
Selama ada Ezza di sampingnya Candy tidak akan merasakan mual, tapi jika Ezza pergi maka rasa mual itu akan mengganggunya. Mbok Ijah yang melihat Nona Mudanya tersiksa karena efek hamil mudanya merasa tak enak hati. Ia pun segera memberikan benda rahasia yang baru saja ia beli dari apotek.
Dengan mengatakan jika ia ingin mengantarkan kudapan sore atas perintah Ezza, ia masuk ke kamar Nona Mudanya itu. Mendengar pintu kamarnya di ketuk, Candy mempersilakan asisten rumah tangganya untuk masuk rumah.
"Masuk aja Mbak, enggak di kunci kok."
"Terima kasih, Non."
"Sama-sama, Mbok, ada apa sih?"
"Nggak ada Non, cuma tadi Tuan Ezza menitipkan pesan sama saya untuk mengantarkan kudapan sore ke sini."
"Iya, taruh aja di meja."
"Tapi ..."
Mbok Ijah menoleh ke kanan dan ke kiri lalu memberikan sebuah kotak kecil pada Nona Mudanya itu.
"Dipakai ya Non, besok pagi air pipisnya Non taruh di wadah itu, lalu setelahnya celupin alat ini."
"Buat apa?"
"Buat lihat apa ada garis duanya atau tidak."
"Ha-ah."
Meski ragu-ragu ia menerima bungkusan dari Mbok Ijah. Lalu asisten rumah tangganya itu permisi pergi. Tapi sebelum pergi ia berpesan agar alat itu dipakai dan jangan dibuang. Sebenarnya Candy tau alat itu untuk apa. Tapi ia agak ragu untuk menggunakannya.
🍃Keesokan harinya.
Selepas adzan subuh Candy ingin buang air kecil, ia pun teringat perkataan Mbok Ijah kemarin. Lalu ia segera menuntaskan hajatnya itu tanpa membangunkan suaminya. Dengan langkah berjinjit, Candy masuk ke kamar mandi.
"Astaga hampir aja ketauan," batin Candy sambil mengelus dadanya.
Sebelum buang air kecil, Candy mengambil sebuah wadah kecil untuk menampungnya, lalu setelah itu ia mencelupkan alat tersebut ke dalamnya. Satu detik dua detik belum terjadi reaksi apa-apa, sampai akhirnya dua garis itu muncul perlahan.
Meski detak jantungnya tidak karuan tapi Candy mencoba untuk tetap berpikir positif, dua garis yang terlihat jelas tadi membuat Candy hampir berteriak.
"Apakah ini artinya? Alhamdulillah semoga berita ini bisa membawa keberkahan dan kebahagian untukku. Aamiin."
Pagi itu seperti biasa, Candy tetap menyiapkan sarapan pagi untuk suaminya. Beruntung rasa mual yang menyelimuti Candy tidak berasa saat ini. Sehingga sarapan pagi berlangsung aman.
"Mas, nanti aku boleh ke kampus, 'kan?"
"Boleh, yang penting kamu sehat."
"Alhamdulillah udah mendingan kok."
"Ya sudah, aku pamit berangkat dulu."
"Ok, hati-hati ya, Mas."
Ezza tersenyum lalu mencium kening Candy. Ia memejamkan mata ketika Ezza melakukan hal tersebut.
Tak berselang lama, Tuan Hadi juga berangkat kerja. Candy memberi hormat lalu mencoba tersenyum melihat ibu mertuanya itu.
__ADS_1
Tapi bukan sebuah senyuman melainknk tatapan mata yang sinis yang diberikan pada Candy.
"Sabar-sabar Candy, semoga ibu mertuamu mendapatkan hidayah, Aamiin."
Lalu Candy segera masuk ke dalam kamar tak lama kemudian, Mbok Ijah membuntuti Candy yang masuk kamar. Sebelum masuk, beliau mengetuk pintu kamar sebagai tanda hormat.
"Siapa?" tanya Candy
"Saya Nona."
"Masuk!" Titah Candy.
Setelah mendapatkan perintah, Mbok Ijah segera masuk. Ia pun tersenyum penuh arti saat memandang Nona Mudanya itu.
"Gimana Non, sudah di coba belum?"
"Apanya Bik?" ucap Candy pura-pura.
"Aduh, si Non, mah" ucap Mbok Ijah sambil garuk-garuk kepala tidak jelas.
Tentu saja hal itu membuat Candy tertawa terpingkal-pingkal.
"Kok ketawa sih, apanya yang lucu coba?"
