
Happy reading all😘
.
.
Dokter Richard berhasil menyusul Fany. Saat ini ia bahkan sudah di Rumah Sakit yang sama dengan kekasihnya itu. Sebelum ia berhasil menemui Fany, dr. Richard harus berhadapan dengan ibunda dan kakak laki-laki Fany.
Kakak Fany tak mengijinkan dr. Richard masuk ke dalam ruang operasi Fany. Tetapi intruksi bunda membuatnya mengalah dan lebih memilih untuk membiarkan ia masuk.
"Jadi, kamu lelaki yang membuat senyum di wajah adikku menghilang selama ini?" tanya kakak laki-laki Fany.
Dr. Richard hanya menunduk.
"Kamu juga yang membuat adikku menolak untuk dijodohkan? Lalu kenapa kamu berani datang kemari, ha-ah! Katakan, dasar lelaki ba*****!" umpat kakak laki-laki Fany.
Sebagai seorang kakak, ia merasa gagal karena membiarkan adik perempuannya disakiti oleh lelaki. Padahal ia sudah menjaganya selayaknya berlian, tetapi kini berlian itu hampir retak hanya karena lelaki di hadapannya ini.
Ia hampir saja menghadiahi bogem mentah karena dr. Richard tak kunjung berbicara. Tetapi saat ia hampir melayangkan pukulannya, tangan umi mencegahnya.
"STOP! Fany sedang berjuang di dalam dan kalian bertengkar! Di mana rasa empati kalian, bukankah kalian menyayangi Fany, tetapi kenapa kalian malah bertengkar."
Sesaat kemudian, seorang suster keluar dari ruang operasi. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri seperti mencari seseorang. Lalu ia pun menghampiri mereka.
"Sorry, is there a man named Richard here?"
"Yes it's me."
"Ok, can you come with me, the patient inside doesn't want to be operated on before you go inside."
"But she's not part of our family sister?"
Kakak laki-laki Fany tidak terima jika lelaki di hadapannya ini malah ditunggu oleh adiknya di dalam. Suster itu menoleh pada kakak laki-laki Fany.
"Sorry, for that I don't know, for sure the patient is really waiting for this person's presence."
"Are you a doctor? If yes, come on, come with me inside, hurry up!"
Dokter Richard mengangguk lalu menoleh pada umi, beliau mengangguk dan memberikan ijin padanya. Setelah mendapat restu dari Ibu Fany, dr. Richard mengganti pakaiannya dengan pakaian steril lalu ikut masuk ke dalam ruang operasi.
Langkah kaki dr. Richard sedikit tertatih dan begitu berat saat masuk ke ruang operasi. Dari kejauhan terlihat jelas seorang wanita terbaring di meja operasi. Banyak dokter dan tenaga medis yang menanti kedatangannya. Apalagi kini ia harus menemani kekasih hatinya berjuang di meja operasi.
Setelah melihat kekasih hatinya datang, senyum Fany terbit. Lalu ia mengisyaratkan agar dr. Richard berada di sampingnya. Sebelum proses operasi dimulai, semuanya berdoa sesuai keyakinan masing-masing.
__ADS_1
Lalu operasi mulai dilakukan. Semua dokter melakukan tugas mereka dengan baik. Kecemasan jelas terlihat dari wajah ibunda dan kakak Fany. Mereka tak henti-hentinya berdoa sepenuh hati agar operasi tersebut berjalan lancar.
Tiga jam kemudian, para tenaga medis bisa bernafas lega. Operasi yang mereka lakukan kini sudah selesai dan berjalan lancar. Kini Fany sudah dipindahkan ke dalam ruang Recovery Room.
Ibunda Fany menghampiri dr. Richard dan mengajaknya untuk berbicara dari hati ke hati. Selama beberapa bulan ini, Fany sedikit banyak sudah bercerita tentang sosoknya. Oleh karena itu, Ibunda Fany ingin mengenalnya.
"Ma ...." cegah kakak laki-laki Fany.
"Kamu di sini dan tunggu adik kamu, umi mau ke luar sebentar."
"Baik, umi."
