
Kedua sepasang suami istri itu masih terkulai lemas akibat ulah iseng suaminya tadi. Apalagi sudah lama tak melakukan hal itu membuat Candy maupun Ezza seperti sepasang suami istri yang baru saja menikah.
Pemanasan, olah raga inti, sampai pendinginan membuat mereka kelelahan. Hingga akhirnya dering ponsel membangkitkan Ezza dari rasa lelahnya.
Salah satu tangan Ezza meraih benda pipih berwarna hitam itu, lalu menggeser layar icon pada halaman depan.
"Hallo ..."
"Apa!"
Rupanya ada sedikit masalah di salah satu proyek yang baru saja dikembangkan oleh perusahaan miliknya. Hingga mau tak mau Ezza harus terbang langsung ke kota itu saat ini juga. Tetapi melihat istrinya masih terlelap ia pun terpaksa harus membangunkannya. Ia tak mau membuat sang istri kebingungan, jika saat ia terbangun tak mendapati suami di sisinya.
"Sayang ...." ucap Ezza lembut di salah satu telinga Candy.
"Hm, ada apa, Mas?"
Candy mulai mengerjapkan kedua matanya. Tak lupa ia menutupi tubuhnya yang masih polos itu. Tapi sorot mata suaminya membuatnya bingung.
"Ada apa? Apa ada masalah?" tanya Candy mulai khawatir.
Ezza mengangguk lalu perlahan mulai menceritakan semuanya pada Candy. Candy akhirnya memberikan restu pada suaminya untuk berangkat.
Beberapa saat kemudian, mereka telah mandi dan sudah berpakaian rapi kembali. Tempat yang baru saja mereka obrak-abrik juga sudah sedikit rapi. Lalu Candy mulai mengiringi kepergian suaminya itu. Tampaknya mereka cukup lama mengunci ruangan tersebut, hingga membuat sekretaris baru suaminya tampak murung di tempat duduknya.
Tapi tetap saja ia tak berani melihat atasannya tersebut, apalagi beberapa jam lalu ia sempat memergoki atasannya sedang melakukan pemanasan. Ia juga takut dipecat saat ini, apalagi ia baru beberapa hari bekerja di perusahaan H&W Group.
Gaji yang ditawarkan di sini cukup tinggi, itulah alasan kenapa ia nekad pergi ke kota dan melamar di perusahaan ini.
__ADS_1
Di tangannya sudah ada beberapa berkas yang telah ia masukkan ke dalam sebuah map. Berkas itu akan dipakai atasannya saat ia pergi ke luar kota setelah ini. Benar saja, beberapa saat kemudian, ia melihat atasannya mau pergi, dengan langkah cepat ia pun mengejarnya.
"Ma-maaf Pak. Ini berkas yang harus Bapak bawa saya sudah menyiapkannya sedari tadi," ucapnya sambil menunduk.
Tak lupa satu buah map ia serahkan pada Ezza.
"Terima kasih."
Setelah melihat judul pada map tersebut ia pun melenggang pergi bersamaan dengan tangan lainnya menggenggam tangan istrinya, Candy.
Candy pun segera mengiringi langkah suaminya pergi ke lobby. Belum sempat ia pergi, mobil Tuan Hadi menghalangi mobil yang akan dipakai Ezza untuk pergi.
"Papa ...." seru Candy dan Ezza bersamaan.
Tuan Hadi melangkah mendekati mereka berdua.
"Tapi, Pa."
"Barusan Papa sudah kasih tahu mereka secara langsung. Kalian tenang saja, lebih baik kalian pulang dan beristirahatlah."
Candy dan Ezza saling memandang satu sama lain.
"Tapi ini berkas yang harus aku bawa pergi Pa."
"Biar soft copy-nya disalin dan dikirim ke sana. Kamu nggak usah khawatir."
"Hm, oke, kalau begitu kami pulang dulu, Pa," pamit Ezza mewakili Candy.
__ADS_1
"Oke, hati-hati."
Setelah berpamitan Ezza dan Candy benar-benar menuju rumah mereka. Meski ada banyak pertanyaan yang menghinggapi Ezza tapi ia berusaha memahami perintah ayahnya. Mungkin saat ini ia belum diberi tau alasan sebenarnya hingga keberangkatannya tergantikan oleh orang lain.
Melihat kepergian mobil anak dan menantunya Tuan Hadi sedikit bernafas lega. Ia tak mau anaknya menjadi umpan empuk bagi rival bisnisnya. Oleh karena itu ia pun harus bermain cantik kali ini. Soal menjelaskannya bisa mereka lakukan setelah sampai di rumah nanti. Yang jelas saat ini ia sukses menghalanginya pergi.
...๐๐๐...
Di dalam perjalanan.
"Seperti ada yang aneh dengan sikap Papa tadi ya, Mas."
"Hm, jangan dipikirkan, nanti kita bicarakan di rumah saja!" ucap Ezza lembut sambil mengusap lembut kepala Candy.
Tentu saja di mobil bukanlah tempat yang tepat untuk membicarakan hal penting seperti saat ini. Karena ia pun tidak bisa menjamin keamanan informasi saat berada di sana. Pengalaman beberapa tahun berkecimpung di dunia bisnis, sedikit banyak membuat Ezza harus bertindak ekstra hati-hati.
Meski terlihat menikmati perlakuan manis suaminya. Tetapi insting seorang istri sangatlah peka terhadap situasi saat ini.
"Mungkin ada masalah serius kali ini, hingga membuat Mas Ezza dan Papa bertindak seperti ini. Semoga saja tidak terjadi hal yang serius kali ini dan semoga semuanya akan baik-baik saja. Aamiin."
Candy memanjatkan doanya ketika dalam perjalanan pulang saat ini. Baginya sedikit saja ketidaknyamanan yang dirasakan suaminya juga akan berdampak pada dirinya. Oleh karena itu ia pun harus mulai bersikap waspada.
.
.
...๐นBersambung๐น...
__ADS_1