Berbagi Cinta: CEO-KU YANG BODOH

Berbagi Cinta: CEO-KU YANG BODOH
KENYATAAN


__ADS_3

POV. NYONYA HADI


Mempunyai menantu seperti Candy tak membuat dirinya bersyukur. Perbedaan derajat dan kasta membuat ia sangat membenci kehadiran Candy.


"Candy, cepat bersih-bersih rumah!" Gertak Nyonya Hadi ketika melihat Candy sedang bersantai di kamarnya.


Dengan bergegas Candy turun dari sofa dan segera merapikan tempat duduknya.


"Siapa suruh membersihkan ruang kamarmu ini! Mama nyuruh kamu untuk berisihkan gudang belakang."


"Ha-ah, dimana ruangannya, Ma?"


"Nanti Bik Imah yang bakal ngajak kamu ke gudang belakang. Oh, ya, jangan lupa ganti pakaian bagusmu itu dengan pakaian pembantu, mengerti!"


"Asgtaghfirullah. Kenapa ibu mertuaku seperti ini?" batin Candy.


Tapi karena pelototan tajam dari Nyonya Hadi Candy kembali menunduk.


"Ingat, jangan sampai Ezza dan suamiku mengetahui hal ini, kamu mengerti, 'kan?"


"Iya, Ma."


Setelah ibu mertuanya pergi, Ezza mengelus dadanya. Daripada kena hukuman lagi, Candy memilih berganti pakaian dnegan kaos oblong dan juga celana pendek. Baginya lebih nyaman ketika berpakaian seperti ini ketimbang pakai pakaian yang dipilihkan suaminya atau pun ayah mertuanya.


Tak lama kemudian, Bik Imah segera masuk ke kamar Candy. Karena Candy bersembunyi di belakang pintu, ia pun berhasil mengejutkan Bik Imah.


"Dddooorrrr!"


"Asgtaghfirullah hal 'adzim. Non kenapa ngagetin saya, bisa-bisanya ih ngerjain bibik."


"Wkwkwk, maaf habisnya bibik dari tadi keliatan melamun terus."


Mbik Imah mengelus dadanya yang bergemuruh, lalu memandang nyonya mudanya itu dengan tersenyum.


"Nyonya, andai kau tau menantumu ini gadis yang sangat baik dan sempurna untuk mendampingi putramu, mungkin kau akan berbaik hati padanya. Sayang, hatimu sudah dibutakan oleh harta dan keserakahan."


"Ya sudah, ayo ikut saya ke belakang."


"Siap, Bik."


Candy bersenandung kecil, dan tetap berjalan di belakang kepala pelayan di rumah itu. Hingga mereka berdua bersama-sama membersihkan gudang itu.

__ADS_1


.


.


Hari berganti hari, kini Candy sudah masuk kuliah. Berangkat dan pulang dari kuliah selalu diantar jemput oleh supir. Nyoya Hadi kehilangan waktunya untuk menyiksa Candy.


"Baiklah aku akan bermain cantik setelah ini, tapi ingat, semakin kau menjauhkan aku dari putraku, maka kesakitan yang kamu alami pun akan semakin banyak," ucap Nyonya Hadi penuh amarah.


.


.


"Assalamu'alaikum," sapa Ezza yang baru pulang kerja.


"Wa'alaikum salam, Mas."


Sudah menjadi kebiasaan Candy jika suaminya pulang, ia akan menyiapkan teh hangat dan sepotong kue kreasi masakannya hari itu. Ezza mengigit renyah kue buatan istrinya itu. Sementara Candy menunggu respon dari suaminya.


"Enak, kenapa kamu nggak buka sebuah toko kue aja."


"Nggak mau, aku maunya masakin buat Mas aja."


Begitu pun sebaliknya, Candy juga merasakan hal yang sama. Tapi ia masih menjaga diri, ia tau ia memang tak pantas untuk Ezza. Oleh karena itu ia membiarkan perasaannya mengalir seperti air.


Setelah cukup lama berdiam, Ezza permisi untuk mandi. Candy bergegas menyiapkan segala keperluan untuk mandi suaminya. Setelah itu ia menyiapkan pakaian ganti untuknya.


Candy menatap nanar foto sepasang pengantin yang menempel di dinding kamarnya.


"Akankah aku rela berpisah darimu setelah kita berpisah nanti?"


"Masih ada waktu enam bulan lagi untukku mencintaimu Ezza."


Setelah menuntaskan kegundahannya, Candy segera berlalu meninggalkan kamarnya lalu pergi ke bawah. Setiap sore hari ia akan membantu juru masak di rumah itu untuk menyiapkan makan malam.


Sementara Nyonya Hadi hanya melihatnya dari lantai dua.


"Memang kamu cocoknya menjadi pembantu ketimbang menjadi Nyonya Besar di rumah ini," batinnya.


"Mama, ngapain di sini?"


"Eh, itu, Mama lihat sedang apa Candy saat ini."

__ADS_1


"Bukankah ia sedang memasak, Ma."


Nyonya Hadi melihat putranya, lalu mengajaknya untuk berbincang sebentar di ruang keluarga.


"Ezza, ikut Mama sebentar, Mama mau bicara."


"Untuk apa lagi, Ma. Kalu cuma mau mengenalkan aku dengan wanita pilihan Mama, nggak usah, aku nggak tertarik."


"Ezza!" bentak Nyonya Hadi.


"Ma, aku sangat mencintai Candy."


"Kalau kalian sangat mencintai kenapa sampai detik ini, Candy belum juga hamil?"


Ezza terbungkam oleh pertanyaan menohok dari Mamanya. Ia juga bingung harus menjawab dengan apa lagi.


"Ezza, tujuan orang menikah itu adalah mempunyai keturunan, jika tidak bisa, kenapa tidak mencoba untuk menikah lagi."


"Ma!" bentak Ezza.


Ezza tak habis pikir dengan usulan gila dari Mamanya. Bagaimana bisa ia menceraikan Candy sedangkan ia sudah mulai mencintainya. Satu hal lagi, ia juga belum pernah menyentuh Candy, jadi jangan salahkan ia jika belum juga hamil.


"Haruskah aku melakukannya saat ini?"


Melihat gurat kebingungan di wajah putranya, Nyonya Hadi semakin yakin, jika ada yang tidak beres dengan pernikahan anaknya itu.


"Kalau Candy nggak bisa memberikan keturunan, biarkan Mama memilihkan istri yang cocok untukmu!"


PRANG


Cangkir teh yang Candy bawa terjatuh ke lantai, ketika mendengar ucapan Nyonya Hadi barusan. Semua mata itu kini tertuju pada kehadiran Candy yang mendadak.


"Apakah Candy mendengar semuanya?" batin Ezza.


"Baguslah jika ia mendengarnya, sehingga aku tak perlu repot-repot untuk menyingkirkannya!" batin Nyoya Hadi sambil menatap tajam menantunya itu.


.


.


...🌹Bersambung🌹...

__ADS_1


__ADS_2