"Wkwkwk, nggak ada."
"Trus ngapain tersenyum gitu?"
"Mbo tenang aja, sebentar lagi aku tunjukin sesuatu sama Simbok, tapi janji nggak boleh bersuara, oke?"
muncul dengan membawa sesuatu ke depan Mbok Ijah.
"Apa ini, Non?"
"Buka aja!"
Dengan sangat hati-hati, Mbok Ijah membuka kotak kecil itu, lalu tak lama kemudian, ia membuka mulutnya karena terkejut.
"I-ini?"
Candy mengangguk lalu tersenyum. Sontak saja ia memeluk nona mudanya tersebut.
"Selamat, Non. Oh, ya, Tuan Ezza apakah sudah tahu?"
Candy menggeleng perlahan.
"Kenapa?"
"Nanti siang mau beri kejutan sama dia di kantornya."
"Oalah begitu, semangat Non," ucap Mbok Ijah senang.
"Terima kasih."
Setelah mengetahui hal itu, Mbok Ijah permisi keluar sambil membawa keranjang pakaian kotornya. Tapi kedatangan Nyonya Hadi sempat membuat Mbok Ijah terjingkat.
__ADS_1
"Kenapa melotot!" Gertak Nyonya Hadi.
Tapi mata Nyonya Hadi masih menatap aneh pada Mbok Ijah yang tiba-tiba keluar dari kamar Ezza.
Melihat di salah satu tangannya memegang keranjang kotor membuat keraguan tersebut menguap begitu saja.
"Enggak-enggak Nyonya, saya permisi."
Setelah bertemu mak lampir, Mbok Ijah bergegas pergi ke lantai bawah untuk mencuci. Semantara Candy sedang mempersiapkan kejutan untuk suaminya nanti siang.
"Mas, semoga kamu bahagia untuk hadiah ini."
Candy lalu membungkus tes pack itu pada sebuah kotak kado kecil yang dihiasi pita hias yang berwarna merah. Lalu sambil menunggu waktu itu tiba, Candy menyimpan kado yang telah ia siapkan tadi ke dalam tas dan dimasukan ke almari yang terkunci.
Bagaikan benda berharga yang tak boleh dilihat orang lain selain suaminya dan Mbok Ijah yang sudah dianggap keluarganya sendiri di rumah yang sangat besar itu. Mbok Ijah memang salah satu orang yang bersikap baik pada Candy oleh sebab itu, Candy sangat menyayangi beliau.
Sesuai rencana siang itu Candy sudah berada di kantor Ezza. Ia langsung menuju ke ruangan CEO di lantai paling atas gedung itu.
"Selamat siang, Bu?" sapa sekretaris Ezza.
Candy hanya membalasnya dengan sebuah senyuman, lalu ia segera masuk ke ruangan Ezza.
"Sayang, kenapa nggak bilang kalau mau datang?" ucap Ezza yang terkejut akan kehadiran istrinya.
"Jadi nggak boleh nih?"
"Boleh, tapi bentar ya, aku selesaikan tugas ini sebentar, nggak lama kok, lima menit aja."
"Oke."
Tapi sepertinya Ezza memang sibuk, sampai waktu lima menit berlalu begitu saja, tapi Ezza masih bertahan dengan tumpukan berkas. Candy yang kesal bangkit dan berdiri di depan meja Ezza.
"Mas, tatap aku sebentar dong," rengek Candy di ruang kerja Ezza.
Ezza masih terlihat sibuk dengan berkas-berkas di tangannya. Karena kesal, Candy buru-buru mendekatinya dan memberinya sebuah kotak kado. Ezza menautkan kedua alisnya karena perlakukan tiba-tiba istrinya.
"Apa ini sayang?"
"Buka dong mas, ihhh, nyebelin!"
Melihat istri kecilnya merajuk, Ezza tersenyum lalu ia mulai merapikan pekerjaannya dan membuka kado itu.
"I-ini?" ucapnya terkejut.
"Surprise ... aku hamil sayang," ucap Candy dengan berbinar.
"Alhamdulillah sayang, ahirnya kamu hamil," ucap Ezza berbinar ketika Candy memberikan tes pack miliknya.
Tak butuh waktu lama, Ezza segera menghadiahi istri kecilnya itu dengan ciuman bertubi-tubi dan memeluknya erat. Sungguh sebuah kado indah tepat di hari kelahirannya, membuat Ezza semakin mencintai Candy.
.
.
...🌹Bersambung🌹...
__ADS_1