dikasih ๐นโ ataupun koin dan Vote, terimakasih all๐๐...