Berbagi Cinta: CEO-KU YANG BODOH

Berbagi Cinta: CEO-KU YANG BODOH
NGEDROP


__ADS_3

Setelah menemui ibunya, kini Candy dan Ezza sudah kembali ke kamar. Kebetulan sebelum kembali mereka sudah membawa Baby Kayla turut serta.


"Hm, makin gembul aja nih, putri Papa."


Ezza pun menimang-nimang putrinya dengan penuh kasih sayang, tak lupa sesekali ia mencium bayi mungil itu. Sementara itu, Candy masih memerah ASI untuk babynya.


Ezza heran, kenapa masih diperah lagi, bukankah mereka tak akan bepergian jauh, pikir Ezza. Tetapi karena penasaran, Ezza tetap mendekati istrinya.


"Emang kamu mau kemana, Sayang?" tanya Ezza sambil terus memperhatikan istrinya itu.


"Eh, enggak kemana-mana, Mas. Cuma sayang aja, kalau enggak di perah, malah merembes."


"Kan sayang kalau mubadzir," ucap Candy dengan cueknya.


"Perasaan pas Daffin dulu nggak gitu deh!"


"Enggak tau, Mas, soalnya Baby Kayla nggak sekuat saat Daffin dulu. Mungkin karena bayi perempuan dan cowok itu berbeda."


"Oh ...."


"I-itu, Kayla sudah bubuk?"


"Udah."


"Kenapa nggak ditidurin aja!"


"Hm, kapan lagi bisa gendong-gendong kayak gini. Lagi pula nanti kalau udah masuk kerja, bakal aku yang kerepotan, Mas."

__ADS_1


Salah satu alis Ezza terangkat ke atas. "Kok, bisa?"


"Bisa, lah, Mas."


Candy menaruh pompa ASI miliknya lalu membetulkan bajunya. Tak lupa ia menutup rapat botol ASI itu sebelum ia mengambil Baby Kayla dari gendongan Ezza.


Setelah itu, Candy mulai menaruhnya pada box bayi. Ezza masih terheran dengan tingkah istrinya barusan.


Mumpung Baby Kayla sudah di taruh di box bayi, Ezza tak melewatkan kesempatan kali ini. Ia pun merengkuh tubuh istrinya dan mendaratkan dagunya pada ceruk leher milik Candy.


Kedua tangannya ia eratkan pada pinggang Candy yang ramping. Saat ini Ezza memeluk Candy dari belakang.


Perlakuan Ezza yang manis barusan membuat gelenyer aneh di tubuh Candy. Belum lagi perlakuan Ezza yang tiba-tiba menyesap pundak terbuka milik Candy dan mendaratkan ciuman di sana.


"M-masss ..." suara parau milik Candy berhasil lolos.


Ezza semakin menyukai hal itu. Sudah cukup lama ia berpuasa, bolehkah ia menjadi sedikit egois kali ini? Akh, tentu saja boleh, lagi pula mereka masih pasangan yang sah.


Tapi itu tak berlangsung lama, karena ketukan pintu membuat mereka harus menyudahi hal menyenangkan barusan. Ezza tersenyum tipis lalu mengusap lembut bibir Candy. Membersihkan sisa kenakalannya barusan.


"Bi-biar aku yang buka pintu, Mas."


Ezza mengangguk, lalu Candy segera membuka pintu.


"Hosh, hosh, hosh ..."


"Ada apa, Mbak?"

__ADS_1


Wajah Suster Ani terlihat begitu cemas. Dengan terbata ia pun menjelaskan semuanya.


"Apa!" ucap Candy kaget.


Ezza yang mendengar teriakan Candy segera mendekatinya.


"Ada apa?" tanya Ezza sambil memeluk tubuh istrinya itu.


"Ibu, Mas."


"Ya, sudah, segera temani Ibu, kamu hubungi dokter, sekarang!" gertak Ezza pada suster.


"Dih, ganteng tapi galak!" batin Suster Ani.


Setelah itu, mereka segera memanggil pengasuh Baby Kayla dan tak lupa memasukkan botol yang berisi ASI tadi ke dalam freezer. Sementara kini Ezza dan Candy sudah berada di dalam kamar Nyonya Hadi.


Dokter yang menangani Nyonya Hadi sudah datang. Kini ia sedang memeriksanya. Dengan teliti ia memeriksa semua kesehatan Nyonya Hadi. Sesekali beberapa pertanyaan ia berikan pada suster yang bertugas menjaga Nyonya Hadi. Tak lama kemudian ia pun memberikan kesimpulannya pada Ezza dan Candy.


"Bagaimana, dokter?"


"Sebaiknya, Nyonya Hadi di bawa ke Rumah Sakit."


"Kenapa?"


"Karena alat di Rumah Sakit lebih lengkap, Tuan."


.

__ADS_1


.


...🌹Bersambung🌹...


__ADS_2