
Happy reading all😘
.
.
Mendapati kabar kalau Delima menjadi buronan polisi, Arga mulai kehilangan arah. Ia menyetir mobilnya secara cepat. Saat ini, ia tidak mempunyai tujuan pasti hingga akhirnya ia melajukan arah mobilnya menuju ke sebuah taman di tengah kota. Kebetulan di sana ada sebuah danau buatan yang mungkin bisa menenangkan pikirannya yang kacau saat ini.
Sampai di sana, ia masih merasa ketakutan, pikirannya jauh melayang. Ia terlihat begitu kacau saat ini. Arga memilih menepikan mobil di tepi jalan, lalu mulai melangkahkan kakinya menuju sebuah kursi panjang, dan ia duduk di sana. Tiba-tiba saja, muncullah seorang laki-laki yang menepuk bahunya.
"Astaghfirullah," ucapnya kaget.
Lelaki itu tersenyum ketika memandangi Arga.
"Maaf, apa Bapak mengagetkanmu?"
"Eh, enggak Pak, tidak ada apa-apa kok."
"Apa kamu sedang banyak masalah saat ini? Kenapa kamu terlihat begitu kacau?"
Arga pun mengangguk, lelaki itu hanya tersenyum.
"Ayo, ikut ke rumah Bapak saja, siapa tau kamu butuh tempat atau ingin menenangkan pikiran untuk sejenak."
Arga menoleh ke arah bapak itu, lalu menganggukan kepalanya. Seperti terhipnotis, Arga mengikuti semua permintaan lelaki itu. Saat ini ia juga dalam perjalanan menuju rumahnya.
Sedangkan di sisi lain, Nyonya Taruna tampak hawatir pada putranya yang tak kunjung datang.
"Kamu kemana sih, Nak. Kenapa jam segini belum pulang?" ucapnya khawatir sampai ia berjalan bolak-balik dari satu tempat ke tempat lain.
Sesaat kemudian, mobil yang dikendarai suaminya telah kembali. Ia memang berjanji untuk mengantar istri dan putranya ke tempat seorang Kyai. Mungkin karena itu pun suaminya pulang. Padahal saat ini, Arga belum kembali. Lalu rasa panik itu segera muncul dan membayangi Nyonya Taruna.
Mereka memang sengaja membawa Arga pada seorang Kyai ketimbang orang pintar. Tentu saja ini dilakukan untuk mengobati luka batin putranya tersebut.
Melihat istrinya yang berjalan bolak-balik seperti setrika, membuat Tuan Taruna bingung. "Sepertinya ada yang tidak beres," gumamnya.
Ia bergegas keluar dari mobil dan berjalan menuju istrinya, "Ada apa, kenapa kau terlihat khawatir?"
__ADS_1
"Arga, Mas."
"Iya, Arga kenapa?" tanya Tuan Hadi hawatir.
"Arga belum kembali?" ucapnya takut.
"Lah, kok bisa, apa kamu mengijinkan ia pergi?"
Nyonya Taruna mengangguk. "Maaf," cicitnya.
Tuan Taruna menghembuskan nafasnya secara kasar. Lalu merengkuh tubuh istrinya itu dalam pelukan. Setelah dirasa tenang ia segera mengajak istrinya untuk masuk ke dalam rumah.
Tiba-tiba ponsel di sakunya berbunyi. Tuan Taruna mengisyaratkan agar istrinya duduk dan ia akan mengangkat telepon.
"Hallo ...."
"Assalamu'alaikum," ucap seorang lelaki dari arah seberang.
"Wa'alaikumsalam, eh, Pak Kyai, ada apa ya?"
Sejenak wajah Tuan Taruna terkejut, kedua matanya melotot, lalu ia menganggukkan kepalanya. Setelah berbincang sebentar, sambungan telepon itu terputus.
Ia berjalan menuju istrinya.
"Ada apa, Mas?"
"Dek, Arga sudah di pondok milik Pak Kyai."
"Ha-ah, kok bisa, Mas?"
"Entahlah, nyatanya barus saja, Pak Kyai menelponku."
"Alhamdulillah, ya sudah ayo, Mas."
"Ayo, kita sudah ditunggu beliau."
Tanpa berganti pakaian, mereka segera pergi. Sepasang suami istri itu sedang dalam perjalanan menuju ke pondok milik salah seorang Kyai ternama di kota itu. Mereka melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Kebetulan hari itu kondisi jalanan cukup lengang sehingga tak butuh waktu lama, mereka sudah sampai di area pondok.
__ADS_1
Arena pondok cukup sepi, karena jam segini sebagian besar muridnya masuh sedang belajar di kelas. Sementara itu di tempat lain, di sana, terlihat mobil milik Arga sudah terparkir rapi di halaman pondok.
"Benar lo, Mas. Itu 'kan mobil milik Arga, putra kita."
"Iya, dek."
Mereka berdua lalu turun dari mobil dan segera masuk pondok.
"Assalamu'alaikum ...." ucap Nyonya Taruna ketika masuk.
"Wa'alaikumsalam, eh kalian sudah datang. Ayo duduk dulu."
Kedua orang itu segera duduk dan bergabung dengan Pak Kyai.
"Kalian pasti bingung kenapa aku bisa bertemu dengan putra kalian?"
Dengan cepat mereka mulai mengangguk secara kompak.
"Semua ini atas ijin Allah, jadi kalian tenang saja."
"Padahal saya sudah hawatir karena ia tak kunjung datang, saat mendengar kabar kalau dia berada di sini, saya sangat bersyukur," ucap Nyonya Taruna dengan mata yang sudah sedikit basah.
"Sabar, ikhlas, jika Allah sudah menghindaki, maka saya yakin, Allah pula yang mempertemukan kami."
Kedua orang tua itu mengangguk dan sedikit lega. Sementara itu Arga masih memandang jauh hamparan sawah di depannya itu. Pikirannya masih menerawang jauh.
Saat ini seluruh kepalanya hanya Delima dan Delima saja. Tetapi kenyataan jika kekasihnya saat ini sedang menjadi buronan polisi membuatnya semakin khawatir.
"Semoga kamu baik-baik saja, Sayang," doanya dalam hati.
Di dalam rumah.
"Rul, tolong panggil pemuda yang datang bersama saya tadi untuk bergabung di sini."
"Baik Kyai."
Lelaki itu segera memanggil Arga agar cepat bergabung dengan Kyai dan dua orang tadi.
__ADS_1