Meski sedikit berat tetapi ia tetap menghormati keinginan ibundanya. Dr. Richard mengikuti langkah kaki beliau. Akhirnya di kantin Rumah Sakit mereka mulai berbicara.
Pertama, ia terdiam lalu mulai mengajak mengobrol.
"Apa kamu yang namanya Richard?" tanya umi memulai pembicaraan.
"Iya, umi."
"Apa benar kamu bisa menerima kekurangan yang ada pada putri umi."
Ucapan umi terhenti karena sesak yang sudah memenuhi dadanya saat ini. Tapi ia juga tidak mampu melihat penderitaan putrinya yang tak kunjung berhenti. Demi kebahagiaan sang putri, umi akan melakukan semua yang ia inginkan. Setidaknya jika akhirnya Tuhan mengambilnya ia sudah merasakan kebahagian meski hanya sedikit saja.
"Umi, maafkan aku yang tidak peka akan kondisi yang di alami Fany, tapi sunggu dari hati terdalam, aku sangat mencintai Fany, aku harap umi merestui hubungan kami hingga akhirnya hubungan kami bisa berlabuh dipelaminan."
"Sejak awal, aku mengenal Fany, aku sudah menambatkan hatiku padanya, hanya saja waktu itu, kedua orangtuaku meminta agar aku menyelesaikan study, baru bisa melamar Fanym"
"Tapi, sebelum aku berhasil, Fany malah menghilang hingga akhirnya aku bisa menemukannya saat ini."
"Iya, Fany sudah menceritakan semuanya, hanya saja mendiang Abah Fany sudah menjodohkan dirinya dengan anak temannya."
Umi tampak menunduk, lalu mulai bercerita kembali. Ia mulai menceritakan awal mula, kenapa dia bisa sampai ngedrop dan bisa mengetahui kalau dirinya kena kanker otak.
"Jadi, sebenarnya Fany tidak pernah setuju akan perjodohan ini karena ia mencintaimu. Hingga kondisi abah semakin drop dan meninggal."
"Karena rasa bersalah, hal itu semakin membebani fikiran Fany hingga ia sakit-sakitan, dan ia pun dilarikan ke Rumah Sakit dan vonis itu diberikan."
"Tak mau menyakitimu, dia memilih pergi dan menerima perjodohan itu, sayang calon suaminya juga meninggal di dalam sebuah kecelakan."
"Sejak saat itu ia tak mau bertemu dengan siapapun, dan umi membawanya pergi dari kota itu dan tinggal di sini."
"Nah saat kamu bertemu dengan Fany itu, karena saat itu kami sedang ada acara di sini, acara satu tahun meninggalnya almarhum Ayah Fany."
__ADS_1
Melihat calon mertuanya bersedih, dr. Richard mulai tak enak pada beliau.
"Maaf, Umi, aku tak bermaksud membuka luka lama umi."
"Nggak apa-apa yang terpenting saat ini, tidak ada kesalahpahaman diantara kalian lagi."
"Terima kasih, Umi."
"Sama-sama."
"Oh, ya, jadi Umi merestui kami bukan?"
"Tentu saja, kenapa tidak. Selama Fany bahagia, Umi akan jauh lebih bahagia."
"Terima kasih."
Akhirnya pertemuan mereka berakhir. Lalu mereka kembali ke ruang perawatan Fany.
Melihat ibu dan dr. Richard kembali membuat kakak laki-laki Fany berdiri dari tempat duduknya.
"Duduk!" instruksi Ibunda Fany.
"Ta-tapi ...."
"Umi sudah merestui mereka!"
"Umi! lelaki ini yang sudah menyakiti hati Fany kenapa malah Umi restui!"
Tampak sekali kakak laki-laki Fany belum terima dengan keadaan ini. Hingga ia akhirnya lebih memilih pergi ketimbang satu tempat dengan ibunda dan lelaki itu.
Melihat hal itu, dr. Richard memikirkan cara agar ia bisa mendekati Kakak laki-laki Fany. Tetapi mungkin tidak untuk sekarang.
.
.
...🌹Bersambung🌹...
.
.
...Jangan lupa VOTE/GIFT 🌹 atau ☕ nya, ya kak, makasih🙏...
__ADS_1