
Akhirnya dr. Richard bertemu dengan Fany saat ia sedang melakukan pemeriksaan rutin. Tak sengaja hari itu dia baru saja melamar untuk magang di Rumah Sakit tersebut. Pada saat yang sama, ada seorang wanita bercadar melewati dirinya. Sayangnya, ia masih hafal betul dengan aroma parfum favorit Fany.
Saat ia melewati dr. Richard, tak sengaja ia menyenggol lengannya.
"Maaf," seru Fany sambil terus melangkah pergi.
Sejenak pikirannya melayang, lalu saat kesadarannya kembali, ia berbalik lalu mengejar wanita bercadar itu.
"Fannnyyyy!" seru dr. Richard.
Fany yang sedang berjalan seketika menghentikan langkahnya untuk sesaat. Ia hafal betul dengan suara yang memanggilnya barusan. Ingin rasanya ia berlari tetapi kakinya terasa menempel di lantai dan tidak mau bergerak lagi.
"Ya Allah, kenapa engkau pertemukan kembali aku dengannya?" batin Fany.
Tubuh Fany yang membeku direngkuh Richard dari belakang. Dibaliknya sosok wanita bercadar itu, ditatapnya lekat-lekat kedua mata indah Fany.
"Fany, benarkah ini kau? Kenapa kau pergi meninggalkan aku?"
Suara terbata yang keluar dari mulut dr. Richard begitu menyayat hati. Sudut matanya berembun sampai akhirnya ia pun terisak dalam dekapan dr. Richard.
Sahabat dr. Richard ikut terharu dengan pertemuan sahabatnya itu dengan wanita pujaan hatinya. Ia pun menepuk halus lengan dr. Richard dan mengajak mereka untuk mencari tempat yang lebih nyaman untuk mereka berbicara.
Keheningan terjadi beberapa menit kemudian. Sampai akhirnya dr. Richard membuka suara.
"Fany, kenapa kamu meninggalkan aku? Apa aku tidak pernah ada di dalam hati kamu?"
"Tidak penting-kah arti kehadiranku untukmu?"
"Kenapa, kenapa?"
Bukannya menjawab, Fany semakin terisak dalam tangisnya. Tentu saja kebungkaman Fany semakin membuatnya sedih. Tak mau berlama-lama, ia lebih memilih berpindah tempat duduk, dan memeluk pujaan hatinya itu.
Tangan Fany menepis tangan Richard dengan lembut. Tetapi tenaganya kalah jauh ketimbang milik Richard.
__ADS_1
"Aku tak akan pernah melepaskanmu lagi, sampai kapanpun hanya aku yang boleh memilikimu!"
"Mas, lepas, kita bukan muhrim!" tolak Fany.
"Habis ini kita nikah, biar jadi muhrim!"
"Nggak mau, aku sudah menikah!" tolak Fany sekali lagi.
"Nggak mungkin, nggak ada cincin nikah di jemari kamu."
"Serius, aku sudah menikah, Mas."
"Mana ada wanita menikah berjalan sendiri tanpa di dampingi suaminya, apalagi kamu sedang sakit!"
Fany menoleh, "Mas tau aku sakit?"
"Tau, kan aku doktermu."
"Tapi mas kan dokter kandungan?"
"Hust," sontak saja tangan Fany menyentuh bibir dr. Richard agar ia tidak berbicara terus.
Ia begitu kesal karena semua perkataan darinya dipatahkan olehnya. Tetapi hal itu membuat senyum dr. Richard terbit. Apalagi lesung pipitnya muncul ketika ia tersenyum, membuat dinding pembatas yang ia ciptakan menjadi luntur seketika.
"Sayang, apapun alasan dan kondisi kamu, tidak akan pernah bisa menggantikan rasa yang telah tumbuh di dalam sini!" dr. Richard segera menempelkan tangan Fany pada dadanya.
Fany merasa tersentuh oleh semua perhatian dan kasih sayang yang telah diberikan dr. Richard padanya tak pernah berkurang sedikitpun. Kini ia kembali bimbang dengan hatinya sendiri.
"Apa aku harus mengatakan sejujurnya ataukah aku harus membuang rasa ini?" batin Fany.
"Ayo aku temani kamu periksa, sebagai tanda kalau apapun yang akan terjadi nanti aku akan tetap berada di sisimu."
Akhirnya setelah dipaksa, Fany mengikuti smeua kemauan dr. Richard. Hari itu pula ia baru tau kalau kekasihnya itu terkena kanker otak stadium dua.
__ADS_1
Bagaikan disambar petir di siang bolong, dr. Richard menguatkan hatinya setelah mengetahui kebenaran dibalik menghilangnya sosok Fany. Wanita manis dan ceria itu kini menutup tubuhnya dengan memilih berhijrah. Ia tak mau terlihat menyedihkan ketika melihat pandangan dari orang-orang terdekatnya.
Tetapi Fany tak mau menjanjikan ketidakpastian pada dr. Richard. Ia tau hidupnya mungkin tidak akan lama lagi. Oleh karena itu, ia pun memutuskan tali ikatan cinta mereka hari itu.
Sejak saat itu, mereka loss contact. Dokter Richard memilih untuk tidak membebani pikiran kekasih hatinya itu dan memilih berpura-pura pergi. Padahal sampai detik ini, ia masih memantau perkembangan kesehatan kekasihnya itu.
>>FLASH BACK OFF
"Jadi sampai saat ini, dokter lebih memilih untuk tidak pernah menemuinya kembali?"
Dokter Richard mengangguk pelan. Tatapannya begitu sendu. Hingga akhirnya, Candy menyemangatinya agar dr. Richard lebih berani mengejar cintanya.
"Saya memang bukan ahli cinta dokter. Tetapi sebagai sesama perempuan, jika saya sudah mencintai satu orang, sampai kapanpun, saya akan mempertahankan cinta itu. Dan tak akan pernah ada yang bisa mematahkan cinta saya kecuali kematian."
Dokter Richard menengadah lalu ia mulai memberanikan diri untuk melihat wajah Candy. Ia mencoba melihat kesungguhan dari ucapan Candy barusan.
Candy memang sama seperti Fany yang ia kenal. Tatapan yang sama, tutur kata yang lembut membuatnya sadar, mungkin selama ini yang membuatnya dekat dengan Candy adalah kesamaan yang ia dapatkan jika ia berdekatan dengan Fany.
"Jadi ...."
"Kejarlah cintamu dokter."
Candy mengucapkan hal itu agar setidaknya dr. Richard bisa menyemangati Fany di saat-saat terpenting dalam hidupnya.
"Terima kasih, Candy."
Setelah itu, ia pun berpamitan dan segera memesan tiket penerbangan selanjutnya untuk mengejar cintanya.
.
.
...Alhamdulillah, akhirnya bisa up 2 kali lagi, semoga kalian semakin suka dengan karya Fany ini. Terima kasih....
__ADS_1
...🌹Bersambung🌹...
Oh ya jangan lupa dukungan like, rate dan favorit ya kak. Jangan lupa 🌹☕ dan VOTE untuk menyemangati Author, makasih banyak🙏🤗